Hot Water Boiler Marine
Hot Water Boiler Marine
Sistem pemanas pada kapal berperan penting dalam menjaga temperatur bahan bakar dan mendukung kelancaran operasi mesin. Pada kapal yang menggunakan Heavy Fuel Oil (HFO), pemanasan diperlukan untuk menurunkan viskositas agar bahan bakar lebih mudah dipompa, dipisahkan, dan disuplai menuju mesin.
Kapal MV Amazon, yang berdasarkan data penelitian merupakan kapal kontainer milik PT SPILL Indonesia, menggunakan steam boiler untuk memanaskan HFO bunker tank, settling tank, daily service tank, jalur bahan bakar, serta beberapa peralatan pendukung. Namun, penggunaan steam boiler membutuhkan pengolahan air, sistem blowdown, steam trap, condensate return, dan pemeliharaan pressure equipment.
Oleh karena itu, dilakukan studi teknis dan ekonomi untuk membandingkan sistem existing dengan thermal oil boiler marine. Analisis teknis bertujuan menentukan kapasitas heater, jenis thermal fluid, flow circulation pump, supply pump, piping, heat exchanger, dan sistem kontrol yang sesuai untuk kapal MV Amazon.
Sementara itu, analisis ekonomi membandingkan beberapa komponen biaya, antara lain:
- Investasi peralatan
- Biaya instalasi
- Biaya thermal fluid
- Biaya bahan bakar
- Biaya pompa dan listrik
- Biaya pemeliharaan
- Biaya modifikasi sistem
- Potensi penghematan selama operasi
Berdasarkan hasil perhitungan dalam penelitian, kebutuhan thermal oil heater untuk MV Amazon diperoleh sekitar 581 kW. Sistem direncanakan menggunakan heat-transfer fluid CALFLO™ LF dari Petro-Canada, circulation pump dengan kapasitas sekitar 21,66 m³/jam, dan supply atau transfer pump sekitar 2 m³/jam.
Hasil analisis ekonomi menunjukkan bahwa investasi awal serta biaya fluida kerja steam boiler lebih rendah dibandingkan thermal oil boiler. Meskipun demikian, biaya bahan bakar thermal oil boiler dalam studi tersebut diperkirakan lebih ekonomis daripada steam boiler.
Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa pemilihan sistem tidak boleh hanya berdasarkan harga pembelian. Biaya operasi, efisiensi, jam kerja, kebutuhan steam lain di kapal, harga bahan bakar, umur thermal oil, ruang instalasi, dan persyaratan class juga harus dianalisis.
Ringkasan Data Perencanaan
| Parameter | Data Hasil Studi |
|---|---|
| Kapal | MV Amazon |
| Jenis kapal | Kapal kontainer |
| Sistem existing | Steam boiler |
| Sistem yang dianalisis | Thermal oil boiler |
| Media yang dipanaskan | HFO |
| Kapasitas thermal oil heater | ±581 kW |
| Setara kapasitas panas | ±499.700 kcal/jam |
| Thermal fluid | Petro-Canada CALFLO™ LF |
| Flow circulation pump | ±21,66 m³/jam |
| Kapasitas supply pump | ±2 m³/jam |
| Fokus analisis | Teknis dan ekonomi |
Kapasitas 581 kW setara dengan sekitar:
581×860=499.660 kcal/jam
Dengan demikian, kapasitas awal thermal oil heater berada pada kelas sekitar 500.000 kcal/jam. Burner harus dipilih berdasarkan kebutuhan input panas setelah memperhitungkan efisiensi heater dan safety margin.
Tujuan Konversi Sistem Pemanas
Konversi dari steam boiler menuju thermal oil heater bertujuan mengevaluasi kemungkinan penggunaan sistem yang lebih sederhana untuk pemanasan HFO.
Thermal oil heater tidak membutuhkan steam trap, blowdown, atau condensate return. Selain itu, fluida dapat menghasilkan temperatur tinggi tanpa tekanan saturasi seperti pada sistem steam.
Namun, konversi tersebut tetap membutuhkan:
- Expansion tank
- Sump tank
- Circulation pump
- Standby pump
- Heat exchanger
- Supply dan return piping
- Flow switch
- Temperature control
- Burner interlock
- Fire-safety system
- Thermal oil analysis
- Persetujuan class society
Thermal Oil Boiler
Pengertian Thermal Oil Boiler
Thermal oil boiler atau thermal oil heater adalah sistem pemanas yang menggunakan minyak pemindah panas sebagai media pembawa energi. Thermal oil dipanaskan di dalam coil heater, kemudian dialirkan menuju peralatan proses menggunakan circulation pump.
