IDM ELECTRIC OIL THERMA

THERMAL OIL ELEKTRIC KAP 20KW 40 KW 60KW 80KW 100KW 120KW 140KW 160KW 180KW 200KW

Manaual Book Format PDFElectric IDM Thermal Oil Heter.

Manual Instruksi TOH Electric Kap. 40 Kw

 

Manufacture

PT. INDIRA DWI MITRA 2022

Bab 1 PENGERTIAN THERMAL OIL HEATER ELEKTRIC
Bab 2 PENGOPRASIAN DAN PEMELIHARAAN
Bab 3 PROSEDUR KESELAMATAN SAAT PENGOPERASIAN DAN PEMELIHARAAN
Bab 4 PENCEGAHAN KEBAKARAN, PEMADAMAN KEBAKARAN DAN PERALATANNYA

LAMPIRAN
Lampiran 1 Drawing Thermal Oil Heater
Lampiran 2 Pump Circulation TOH KSB Etanorm SYT
Lampiran 3 Instrument Panel Control Autonic TK4L-14RR

Bab 1 PENGERTIAN THERMAL OIL HEATER ELEKTRIC
Bab 2 PENGOPRASIAN DAN PEMELIHARAAN
Bab 3 PROSEDUR KESELAMATAN SAAT PENGOPERASIAN DAN PEMELIHARAAN
Bab 4 PENCEGAHAN KEBAKARAN, PEMADAMAN KEBAKARAN DAN PERALATANNYA

LAMPIRAN
Lampiran 1 Drawing Thermal Oil Heater
Lampiran 2 Pump Circulation TOH KSB Etanorm SYT
Lampiran 3 Instrument Panel Control Autonic TK4L-14RR

LAMPIRAN 1
GAMBARA THERMAL OIL HEATER ELEKTRIC KAP. 40 KW

ELECTRIC THERMAL OIL HEATER 40KW
ELECTRIC THERMAL OIL HEATER 40KW

DESAIN
4. Thermal Oil bisa dibuat dalam konstruksi Vertikal guna menghemat ruangan dan efisien, Beberapa jenis burner di desain bisa menggunakan udara panas dengan menggunakan “Air Pre-Heater”, yaitu dengan memanfaatkan panas gas buang sisa pembakaran untuk memanaskan udara yang masuk ke burner, sehingga pembakaran lebih sempurna. Atau Thermal Oil di desain Horizontal, tergantung kebutuhan pengguna.

“Heating Coil” terbuat dari Heater Element, dengan koneksi Flange dari material SS sehingga akan tahan terhadap korosi. Heater Element di pasang pada Pipa Seamless Sch 40 PN 16 sebagai bejana tempat pemanasan Oli, Untuk memastikan tidak ada kebocoran maka terlebih
dahulu dilakukan “Pressure Test” dengan media gas/Nitrogen sampai 1,5 kali tekanan operasi.
Oli mengalir didalam Bejana yang terdapat Heater Element dengan kecepatan tertentu untuk menghindarkan panas berlebih pada lapisan oli yang bersentuhan dengan pipa coil, yang dapat mengakibatkan kerusakan molekul oli.
5. Aliran Arus Listrik pada Element Heater memanaskan aliran thermal oil diruang Bejana Element
Heater sebagai panas radiasi dan selanjutnya memanaskan Oli di dalam Bejana tempat Element Heater terpasang. Thermal Fluid Panas hasil dari pemanasan Heater Element dialirkan pada pipa menuju kea rah proses produksi dan dialirkan secara sirkulasi.

