Book Thermal Oil Heater

Manual Book Thermal Oil Heater

KATA PENGANTAR

Alhamdulillaah, dengan mengucap puji dan syukur ke hadirat Allah Subhanahu Wata’aalaa, guidance manual ini telah disusun guna memudahkan pengguna unit Warm Oil Radiator (TOH) PT Indira Dwi Mitr.Kami berharap guidance manual book ini bisa menjadi pedoman bagi client, terutama Administrator yang akan menjalankan unit TOH ini.

Pada setiap bab dijelaskan mengenai penjelasan-penjelasan unit, cara pengoprasian, pemeliharaan prosedur keselamatan dan lain-lain.Besar harapan kami, Administrator dapat menjalankan tugasnya sesuai prosedur keselamatan, karena “keselamatan kerja” harus menjadi prioritas untuk mencapai target yang diharapkan dari unit TOH.Semoga bermanfaat.

Thermal Oil Heater Efisiensi Heating Industri Aman dan Andal

BAB 1PENGERTIAN Warm OIL HEATER UMUM

Thermal Oil Warmer adalah jenis mesin exchange pemanas dengan mengunakan Warm Oil Liquid (Oli mineral) sebagai media penghantar panas dan dapat bekerja sampai temperatur 320 °C atau lebih, sesuai spesifikasi Oli nya.

Berbeda dengan steam yang mencapai tekanan 70 bar untuk pemakaian temperatur 285 °C, Warm Oil Radiator bekerja hanya pada tekanan pompa sirkulasinya saja sehingga lebih aman dan alat-alat yang membutuhkan pemanasan tidak perlu dirancang dengan konstruksi yangUmur kerja Warm Oil Liquid (pada framework TOH yang baik) umumnya lebih dari 5 tahun dan tidak diperlukan penambahan selama tidak ada kebocoran pada pipa-pipa atau peralatan pemanas, dan tidak memerlukan pembersihan karena bagian dalam loop pemanas tidak berkerak seperti pada Steam

KEUNGGULAN Warm OIL Warmer DIBANDINGKAN Evaporator STEAM Beberapa hal yang bisa dijadikan pertimbangan kenapa harus memilih warm oilBekerja pada temperatur tinggi dengan tekanan rendahTemperatur control yang presisiTidak memerlukan perawatan OliTidak ada heat misfortunes dari condensate dan blowdown seperti pada steam boilerTidak ada korosi pada bagian dalam pipa TOHBiaya pemeliharaan rendahOperasional Full Programmed dan mudah sehingga tidak memerlukan administrator khusus

DESAIN Thermal Oil

bisa disuplai dalam konstruksi Vertikal guna menghemat ruangan dan efisien karena mempergunakan Incorporated Beberapa jenis burner di desain bisa menggunakan udara panas dengan menggunakan “Air Pre Warmer”, yaitu dengan memanfaatkan gas buang sisa pembakaran sehingga pembakaran bahan bakar (cair) lebih sempurna. Atau Warm Oil di desain Level, tergantung kebutuhan pengguna.”Heating Curl” terbuat dari Consistent Heater Cylinder yang dirol secara constant.

Setiap sambungan las dikerjakan dengan teliti, dan “Weight Test” dengan media gas sampai 1,5 kali tekanan operasi. Oli mengalir didalam curl dengan kecepatan tertentu untuk menghindarkan overheating, yang dapat mengakibatkan kerusakan Oli akibat terbentuknya arang.

Gas panas hasil pembakaran memanaskan aliran warm oil diruang bakar sebagai panas radiasi dan selanjutnya memanaskan oil di loop konveksi melalui sela-sela antar loop dengan kecepatan yang tertentu dalam 3 pass dengan arah berlawanan dengan arah aliran warm Turbulensi yang dihasilkan oleh gas selama melewati loop menghasilkan meningkatnya effisiensi Warmer dan efek pembersihan curl dari jelaga yang mungkin menempel pada bagian luar coil.