Berbeda dengan steam boiler, thermal oil heater tidak mengubah fluida menjadi uap selama kondisi operasi normal. Fluida tetap berada dalam fase cair dan bersirkulasi secara tertutup.
Thermal oil dapat digunakan untuk memanaskan:
- Heat exchanger
- Reactor
- Tank heating coil
- Oven
- Rotary dryer
- Hot press
- Asphalt tank
- CPO tank
- Crude-oil tank
- HFO heating system
- Peralatan proses lainnya
Sistem ini banyak digunakan ketika proses membutuhkan temperatur tinggi dengan kontrol yang stabil.
Cara Kerja Thermal Oil Boiler
Thermal oil dipompa dari sisi return menuju heater. Di dalam heater, fluida mengalir melewati coil dan menerima panas dari gas hasil pembakaran.
Setelah temperatur meningkat, thermal oil bergerak menuju peralatan pengguna. Pada heat exchanger atau heating coil, fluida melepaskan sebagian panasnya ke produk.
Selanjutnya, thermal oil yang temperaturnya lebih rendah kembali menuju circulation pump dan heater. Proses tersebut berlangsung secara terus-menerus selama sistem beroperasi.
Aliran sederhananya adalah:
Circulation Pump → Thermal Oil Heater → Peralatan Proses → Return Line → Circulation Pump
Expansion tank terhubung ke sistem untuk menampung perubahan volume thermal oil ketika temperaturnya meningkat.
Pengaturan Temperatur
Temperature sensor dipasang pada jalur outlet dan return thermal oil. Kemudian, sinyal temperatur dikirim ke controller untuk mengatur kapasitas burner.
Jika temperatur return turun karena kebutuhan proses meningkat, burner akan meningkatkan kapasitas pembakaran. Sebaliknya, output burner turun ketika temperatur thermal oil mendekati set point.
Jenis pengaturan burner dapat berupa:
- One-stage
- Two-stage
- Progressive two-stage
- Modulating
Untuk proses dengan perubahan beban yang besar, burner modulating dapat memberikan kontrol temperatur yang lebih stabil.
Control valve juga dapat dipasang pada masing-masing peralatan pengguna. Valve tersebut mengatur flow thermal oil berdasarkan kebutuhan temperatur proses.
Tekanan Operasi Thermal Oil
Thermal oil heater dapat menghasilkan temperatur sekitar 200–350°C tanpa tekanan saturasi tinggi seperti steam pada temperatur serupa.
Namun, tidak tepat apabila seluruh thermal oil boiler disebut hanya membutuhkan tekanan sekitar 1 bar. Tekanan sistem ditentukan oleh circulation pump dan total hambatan aliran.
Beberapa faktor yang memengaruhi tekanan adalah:
- Pressure drop coil heater
- Panjang serta diameter piping
- Jumlah elbow dan valve
- Strainer
- Heat exchanger
- Viskositas thermal oil
- Flow rate
- Perbedaan elevasi
- Kondisi cold start
Oleh karena itu, design pressure harus ditentukan melalui perhitungan hydraulic dan mechanical design.
Perbandingan Thermal Oil Boiler dan Steam Boiler
Thermal oil boiler dan steam boiler sama-sama digunakan untuk menyediakan energi panas. Meskipun demikian, keduanya memiliki karakteristik operasi, kebutuhan peralatan, pemeliharaan, dan risiko yang berbeda.
Perbandingan Umum
Parameter | Thermal Oil Boiler | Steam Boiler |
|---|---|---|
| Fluida kerja | Thermal oil | Air dan steam |
| Perubahan fase | Tetap cair pada operasi normal | Air berubah menjadi steam |
| Temperatur tinggi | Dicapai pada tekanan relatif rendah | Tekanan naik mengikuti temperatur saturasi |
| Water treatment | Tidak diperlukan | Umumnya diperlukan |
| Blowdown | Tidak seperti steam boiler | Diperlukan |
| Steam trap | Tidak diperlukan | Diperlukan pada jaringan steam |
| Condensate return | Tidak digunakan | Umumnya digunakan |
| Expansion tank | Diperlukan | Tidak seperti sistem thermal oil |
| Circulation pump | Beroperasi terus-menerus | Feed-water pump memasok air boiler |
| Risiko utama | Kebocoran dan kebakaran fluida panas | Steam bertekanan, low-water dan water hammer |
| Analisis fluida | Kualitas thermal oil | Kualitas feed water dan boiler water |
| Aplikasi | Pemanasan tidak langsung | Pemanasan langsung maupun tidak langsung |
Efisiensi Thermal Oil dan Steam Boiler
Thermal oil boiler tidak membutuhkan steam trap, condensate return, atau blowdown seperti pada sistem steam. Oleh karena itu, beberapa sumber kehilangan energi dapat dikurangi.