INSTRUMENT THERMAL OIL
6. Setiap unit dilengkapi dengan aksesoris, termasuk didalamnya adalah :
a. Heating Coil/unit TOH lengkap dengan cover.
b. Circulation Pump
c. Expansion Tank
d. Collecting Tank
e. Valve-Valve
f. Strainer
g. Fanal Pressure Switch
h. Magnetic Oil Level
i. Control Panel

DESAIN
4. Thermal Oil bisa dibuat dalam konstruksi Vertikal guna menghemat ruangan dan efisien, Beberapa jenis burner di desain bisa menggunakan udara panas dengan menggunakan “Air Pre-Heater”, yaitu dengan memanfaatkan panas gas buang sisa pembakaran untuk memanaskan udara yang masuk ke burner, sehingga pembakaran lebih sempurna. Atau Thermal Oil di desain Horizontal, tergantung kebutuhan pengguna.
“Heating Coil” terbuat dari Heater Element, dengan koneksi Flange dari material SS sehingga akan tahan terhadap korosi. Heater Element di pasang pada Pipa Seamless Sch 40 PN 16 sebagai bejana tempat pemanasan Oli, Untuk memastikan tidak ada kebocoran maka terlebih dahulu dilakukan “Pressure Test” dengan media gas/Nitrogen sampai 1,5 kali tekanan operasi.
Oli mengalir didalam Bejana yang terdapat Heater Element dengan kecepatan tertentu untuk menghindarkan panas berlebih pada lapisan oli yang bersentuhan dengan pipa coil, yang dapat mengakibatkan kerusakan molekul oli.

5. Aliran Arus Listrik pada Element Heater memanaskan aliran thermal oil diruang Bejana Element Heater sebagai panas radiasi dan selanjutnya memanaskan Oli di dalam Bejana tempat Element Heater terpasang. Thermal Fluid Panas hasil dari pemanasan Heater Element dialirkan pada pipa menuju kea rah proses produksi dan dialirkan secara sirkulasi.

INSTRUMENT THERMAL OIL
6. Setiap unit dilengkapi dengan aksesoris, termasuk didalamnya adalah :
a. Heating Coil/unit TOH lengkap dengan cover.
b. Circulation Pump
c. Expansion Tank
d. Collecting Tank
e. Valve-Valve
f. Strainer
g. Fanal Pressure Switch
h. Magnetic Oil Level
i. Control Panel

12. Contoh sifat-sifat Oli TOH adalah:
a. Density/kepadatan pada 2000C 760 Kg/m³
b. Spesific Heat 2.1 kJ/kgK
c. Flash Point 180 0C
d. Ignition Point/Titik Bakar 370 0C
e. Boiling point/Titik didih 330 0C
f. Pour point/titik tuang -18 0C
g. Koefisien Thermal expansion 0.00076/ 0C

THERMAL OIL FLOW LIMITER
13. Flow limiter adalah peralatan safety untuk membaca aliran dalam coil. Pada umumnya menggunakan “differential pressure switch” yang diinstal pada outlet thermal oil heater. Beberapa pabrikan memasang “pressure gauge with switch” untuk membaca tekanan oli pada Pipa Heater Element nya. Apabila tekanan kurang dari yang disarankan atau melebihi tekanan oprasi normal, maka Heater Electrik akan dimatikan secara otomatis. Hal ini terjadi apabila ditemukan penyumbatan pada pipa Oli atau pompa sirkulasi tidak berjalan semestinya.

EXPANSION TANK LOW LEVEL SENSOR
14. Pada expansion tank disarankan dilengkapi dengan pelampung level Oli. Setiap oli panas yang hilang akibat kebocoran ditunjukan dengan matinya TOH. Kebocoran ini biasanya ditemukan di pipa boiler, seal pompa sirkulasi, flange dan pipa di line sistem. Jika kebocoran ini terjadi didalam tungku pemanas, maka akan mengakibatkan kebakaran. Apabila sensor level oli tidak di pasang, maka operator harus memeriksa level oli pada level glass secara berkala.

KONTROL THERMAL OIL HEATER
15. Parameter utama dari thermal oil heater Electrik adalah dari temperatur operasi. Tekanan tidak begitu berpengaruh karena perbedaan tekanan tidak akan mempengaruhi suhu operasinya. Tekanan dalam sistem thermal oil pada dasarnya hanya tekanan pompa sirkulasi saja.