INSTRUMENT Warm OIL Setiap unit dilengkapi dengan aksesoris, termasuk didalamnya adalah:Heating Curl/unit TOH lengkap dengan coverCirculation PumpExpansion TankCollecting TankValve-ValveStrainerDifferential Weight Switch atau Weight Measure with SwitchControl Panel

“PERHATIAN” Thermal oil radiator bisa saja menjadi penyebab kecelakaan serius dan hal itu pernah terjadi. Maka pengguna mesin ini harus menjalankannya sesuai method. Administrator yang menjalankan harus sudah mengikuti pelatihan administrator TOH dan mengikuti petunjuk pengoprasian sesuai client manual yang telah diberikan oleh pembuat

PENJELASAN SISTEM

Thermal oil warmer adalah mesin penghasil panas dengan media Oli yang dipanaskan dalam pipa curl. Umumnya warm oil memiliki instrument yang terdiri dari burner/mesin pembakar bahan bakar, pompa sirkulasi, tangki ekspansi, tangki penyimpanan oli, pipa-pipa dan board kontrol

.Coil TOH di desain berbentuk winding, dipanaskan oleh burner berbahan bakar gas, sun based/light oil, substantial oil/residu atau bahan bakar lain yang bertujuan untuk menaikan suhu Oli ituOli yang telah bersirkulasi dipanaskan sampai temperatur 300 0C atau sesuai kebutuhan.

Oli dipanaskan dalam pipa curl, kemudian ditransfer ke peralatan lain yang membutuhkan panas tersebut. Setela panas diambil/diserap, maka oli dikembalikan ke warmer dengan dorongan pompaExpansion tank diperlukan dalam framework untuk mengantisipasi peluapan ketika oli Tangki penyimpanan oli (gathering tank) juga dirangkaian dalam framework untuk tempat penyimpanan oli, ketika keadaan darurat atau ketika dilakukan pemeliharaan.

KETENTUAN OLI YANG DISARANKAN

 Persyaratan utama Oli untuk exchange panas yang perfect adalah:Titik didih tinggiStabilitas panas yang baikTitik beku rendahSifat perpindahan panas yang baikTidak mudah teroksidasiTidak beracun dan tidak berbauContoh sifat-sifat Oli TOH adalah:Density/kepadatan pada 2000C 760 Kg/m³Spesific Warmth 4 kJ/kgKFlash Point1800CIgnition Point/Titik Bakar 3700CBoiling point/Titik didih 3300CPour point/titik tuang – 180CKoefisien Warm development 00076/0C

FLUE GAS TEMPERATURE LIMITERT

emperature limiter dipasang untuk menghindari panas berlebih pada gas buang yang menggunakan bahan bakar fluid atau gas sebagai bahan bakar. Instrument ini juga berfungsi sebagai pendeteksi kebocoran Oli dalam ruang bakar. Jika hal itu terjadi, maka cairan akan terbakar dan meninggalkan jelaga yang terus menempel dan menumpuk, akhirnya akan menyebabkan panas yang berlebih pada gas

FLAME DETECTOR

Ketika terjadi gagal programming interface pada burner dengan bahan bakar cair atau gas, fire identifier akan menangkap sinyal bahwa tidak adanya pembakaran di dalam ruang bakar. Maka fire identifier akan memerintahkan burner untuk memutuskan suplai bahan bakar, sehingga tidak terjadi penumpukan bahan bakar di ruangFungsi dari fire indicator harus di periksa setiap hari dan dicatat.

Tarik sensor programming interface/fire identifier dari soketnya lalu diuji dengan menutupi kaca fire indicator tersebut, hanya untuk sebatas melihat fungsi framework yang seharusnya bahan bakar tidak tersuplai dan berhenti segera secaraT

HERMAL OIL Stream

LIMITER Flow limiter adalah peralatan wellbeing untuk membaca aliran dalam curl. Pada umumnya menggunakan “differential weight switch” yang diinstal pada outlet warm oil warmer. Beberapa pabrikan memasang “weight check with switch” untuk membaca tekanan oli npada curl nya.

Apabila tekanan kurang dari yang disarankan atau melebihi tekanan oprasi typical, maka burner akan dimatikan kan secara otomatis. Hal ini terjadi aapabila ditemukan penyumbatan pada pipa Oli atau pompa sirkulasi tidak berjalan

EXPANSION TANK LOW LEVEL

 Pada extension tank disarankan dilengkapi dengan pelampung level Oli. Setiap oli panas yang hilang akibat kebocoran ditunjukan dengan matinya Kebocoran ini biasanya ditemukan di pipa heater, seal pompa sirkulasi, spine dan pipa di line framework. Jika kebocoran ini terjadi didalam tungku pemanas, maka akan mengakibatkan ledakan.