Pada steam boiler, kehilangan panas dapat berasal dari:
- Blowdown
- Kebocoran steam
- Steam trap yang rusak
- Condensate yang tidak dikembalikan
- Flash steam
- Piping tanpa insulasi
- Temperatur gas buang
- Excess air
Sementara itu, kehilangan energi pada thermal oil system dapat berasal dari:
- Piping tanpa insulasi
- Expansion tank yang terlalu panas
- Temperatur gas buang tinggi
- Excess air
- Coil kotor
- Kebocoran thermal oil
- Flow yang tidak sesuai
- Heater beroperasi pada beban terlalu rendah
Oleh sebab itu, thermal oil heater tidak selalu otomatis lebih efisien 5–8% daripada steam boiler. Nilai efisiensi harus dibandingkan berdasarkan kondisi sistem secara menyeluruh.
Steam boiler yang dilengkapi economizer, condensate return, automatic blowdown, dan combustion control dapat bekerja dengan efisiensi tinggi. Sebaliknya, thermal oil heater yang tidak dirawat dapat mengalami peningkatan konsumsi bahan bakar.
Cara Meningkatkan Efisiensi
Efisiensi kedua sistem dapat ditingkatkan melalui:
- Combustion tuning
- Burner modulating
- Insulasi piping
- Economizer
- Heat recovery
- Pengaturan excess air
- Pembersihan heating surface
- Monitoring temperatur gas buang
- Perawatan pompa dan valve
- Pengoperasian sesuai beban
Persyaratan Operator
Steam boiler merupakan pressure equipment yang tunduk pada peraturan keselamatan di setiap negara. Persyaratan operator, inspeksi, sertifikasi, dan pengawasan berbeda menurut kapasitas, tekanan, serta ketentuan wilayah.
Thermal oil heater dapat memiliki ketentuan berbeda karena tidak menghasilkan steam bertekanan. Namun, sistem ini tetap menggunakan burner, bahan bakar, fluida panas, pompa, dan peralatan keselamatan.
Oleh karena itu, operator thermal oil harus memahami:
- Prosedur start-up
- Prosedur shutdown
- Cold circulation
- Pemanasan bertahap
- Flow minimum
- Expansion tank level
- High-temperature trip
- Burner interlock
- Penanganan kebocoran
- Prosedur keadaan darurat
Jangan menyatakan bahwa thermal oil heater tidak membutuhkan operator khusus tanpa memeriksa peraturan, class, dan ketentuan fasilitas setempat.
Korosi dan Kerusakan Fluida
Korosi pada Steam Boiler
Steam boiler dapat mengalami korosi akibat oksigen terlarut, pH yang tidak sesuai, chloride, carbon dioxide, dan kontaminasi lainnya.
Selain itu, mineral dalam air dapat membentuk kerak pada permukaan tube. Kerak menghambat perpindahan panas dan meningkatkan temperatur logam.
Untuk mengendalikannya, sistem steam membutuhkan:
- Water softener
- Deaerator
- Chemical dosing
- Pemeriksaan pH
- Pemeriksaan hardness
- Pemeriksaan conductivity
- Blowdown
- Analisis boiler water
Kondisi pada Thermal Oil Boiler
Thermal oil tidak membentuk kerak mineral seperti air. Selain itu, fluida mempunyai sifat pelumasan yang membantu komponen circulation pump tertentu.
Namun, sistem thermal oil tidak sepenuhnya bebas korosi atau kerusakan. Permasalahan tetap dapat terjadi akibat:
- Thermal oil teroksidasi
- Temperatur film terlalu tinggi
- Kontaminasi air
- Carbon deposit
- Kebocoran
- Korosi eksternal
- Material yang tidak kompatibel
- Udara masuk melalui expansion tank
- Fluida digunakan melewati umur layanan
Karena itu, sampel thermal oil perlu dianalisis secara berkala.