BAB 2
PENGOPRASIAN DAN PEMELIHARAAN
PERSYARATAN KOMPETENSI PERSONAL
1. Thermal oil heater adalah salah satu tipe dari mesin transfer panas, harus dioperasikan di bawah pengawasan langsung dari orang yang kompeten yang telah mengikuti pelatihan pengoprasian TOH.

PERSIAPAN SEBELUM MENGOPRASIKAN THERMAL OIL HEATER
2. Prosedur berikut ini harus diikuti sebelum menyalakan unit thermal oil heater:
a. Baca dengan seksama intruksi pengoprasian thermal oil heater secara terperinci
b. Periksa kondisi TOH, lihat tekanan kerja dan suhu pengoprasian maksimum yang diizinkan
c. Periksa TOH dan instrument yang terpasang untuk memastikan masih bisa digunakan dalam kondisi normal
d. Periksa apakah level oli di tangki ekspansi normal dan semua pipa bebas dari halangan
e. Periksa apakah sistem elektrik bekerja dengan baik
f. Periksa apakah ruang TOH bersih dan berventilasi baik
g. Periksa ketersediaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR)
.
PEMANTAUAN
3. Pengamatan berikut harus dilakukan dan dipantau terus-menerus saat mengoperasikan thermal oil heater.
a. Tekanan, temperature dan flow Oli
b. Level oli pada expansion tank
c. Kondisi pembakaran di ruang bakar
d. Kebisingan dan guncangan pada pipa yang disebabkan oli yang terkontaminasi air.

e. Perbedaan temperature pada oli yang masuk dan yang keluar TOH
f. Setiap kebocoran yang ada di pipa, level gauge, flanges, dan seal pada pompa sirkulasi
g. Tekanan pompa dan kondisi jalannya pompa sirkulasi.

DATA OPERASIONAL
4. Data berikut ini harus dibaca dan selalu diingat :
a. Temperature inlet dan outlet TOH
b. Tekanan Oli
c. Flow Oli
d. Level Oli pada expansion tank
e. Temperature gas buang

PENCEGAHAN KECELAKAAN SECARA UMUM SAAT OPERASIONAL THERMAL OIL HEATER
5. Operator harus memperhatikan hal-hal berikut ini saat mengoperasikan thermal oil heater :
a. Jangan membuka segel safety valve atau mencoba mengkalibrasi safety valve (jika terpasang pada sistem)
b. Jangan coba menseting perangkat safety seperti pemutusan/cautout pada temperature tinggi
c. Jangan mengoperasikan sistem pada temperature dan tekanan tinggi melebihi tekanan dan temperature yang diizinkan
d. Jangan memodifikasi Thermal Oil Heater kecuali setelah mendapatkan persetujuan dari perusahaan pembuat
e. Semua perangkat safety/pengaman otomatis harus diuji secara berkala untuk memastikan bahwa perangkat bekerja dalam kondisi yang baik setiap saat.

f. Thermal oil heater dan instrument penunjang harus dijaga dan dipelihara dengan baik setiap saat. Pekerjaan overhaul harus dilakukan oleh perusahaan teknik dengan reputasi baik di bawah pengawasan seorang Boiler Inspector.

PROSEDURE MEMATIKAN SISTEM THERMAL OIL
6. Operator harus memperhatikan hal-hal berikut ini saat mematikan/shutting down thermal oil heater :
a. Setelah mematikan burner, pompa sirkulasi harus tetap beroprasi sampai temperature Oli dibawah 100 °C.
b. Pendinginan diarahkan ke pompa sirkulasi, itu pun jika ada, dan tidak boleh terganggu sampai suhu pompa turun.
c. Direkomendasikan juga untuk menutup valve bahan bakar dan mengamankan suplai power/electrical jika pabrik berhenti produksi dalam jangka waktu yang lama.