KONTROL Warm OIL HEATER

Parameter utama dari warm oil warmer adalah dari temperature Tekanan tidak begitu berpengaruh karena perbedaan tekanan tidak akan mempengaruhi suhu oprasinya. Tekanan dalam framework warm oil pada dasarnya hanya tekanan pompa sirkulasi saja.Ketika suhu oli di dalam unit telah mencapai pengaturan batas suhu atas, input panas dari pembakaran burner (atau tungku) akan dihentikan, namun sirkulasi tetap terus Ketika suhu kembali menurun, maka burner akan menyala lagi setelah diperintah nyala oleh temperature controller.

BAB 2 PENGOPRASIAN DAN PEMELIHARAAN PERSYARATAN KOMPETENSI PERSONAL

Thermal oil warmer adalah salah satu type dari mesin exchange panas, harus dioperasikan di bawah pengawasan langsung dari orang yang kompeten yang telah mengikuti pelatihan pengoprasian

PERSIAPAN SEBELUM MENGOPRASIKAN Warm OIL HEATER

Prosedur berikut ini harus diikuti sebelum menyalakan unit warm oil heater:Baca dengan seksama intruksi pengoprasian warm oil radiator secaraPeriksa kondisi TOH, lihat tekanan kerja dan suhu pengoprasian maksimum yangPeriksa TOH dan instrument yang terpasang untuk memastikan masih bisa digunakan dalam kondisiPeriksa sistem bahan bakar termasuk tangki bahan bakar dan valve nya.Bersihkan channel di selang bahan bakar minyak dan channel Oli (jika diperlukan).Periksa apakah level oli di tangki ekspansi ordinary dan semua pipa bebas dariPeriksa apakah sistem elektrik bekerja denganPeriksa apakah ruang kettle bersih dan berventilasiPeriksa ketersediaan

PROSEDUR MENYALAKAN Warm OIL Radiator

DENGAN BAHAN NAKAR Sun based ATAU GAS Sebelum burner dinyalakan, ruang bakar harus benar-benar bersih untuk menghindari ledakan dari bahan bakar yang terkumpul dalam ruang Compositions pembersihan harus diulang setiap kali pembakaran dimulai.Waktu yang diperlukan untuk menaikkan suhu Oli dari kondisi dingin menuju suhu operasi yang diperlukan harus mengikuti rekomendasi pembuat thermal

Studi Kasus: Pemantauan Operasional Thermal Oil Boiler di Pabrik

Sebuah fasilitas industri menggunakan Thermal Oil Boiler untuk menyediakan panas bagi proses produksi. Sistem beroperasi dalam durasi panjang sehingga kestabilan temperatur, tekanan, dan sirkulasi thermal oil menjadi faktor penting untuk menjaga kontinuitas produksi.

Dalam suatu periode operasi, operator menemukan adanya fluktuasi temperatur dan suara tidak normal pada jaringan perpipaan. Kondisi tersebut menjadi indikasi bahwa sistem perlu diperiksa sebelum berkembang menjadi gangguan yang lebih serius.

Kondisi yang Ditemukan Operator

Selama inspeksi rutin Thermal Oil Boiler, operator menemukan beberapa kondisi berikut:

  • temperatur outlet mengalami fluktuasi;
  • terdapat suara dan getaran pada bagian tertentu dari perpipaan;
  • tekanan sirkulasi tidak sestabil kondisi normal;
  • level thermal oil pada expansion tank berubah;
  • terdapat perbedaan temperatur supply dan return yang tidak seperti kondisi operasi biasanya; dan
  • pompa sirkulasi mengeluarkan suara yang perlu diperiksa lebih lanjut.

Temuan tersebut tidak langsung menunjukkan satu penyebab tertentu. Karena itu, pemeriksaan dilakukan secara sistematis terhadap parameter operasi dan komponen utama.

1. Pemeriksaan Tekanan, Temperatur, dan Flow

Langkah pertama adalah membandingkan tekanan, temperatur, dan flow thermal oil dengan parameter operasi normal serta batas yang ditentukan oleh desain sistem.

Perubahan flow dapat memengaruhi perpindahan panas dan temperatur fluida. Sirkulasi yang terlalu rendah juga perlu mendapat perhatian karena heater membutuhkan aliran thermal oil yang memadai untuk membawa panas dari permukaan pemanas.