Parameter pengujiannya dapat mencakup:
- Viscosity
- Flash point
- Acid number
- Carbon residue
- Moisture content
- Insoluble material
- Distillation range
Perbandingan Pemeliharaan
Pemeliharaan Steam Boiler
Perawatan steam boiler dapat mencakup:
- Pemeriksaan steam trap
- Pengujian safety valve
- Water analysis
- Blowdown
- Pembersihan tube
- Pemeriksaan level gauge
- Pengujian low-water cut-off
- Perawatan feed-water pump
- Perawatan deaerator
- Perawatan condensate-return pump
- Pemeriksaan pressure part
- Inspeksi burner
Pemeliharaan Thermal Oil Boiler
Perawatan thermal oil system meliputi:
- Analisis kualitas thermal oil
- Pembersihan strainer
- Pemeriksaan circulation pump
- Pemeriksaan mechanical seal
- Pemeriksaan expansion tank
- Pemeriksaan flow switch
- Pengujian high-temperature limiter
- Pemeriksaan coil
- Pemeriksaan kebocoran
- Combustion tuning
- Pemeriksaan burner
- Pemeriksaan insulasi
Thermal oil tidak membutuhkan steam trap, blowdown, atau chemical water treatment. Meskipun demikian, biaya penggantian thermal oil dapat cukup besar jika fluida mengalami degradasi.
Keselamatan dan Dampak Lingkungan
Steam boiler dan thermal oil heater mempunyai jenis risiko berbeda.
Steam boiler menghadapi risiko:
- Tekanan tinggi
- Kebocoran steam
- Low-water
- Overpressure
- Water hammer
- Kegagalan pressure part
Sementara itu, thermal oil system menghadapi risiko:
- Kebocoran fluida panas
- Kebakaran
- Overheating
- Low-flow pada coil
- Oksidasi thermal oil
- Expansion tank overflow
- Kerusakan mechanical seal
Air boiler yang mengandung chemical tidak boleh dibuang tanpa penanganan yang sesuai. Demikian pula, thermal oil bekas harus dikumpulkan dan dikelola berdasarkan jenis fluida serta ketentuan lingkungan.
Oleh sebab itu, thermal oil tidak boleh dianggap lebih aman tanpa kajian risiko. Sistem tetap membutuhkan fire protection, emergency shutdown, leak control, ventilation, dan operator terlatih.
Perbandingan Biaya Operasional
Air sebagai media steam boiler memiliki harga lebih rendah daripada thermal oil. Namun, steam system membutuhkan water treatment, chemical, blowdown, dan condensate handling.
Sebaliknya, thermal oil memiliki biaya pembelian awal lebih tinggi. Sistem juga membutuhkan volume fluida yang cukup besar untuk mengisi heater, piping, heat exchanger, dan expansion tank.
Biaya thermal oil mencakup:
- Pembelian awal fluida
- Pengisian sistem
- Top-up
- Analisis laboratorium
- Filtrasi
- Penggantian fluida
- Pengelolaan thermal oil bekas
Oleh karena itu, perbandingan biaya harus mencakup investasi dan biaya operasi selama beberapa tahun.
Komponen Perhitungan Biaya
| Biaya | Thermal Oil Boiler | Steam Boiler |
|---|---|---|
| Fluida awal | Relatif tinggi | Relatif rendah |
| Water treatment | Tidak seperti steam | Diperlukan |
| Chemical | Tidak untuk water treatment | Diperlukan sesuai kondisi |
| Blowdown loss | Tidak seperti steam | Ada |
| Steam trap | Tidak digunakan | Membutuhkan inspeksi |
| Daya pompa | Circulation pump terus beroperasi | Feed-water dan condensate pump |
| Analisis fluida | Thermal oil analysis | Water analysis |
| Penggantian media | Thermal oil sesuai kondisi | Make-up water terus digunakan |
| Perawatan burner | Diperlukan | Diperlukan |
Kapan Memilih Thermal Oil Boiler?
Thermal oil heater dapat dipertimbangkan apabila proses membutuhkan:
- Temperatur 200–350°C
- Pemanasan tidak langsung
- Kontrol temperatur stabil
- Tekanan relatif rendah
- Tidak membutuhkan steam sebagai media proses
- Distribusi panas ke beberapa heat exchanger
- Tidak memerlukan humidification atau sterilization dengan steam
Aplikasinya mencakup:
- Pemanasan HFO kapal
- Cargo tank heating
- Asphalt tank
- Reactor chemical
- Hot press
- Rotary dryer
- Oven
- Industri karet
- Industri plastik
- Industri tekstil
- Pengolahan kayu
- Pengolahan minyak
Kapan Memilih Steam Boiler?
Steam boiler lebih sesuai apabila proses membutuhkan:
- Steam untuk kontak langsung
- Sterilization
- Humidification
- Cooking
- Cleaning
- Turbine
- Steam ejector
- Proses yang memanfaatkan latent heat
- Jaringan steam existing
Studi Kasus Penggunaan Thermal Oil Heater untuk Pemanasan HFO pada Kapal MV Amazon
Rumusan Masalah
Sistem pemanasan bahan bakar merupakan bagian penting dalam pengoperasian kapal yang menggunakan Heavy Fuel Oil (HFO). Bahan bakar tersebut memiliki viskositas tinggi sehingga harus dipanaskan sebelum dipompa, dipisahkan, dan disuplai menuju mesin utama atau auxiliary engine.
Berdasarkan kebutuhan tersebut, studi ini membahas beberapa permasalahan berikut:
- Bagaimana rancangan sistem pemanasan HFO menggunakan thermal oil heater yang sesuai untuk diterapkan pada kapal MV Amazon?
- Berapa kapasitas thermal oil heater, circulation pump, heat exchanger, dan piping yang dibutuhkan?
- Bagaimana karakteristik perpindahan panas pada sistem tersebut?
- Bagaimana perbandingan teknis antara thermal oil heater dan steam boiler?
- Apakah penggunaan thermal oil heater memberikan keuntungan ekonomi ketika diterapkan pada kapal MV Amazon?
Batasan Masalah
Agar pembahasan tetap terarah, analisis dibatasi pada beberapa ketentuan berikut:
- Analisis teknis hanya dilakukan terhadap sistem pemanasan bahan bakar HFO.
- Data utama menggunakan informasi teknis kapal MV Amazon.
- Perhitungan kebutuhan panas mengikuti kapasitas tank dan pola operasi kapal.
- Penentuan ketebalan insulasi menggunakan asumsi berdasarkan studi literatur dan rekomendasi material.
- Analisis tidak membahas perubahan struktur kapal secara menyeluruh.
- Perhitungan ekonomi menggunakan harga peralatan, bahan bakar, fluida, dan pekerjaan berdasarkan asumsi yang harus diperbarui.
- Desain final tetap membutuhkan persetujuan pemilik kapal, galangan, konsultan, dan class society.
Tujuan Studi
Studi penggunaan thermal oil heater pada MV Amazon mempunyai beberapa tujuan:
- Memperoleh gambaran teknis instalasi sistem pemanasan HFO menggunakan thermal oil heater.
- Menentukan kebutuhan panas untuk menaikkan dan mempertahankan temperatur HFO.
- Menghitung kebutuhan flow serta head circulation pump.
- Menentukan ukuran awal heater, heat exchanger, piping, dan expansion tank.
- Menganalisis karakter operasi sistem thermal oil.
- Membandingkan kebutuhan pemeliharaan dengan sistem steam.
- Menghitung biaya investasi dan biaya operasi.
- Menilai kelayakan ekonomi perubahan sistem pemanasan.
Manfaat Studi
Hasil studi diharapkan memberikan manfaat berikut:
- Memberikan gambaran sistem pemanasan HFO kepada pemilik kapal.
- Menjadi data awal untuk menentukan kapasitas thermal oil heater.
- Membantu membandingkan thermal oil heater dengan steam boiler.
- Memberikan perkiraan biaya investasi sistem.
- Membantu menghitung biaya bahan bakar dan pemeliharaan.
- Menjadi referensi awal sebelum pembuatan detailed engineering.
- Membantu pemilik kapal menentukan kelayakan konversi sistem.
Dasar Perpindahan Panas pada Boiler dan Thermal Oil Heater
Panas yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar harus dipindahkan secara efektif menuju fluida kerja. Pada steam boiler, fluida tersebut berupa air. Sementara itu, thermal oil heater menggunakan heat-transfer oil.
Perpindahan panas berlangsung melalui tiga mekanisme utama.
Radiasi
Radiasi merupakan perpindahan panas dari flame dan gas pembakaran menuju permukaan coil tanpa memerlukan kontak langsung.
Bagian coil yang menghadap combustion chamber menerima radiasi panas dalam jumlah besar. Oleh karena itu, bentuk furnace, posisi burner, flame length, dan luas permukaan coil sangat memengaruhi perpindahan panas.
Konduksi
Konduksi terjadi ketika panas melewati dinding pipa. Panas berpindah dari permukaan luar tube menuju permukaan dalam yang bersentuhan dengan fluida.
Kemampuan perpindahan panas dipengaruhi oleh:
- Material tube
- Ketebalan tube
- Temperatur permukaan
- Deposit atau carbon
- Kondisi permukaan
- Thermal conductivity material
Deposit pada permukaan coil dapat menghambat perpindahan panas dan meningkatkan temperatur tube.
Konveksi
Konveksi berlangsung ketika gas pembakaran mengalir melewati permukaan coil. Selain itu, konveksi juga terjadi saat thermal oil bergerak di dalam pipa dan menerima panas dari dinding tube.
Kecepatan aliran harus dijaga agar perpindahan panas berlangsung baik. Apabila aliran terlalu rendah, film temperature dapat meningkat dan mempercepat degradasi thermal oil.