Operator kemudian memeriksa indikator tekanan, temperatur inlet dan outlet, serta kondisi pompa sirkulasi.

2. Pemeriksaan Level Oil pada Expansion Tank

Level thermal oil di expansion tank diperiksa pada kondisi operasi yang sesuai.

Expansion tank harus menyediakan ruang yang cukup untuk mengakomodasi perubahan volume thermal oil akibat kenaikan temperatur.

Perubahan level yang tidak normal dapat menjadi petunjuk adanya perubahan kondisi sistem. Namun, diagnosis tidak boleh hanya berdasarkan indikator level karena temperatur fluida juga memengaruhi volumenya.

Operator perlu membandingkan level dengan temperatur dan kondisi operasi pada saat pengukuran dilakukan.

3. Pemeriksaan Suara dan Getaran pada Pipa

Suara dan guncangan yang tidak normal pada jaringan pipa membutuhkan perhatian khusus.

Salah satu kemungkinan yang perlu diperiksa adalah keberadaan air atau uap di dalam sistem thermal oil, terutama setelah pengisian fluida, maintenance, atau apabila terdapat kemungkinan kontaminasi.

Ketika air mengalami pemanasan, pembentukan uap dapat mengganggu kestabilan aliran.

Selain keberadaan air, operator juga perlu mempertimbangkan kemungkinan lain seperti masalah support perpipaan, perubahan kondisi pompa, gas yang terperangkap, atau kondisi mekanis lainnya.

4. Pemeriksaan Temperatur Inlet dan Outlet

Perbedaan temperatur antara inlet dan outlet Thermal Oil Boiler merupakan salah satu parameter penting untuk memantau kondisi sistem.

Operator membandingkan temperatur aktual dengan data operasi normal.

Perubahan temperature differential dapat berkaitan dengan perubahan beban proses maupun kondisi sirkulasi. Oleh karena itu, data temperatur perlu dianalisis bersama flow, tekanan, firing rate, dan kebutuhan panas dari pengguna.

Tren data historis sangat membantu karena operator dapat melihat apakah perubahan terjadi secara tiba-tiba atau bertahap.

5. Pemeriksaan Kondisi Pembakaran

Pada Thermal Oil Boiler berbahan bakar gas atau bahan bakar cair, operator juga melakukan pemeriksaan terhadap sistem burner dan kondisi pembakaran.

Pemeriksaan dapat mencakup kestabilan nyala api, kondisi burner, tekanan bahan bakar, suplai udara pembakaran, serta parameter keselamatan yang tersedia pada sistem.

Pembakaran yang tidak sesuai dapat memengaruhi efisiensi pemanasan dan kondisi operasi heater.

Penyetelan burner dan pemeriksaan sistem keselamatan harus dilakukan oleh personel yang kompeten sesuai prosedur dan spesifikasi peralatan.

6. Pemeriksaan Kebocoran Thermal Oil

Seluruh jaringan kemudian diperiksa untuk mendeteksi tanda-tanda kebocoran thermal oil.

Perhatian diberikan pada area yang memiliki sambungan atau komponen bergerak, seperti:

  • flange dan gasket;
  • valve;
  • sambungan instrumentasi;
  • pompa sirkulasi;
  • mechanical seal;
  • drain dan vent; serta
  • sambungan perpipaan lainnya.

Kebocoran thermal oil, khususnya di sekitar permukaan panas atau sumber penyalaan, merupakan kondisi yang harus ditangani sesuai prosedur keselamatan fasilitas.

7. Pemeriksaan Pompa Thermal Oil

Pompa sirkulasi diperiksa karena komponen ini memiliki peran penting dalam mempertahankan flow thermal oil.

Operator mengamati suara, vibrasi, tekanan suction dan discharge, temperatur bearing apabila tersedia, kondisi mechanical seal, serta performa motor penggerak.

Jika terdapat indikasi kavitasi atau gangguan aliran, pemeriksaan juga diarahkan pada kondisi sisi suction, keberadaan gas dalam fluida, level sistem, dan kemungkinan hambatan aliran.

Tindakan Perbaikan

Berdasarkan hasil inspeksi, fasilitas melakukan pemeriksaan dan penanganan sesuai penyebab yang ditemukan.