Jenis Boiler untuk Sistem Marine
Fire-Tube Steam Boiler
Fire-tube boiler mengalirkan gas panas melalui pipa api. Air berada di dalam shell dan mengelilingi tube tersebut. Panas dari gas pembakaran kemudian mengubah air menjadi steam.
Fire-tube boiler banyak digunakan untuk kapasitas dan tekanan rendah sampai menengah. Beberapa kelebihannya meliputi:
- Konstruksi relatif sederhana
- Volume air relatif besar
- Tekanan steam cukup stabil
- Mudah dibuat dalam bentuk package boiler
- Dapat menggunakan bahan bakar minyak atau gas
Namun, fire-tube boiler membutuhkan pengolahan air, blowdown, kontrol level, safety valve, dan pemeriksaan pressure part.
Water-Tube Steam Boiler
Water-tube boiler mengalirkan air melalui tube. Sementara itu, gas panas mengalir pada sisi luarnya.
Jenis ini dapat digunakan untuk kapasitas serta tekanan steam yang lebih tinggi. Karakteristiknya meliputi:
- Respons perubahan beban lebih cepat
- Volume air lebih kecil
- Dapat dirancang untuk tekanan lebih tinggi
- Efisiensi dapat ditingkatkan dengan economizer
- Membutuhkan kontrol kualitas air yang ketat
- Sistem level dan feed water lebih responsif
Water-tube boiler juga dapat menggunakan forced draft, induced draft, atau balanced draft sesuai desain pembakarannya.
Sistem Steam Boiler untuk Pemanasan HFO
Steam boiler merupakan bejana bertekanan yang memanaskan air hingga menghasilkan steam. Selanjutnya, steam dialirkan menuju heat exchanger, heating coil, tracing line, purifier, settling tank, service tank, dan peralatan lain.
Sumber Feed Water
Feed water umumnya berasal dari:
- Condensate return, yaitu steam yang telah melepaskan panas kemudian kembali menjadi air.
- Make-up water, yaitu air tambahan yang telah melalui proses pengolahan.
Economizer dapat digunakan untuk memanaskan feed water menggunakan panas dari gas buang. Dengan demikian, kebutuhan bahan bakar boiler dapat dikurangi.
Komponen Steam Boiler
Sistem steam boiler dapat terdiri dari:
- Steam boiler
- Burner
- Feed-water tank
- Deaerator
- Feed-water pump
- Economizer
- Steam header
- Pressure controller
- Level gauge
- Level transmitter
- Safety valve
- Blowdown system
- Condensate-return system
- Water-treatment equipment
- Stack
Deaerator tidak digunakan untuk memisahkan steam dari air. Komponen ini berfungsi mengurangi oksigen dan gas terlarut dari feed water agar risiko korosi pada boiler berkurang.
Sementara itu, expansion tank bukan tempat menampung saturated steam dari deaerator. Pada sistem steam, condensate atau feed-water tank digunakan untuk menampung air. Expansion tank lebih umum digunakan dalam sistem thermal oil atau hot water tertutup.
Thermal Oil Heater untuk Pemanasan HFO
menggunakan minyak pemindah panas sebagai media sirkulasi. Thermal oil dipanaskan di dalam coil heater, kemudian circulation pump mengalirkannya menuju peralatan pengguna panas.
Pada heat exchanger atau tank coil, thermal oil melepaskan energi untuk memanaskan HFO. Setelah itu, fluida kembali menuju heater melalui return line.
Alur sederhananya adalah:
Circulation Pump → Thermal Oil Heater → HFO Heat Exchanger → Return Line → Circulation Pump
Sistem juga terhubung dengan expansion tank untuk menampung perubahan volume thermal oil.
Komponen Sistem Thermal Oil Marine
Sistem thermal oil untuk kapal dapat terdiri dari:
- Thermal oil heater
- Burner
- Circulation pump
- Standby pump
- Expansion tank
- Sump tank
- HFO heat exchanger
- Supply header
- Return header
- Control valve
- Strainer
- Piping dan valve
- Insulasi
- Panel kontrol
- Temperature transmitter
- Pressure gauge
- Flow switch
- Differential-pressure switch
- Stack atau exhaust duct
- Emergency shutdown
Prinsip Operasi
Burner memanaskan coil berdasarkan temperatur return dan outlet thermal oil. Ketika beban panas meningkat, temperatur return turun sehingga burner meningkatkan kapasitas.
Sebaliknya, ketika kebutuhan panas berkurang, kapasitas burner menurun. Burner modulating dapat menjaga temperatur supply lebih stabil dibandingkan sistem ON/OFF.