Sistem diperiksa terhadap kemungkinan udara atau kelembapan yang terperangkap. Prosedur degassing dilakukan sesuai desain dan prosedur operasi fasilitas. Kondisi pompa dan jaringan perpipaan juga diperiksa, sedangkan parameter burner disesuaikan berdasarkan spesifikasi peralatan oleh personel yang berwenang.

Setelah kondisi sistem kembali stabil, operator mencatat tekanan, temperatur, flow, level expansion tank, dan temperatur inlet-outlet sebagai baseline operasi.

Data tersebut selanjutnya digunakan sebagai pembanding dalam inspeksi harian.

Hasil Pemantauan

Setelah tindakan korektif dilakukan, parameter operasi kembali stabil dan suara abnormal pada jaringan perpipaan tidak lagi ditemukan pada kondisi operasi normal.

Kasus ini menunjukkan bahwa pemantauan Thermal Oil Boiler selama operasional tidak cukup hanya melihat temperatur outlet.

Tekanan, temperatur, flow, level expansion tank, kondisi pembakaran, temperatur inlet dan outlet, kebocoran, vibrasi, serta kondisi pompa perlu dievaluasi sebagai satu kesatuan.

Checklist Pemantauan Thermal Oil Boiler

Selama Thermal Oil Boiler beroperasi, operator sebaiknya memiliki checklist rutin yang setidaknya mencakup:

Tekanan: catat tekanan sistem dan bandingkan dengan rentang operasi normal.

Temperatur: monitor temperatur inlet, outlet, dan titik penting lainnya.

Flow: pastikan sirkulasi thermal oil berada dalam batas yang ditetapkan oleh desain dan produsen peralatan.

Expansion tank: periksa level thermal oil dan kondisi tangki.

Pembakaran: amati kondisi burner dan kestabilan pembakaran pada unit berbahan bakar.

Pipa: perhatikan suara, getaran, dan indikasi kebocoran.

Pompa: monitor suara, vibrasi, tekanan, seal, bearing, dan motor.

Kebocoran: lakukan inspeksi pada flange, valve, gasket, seal, serta sambungan perpipaan.

ΔT inlet-outlet: catat dan bandingkan dengan tren operasi normal.

Pelajaran dari Studi Kasus

Pemantauan secara rutin memungkinkan perubahan kondisi Thermal Oil Boiler diketahui lebih awal sebelum berkembang menjadi shutdown atau kerusakan peralatan.

Hal terpenting bukan hanya mencatat angka, tetapi membangun tren data operasional. Dengan membandingkan tekanan, temperatur, flow, ΔT, level expansion tank, dan kondisi pompa dari waktu ke waktu, operator dapat mengenali perubahan performa sistem lebih cepat.

Setiap nilai alarm, batas operasi, serta tindakan korektif harus mengikuti desain Thermal Oil Boiler, manual produsen, karakteristik thermal oil yang digunakan, dan prosedur keselamatan fasilitas.

Studi Kasus Thermal Oil Heater: Meningkatkan Efisiensi Heating Industri

Sebuah fasilitas manufaktur membutuhkan sumber panas yang stabil untuk mendukung proses produksi dengan temperatur kerja tinggi. Sebelumnya, proses pemanasan mengalami fluktuasi temperatur yang menyebabkan waktu heat-up tidak konsisten dan pengendalian temperatur proses menjadi kurang optimal.

Untuk meningkatkan kestabilan proses, fasilitas menggunakan Thermal Oil Heater sebagai sistem pemanas tidak langsung dengan thermal oil sebagai media pembawa panas.

Permasalahan di Lapangan

Beberapa kondisi yang menjadi perhatian pada sistem pemanasan antara lain:

  • kebutuhan temperatur proses yang tinggi dan stabil;
  • distribusi panas ke beberapa pengguna;
  • kebutuhan kontrol temperatur yang lebih presisi;
  • konsumsi energi yang perlu dikendalikan;
  • kebutuhan operasi dalam durasi panjang; dan
  • tuntutan terhadap keselamatan dan keandalan sistem heating.

Permasalahan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kapasitas heater. Flow thermal oil, desain perpipaan, performa burner, pompa sirkulasi, expansion tank, dan sistem kontrol juga berpengaruh terhadap performa keseluruhan.

Solusi Menggunakan Thermal Oil Heater

Thermal Oil Heater digunakan untuk memanaskan fluida termal yang kemudian disirkulasikan oleh pompa menuju peralatan proses.