Control valve pada masing-masing pengguna mengatur jumlah thermal oil yang mengalir menuju heat exchanger. Valve dapat dikendalikan berdasarkan temperatur HFO pada outlet.
Tekanan Operasi
Thermal oil dapat menghasilkan temperatur sekitar 250–350°C tanpa tekanan saturasi tinggi seperti steam. Namun, sistem bukan berarti selalu bekerja pada tekanan 1 bar.
Tekanan aktual ditentukan oleh:
- Head circulation pump
- Pressure drop heater
- Pressure drop heat exchanger
- Panjang dan diameter piping
- Viskositas thermal oil
- Elevasi sistem
- Tekanan desain komponen
Oleh karena itu, seluruh peralatan harus memiliki design pressure yang sesuai dengan kondisi operasi dan kemungkinan dead-head pump.
Perhitungan Kebutuhan Panas HFO
Kebutuhan panas untuk menaikkan temperatur HFO dapat dihitung menggunakan:
Q=m×Cp×ΔT
Keterangan:
- Q = energi panas
- m = massa HFO
- Cp = panas jenis HFO
- ΔT = kenaikan temperatur
Apabila pemanasan harus selesai dalam waktu tertentu, kapasitas heater dihitung menggunakan:
Q˙=tm×Cp×ΔT+Qloss
Keterangan:
- Q˙ = kapasitas panas per jam
- t = waktu pemanasan
- Qloss = kehilangan panas dari tank dan piping
Data yang dibutuhkan meliputi:
- Volume HFO
- Densitas
- Temperatur awal
- Temperatur target
- Waktu pemanasan
- Luas permukaan tank
- Temperatur lingkungan
- Ketebalan insulasi
- Temperatur air laut
- Jam operasi
Penentuan Insulasi Pipa
Insulasi membantu mengurangi kehilangan panas dari piping thermal oil menuju ruang mesin dan lingkungan.
Pemilihan ketebalan insulasi mempertimbangkan:
- Temperatur thermal oil
- Diameter pipa
- Temperatur lingkungan
- Kecepatan udara
- Material insulasi
- Thermal conductivity
- Temperatur permukaan yang diizinkan
- Persyaratan keselamatan kebakaran
- Keterbatasan ruang kapal
Material yang dapat dipertimbangkan meliputi mineral wool, rockwool, calcium silicate, atau material marine-approved lainnya. Bagian luar insulasi dapat menggunakan aluminium atau stainless-steel cladding.
Ketebalan final tidak boleh hanya menggunakan asumsi literatur. Perhitungan harus diverifikasi dengan data material dan persyaratan marine.
Perbandingan Thermal Oil Heater dan Steam Boiler
Efisiensi Sistem
Thermal oil tidak membutuhkan blowdown dan steam trap. Oleh karena itu, beberapa kehilangan yang terdapat pada sistem steam dapat dihindari.
Namun, tidak tepat menyatakan thermal oil selalu 5–8% lebih efisien. Efisiensi aktual dipengaruhi oleh:
- Desain heater atau boiler
- Temperatur gas buang
- Excess air
- Kondisi burner
- Insulasi
- Condensate return
- Economizer
- Beban operasi
- Kondisi heat exchanger
Steam boiler dengan economizer dan condensate return yang baik dapat memiliki efisiensi sistem tinggi. Oleh karena itu, perbandingan harus menggunakan data operasi nyata.
Operator dan Perizinan
Persyaratan operator boiler berbeda pada setiap negara dan yurisdiksi. Steam boiler bertekanan umumnya mempunyai persyaratan inspeksi serta operator tertentu.
Thermal oil heater dapat memiliki ketentuan berbeda karena media dan karakter tekanannya tidak sama. Namun, peralatan tersebut tetap membutuhkan operator yang terlatih, prosedur keselamatan, inspeksi, dan persetujuan class.
Perhitungan biaya operator tidak boleh menggunakan angka mata uang lama tanpa pembaruan dan sumber yang jelas.
Korosi
Steam boiler berisiko mengalami korosi dan deposit apabila kualitas air tidak dikendalikan. Oksigen, mineral, pH, chloride, dan kontaminan dapat mempercepat kerusakan.
Thermal oil tidak menimbulkan scale mineral seperti air. Meskipun demikian, sistem thermal oil bukan berarti bebas korosi. Kerusakan tetap dapat terjadi karena:
- Oksidasi thermal oil
- Kontaminasi air
- Korosi eksternal
- Kondensasi
- Kebocoran
- Degradasi fluida
- Carbon deposit
- Material yang tidak kompatibel
Oleh sebab itu, inspeksi piping, coil, tank, dan thermal oil tetap diperlukan.
Pemeliharaan
Steam boiler membutuhkan pemeriksaan:
- Kualitas air
- Steam trap
- Blowdown
- Condensate pump
- Feed-water pump
- Safety valve
- Level control
- Pressure parts
Sementara itu, sistem thermal oil membutuhkan pemeriksaan:
- Kualitas thermal oil
- Circulation pump
- Expansion tank
- Strainer
- Coil
- Flow interlock
- Temperature limiter
- Kebocoran
- Burner
- Carbon deposit
Jumlah komponen tertentu pada thermal oil dapat lebih sedikit. Namun, biaya penggantian fluida dan pembersihan sistem dapat menjadi signifikan jika thermal oil mengalami degradasi.
Keselamatan dan Lingkungan
Steam boiler mempunyai risiko tekanan tinggi, kebocoran steam, low-water, dan water hammer. Sebaliknya, thermal oil mempunyai risiko kebocoran fluida panas serta kebakaran.
Thermal oil yang bocor tidak boleh dibuang langsung ke lingkungan. Fluida bekas harus ditangani sesuai karakteristik produk dan ketentuan pengelolaan limbah.
Oleh karena itu, perbandingan keselamatan harus mempertimbangkan jenis bahaya, bukan menyimpulkan bahwa salah satu sistem sepenuhnya bebas risiko.
Biaya Operasional
Steam menggunakan air yang relatif murah, tetapi membutuhkan pengolahan air, chemical, blowdown, dan pemeliharaan condensate system.
Thermal oil lebih mahal daripada air. Namun, fluida dapat digunakan dalam jangka panjang jika temperatur film, oksidasi, dan kebersihannya dijaga.
Komponen biaya thermal oil meliputi:
- Harga awal thermal fluid
- Top-up akibat kebocoran
- Analisis laboratorium
- Penggantian fluida
- Pembersihan sistem
- Konsumsi listrik pompa
- Konsumsi bahan bakar
- Pemeliharaan burner
Analisis Ekonomi Konversi Sistem
Analisis ekonomi harus membandingkan kondisi steam boiler existing dengan sistem thermal oil yang direncanakan.
Biaya Investasi
investasi thermal oil dapat meliputi:
- Thermal oil heater
- Burner
- Circulation pump
- Standby pump
- Expansion tank
- Sump tank
- Heat exchanger
- Piping
- Valve
- Insulasi
- Panel kontrol
- Thermal oil
- Fabrikasi
- Instalasi
- Testing dan commissioning
- Modifikasi ruang mesin
- Dokumentasi dan persetujuan class
Biaya Operasi Tahunan
Biaya operasi dihitung dari:
Coperasi=Cfuel+Celectricity+Cmaintenance+Cfluid+Clabour
Perhitungan harus menggunakan harga aktual bahan bakar, listrik, spare part, thermal oil, dan tenaga kerja.
Payback Period
Waktu pengembalian investasi dapat dihitung menggunakan:
Payback Period=Penghematan TahunanInvestasi Konversi
Jika investasi konversi sebesar Rp2 miliar dan penghematan bersih Rp400 juta per tahun, maka:
Payback Period=400.000.0002.000.000.000=5 tahun
Contoh tersebut hanya ilustrasi dan bukan hasil aktual untuk MV Amazon.
Kesimpulan Awal
Thermal oil heater dapat menjadi pilihan untuk sistem pemanasan HFO pada kapal MV Amazon karena mampu menyediakan temperatur tinggi tanpa tekanan saturasi seperti steam.
Namun, kelayakan teknis dan ekonominya tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan keuntungan umum. Analisis harus mencakup kebutuhan panas HFO, kondisi boiler existing, ruang instalasi, konsumsi bahan bakar, daya pompa, biaya thermal oil, maintenance, dan persyaratan class.
Konversi dapat dipertimbangkan apabila:
- Sebagian besar steam hanya digunakan untuk pemanasan HFO.
- Tidak banyak peralatan lain yang membutuhkan steam.
- Ruang instalasi thermal oil tersedia.
- Sistem piping dapat dimodifikasi.
- Penghematan operasi mampu mengembalikan investasi.
- Risiko kebakaran thermal oil dapat dikendalikan.
- Desain disetujui owner dan class society.
Sebaliknya, mempertahankan steam boiler mungkin lebih tepat apabila kapal masih membutuhkan steam untuk banyak fungsi operasional.
Catatan: Nama kapal, data kapasitas, temperatur, konsumsi bahan bakar, dan biaya harus diverifikasi menggunakan dokumen resmi MV Amazon. Bagian ini merupakan penyusunan ulang studi teknis, bukan approved design atau hasil perhitungan final.