Setelah panas diserap oleh pengguna, thermal oil dengan temperatur lebih rendah kembali menuju heater untuk dipanaskan kembali. Siklus tersebut berlangsung secara kontinu dalam sistem tertutup.

Konfigurasi ini memungkinkan energi panas didistribusikan ke berbagai kebutuhan proses seperti heat exchanger, reactor, dryer, oven, tank heating, dan peralatan produksi lainnya.

Optimasi Efisiensi Sistem

Untuk memperoleh performa yang optimal, evaluasi dilakukan pada beberapa parameter utama.

Temperatur inlet dan outlet dipantau untuk mengetahui perubahan temperatur thermal oil setelah melewati heater.

Flow thermal oil dijaga sesuai kebutuhan desain sehingga panas dari heater dapat dibawa menuju pengguna secara efektif.

Kondisi pembakaran burner diperiksa untuk memastikan suplai bahan bakar dan udara pembakaran berada pada kondisi yang sesuai.

Selain itu, kondisi insulasi perpipaan diperiksa untuk mengurangi kehilangan panas selama thermal oil didistribusikan menuju peralatan proses.

Pemantauan Expansion Tank dan Pompa

Expansion tank menjadi bagian penting karena volume thermal oil berubah ketika temperatur meningkat.

Level fluida dipantau untuk memastikan sistem memiliki ruang yang memadai untuk mengakomodasi ekspansi thermal oil.

Pompa sirkulasi juga diperiksa melalui parameter seperti tekanan suction dan discharge, suara, vibrasi, kondisi seal, serta kestabilan flow.

Gangguan pada pompa dapat menyebabkan penurunan sirkulasi sehingga performa perpindahan panas ikut terganggu.

Hasil Setelah Optimasi

Setelah sistem dioperasikan dengan parameter yang sesuai, distribusi temperatur menuju peralatan proses menjadi lebih stabil. Operator juga dapat melakukan pemantauan berdasarkan tekanan, temperatur, flow, level expansion tank, dan kondisi pompa.

Stabilitas tersebut membantu proses produksi mempertahankan temperatur sesuai kebutuhan dan mempermudah operator mengenali perubahan kondisi sistem sejak dini.

Efisiensi aktual tetap bergantung pada desain heater, beban proses, jenis bahan bakar, kondisi burner, temperatur operasi, thermal oil yang digunakan, serta kehilangan panas pada jaringan.

Aspek Keselamatan Thermal Oil Heater

Keandalan Thermal Oil Heater industri tidak dapat dipisahkan dari sistem keselamatannya.

Beberapa kondisi penting yang perlu dimonitor meliputi:

  • temperatur thermal oil terlalu tinggi;
  • flow thermal oil terlalu rendah;
  • kegagalan burner atau nyala api;
  • tekanan sistem abnormal;
  • kebocoran thermal oil;
  • gangguan pompa sirkulasi; dan
  • level expansion tank yang tidak sesuai.

Interlock dan alarm harus mengikuti desain serta rekomendasi produsen peralatan. Sistem proteksi tidak boleh dinonaktifkan hanya untuk mempertahankan operasi produksi.

Kesimpulan Studi Kasus

Studi kasus ini menunjukkan bahwa performa Thermal Oil Heater tidak hanya ditentukan oleh heater itu sendiri. Efisiensi dan keandalan merupakan hasil kerja seluruh sistem, mulai dari burner, coil heater, pompa sirkulasi, expansion tank, perpipaan, insulasi, instrumentasi hingga kontrol.

Dengan desain yang tepat serta pemantauan tekanan, temperatur, flow, pembakaran, dan kondisi thermal oil secara berkala, sistem dapat memberikan pemanasan proses yang stabil sekaligus membantu mempertahankan keandalan operasi industri.

Untuk kebutuhan Thermal Oil Heater industri, kapasitas dan konfigurasi sistem sebaiknya ditentukan berdasarkan kebutuhan temperatur, beban panas, karakteristik proses, jenis thermal oil, bahan bakar, serta kondisi operasional di lokasi.

PT Indira Mitra Boiler
Office: (021) 352 95874
WhatsApp: +62 813-8866-6204 (Ratman Bejo)
www.indiramitraboiler.co.id
www.burner.co.id
info@indira.co.id
idmratman@gmail.com
Workshop: Tangerang – Indonesia
https://www.youtube.com/@Bejoburnerindonesia

Scroll to Top