PERAWATAN RUTIN
7. Untuk mempertahankan fungsi thermal oil agar tetap baik, point-point berikut ini harus diperhatikan :
a. Sampel oli thermal oil harus diawasi inspector, kemudian dibawa ke laboratorium untuk tujuan analisa rutinitas servis berkala. Hasil spesifikasi analisa di simpan dan dijadikan referensi user.
b. Buku catatan referensi data thermal oil harus disimpan baik-baik oleh orang yang bertanggung jawab untuk dijadikan catatan dengan dicantumkan tanggal.
c. Pemeriksaan berkala thermal oil heater harus dilakukan dengan alat bantu keselamatan dan dilakukan secara periodik.
d. Perangkat safety TOH harus diperiksa secara berkala :
1) Setingan safety valve (jika dipasang)
2) Alarm aliran terendah (Low Flow)
3) Alarm aliran tertinggi (Hi Flow)
4) Alarm maximal high temperature yang diizinkan
5) Sirkulasi pompa/burner interlock
6) Alarm low level pada expansion tank (jika dipasang)

7) Alarm gagal pembakaran
8) Alarm high temperature gas buang

KESALAHAN UMUM PADA PENGOPRASIAN THERMAL OIL HEATER
8. Over pressure/tekanan berlebih

Penyebab:
a. Penyumbatan di pipa
b. Valve utama kondisi tertutup
c. Kesalahan fungsi sirkulasi PRV (Pump Relieve Valve jika ada)

Perbaikan:
a. Periksa valve-valve dan pipa
b. Periksa reliefe valve
9. Laju aliran Oli rendah

Penyebab:
a. Filter kotor
b. Performa pompa mengalami penurunan
c. Valve suction (hisap) sengaja ditutup

Perbaikan:
a. Bersihkan filter
b. Periksa putaran pompa dan motornya
c. Check valve utama
10. Temperature oli tinggi

Penyebab:
a. Temperature control tidak berfungsi dengan baik

b. Flow rate/aliran Oli rendah
c. Kesalahan kalibrasi pada temperature controller

Perbaikan:
a. Check temperature control dan kalibrasikan dengan thermometer dengan akurat
b. Check pompa sirkulasi
11. Low level pada expansion tank

Penyebab:
a. Kerusakan pada level controller
b. Terjadi kebocoran pada sistem
Perbaikan:
a. Check level controller
b. Check kebocoran di keseluruhan sistem
12. Gagal penyalaan burner

Penyebab:
a. Filter tertutup atau ada air di bahan bakar
b. Pompa bahan bakar rusak
c. Kerusakan burner
d. Flame detector/photo cell rusak

Perbaikan:
a. Bersihkan semua filter dan keluarkan air dari sistem
b. Check sistem bahan bakar dan flame detector

13. Temperature gas buang tinggi
Penyebab:
a. Kebocoran di pipa coil
b. Ruang bakar kotor dan ada penyerapan bahan bakar
c. Kesalahan rasio bahan bakar dan udara (komposisi bahan bakar dan udara tidak tepat)
d. Filter udara tertutup

Perbaikan:
a. Bersihkan ruang bakar/chamber
b. Bersihkan filter udara
c. Periksa setiap kebocoran di pipa coil
14. Differensial Pressure tidak normal

Penyebab:
a. Penyebab utamanya adalah aliran yang lambat
b. Penyumbatan pada pipa tubing
c. Kerusakan unit Differential Pressure

Perbaikan:
a. Bersihkan filter
b. Periksa kecepatan pompa dan motor penggerak nya
c. Check valve utama
d. Bersihkan pipa tubing dari sumbatan
e. Periksa kinerja Differential Pressure
15. Kebisingan dan getaran pada jalur pemipaan

Penyebab:
a. Terdapat gas/udara atau air didalam sistem/pipa oli
b. Instalasi pipa Oli terlalu banyak berkelok

c. Ada air di dalam pipa sistem

Perbaikan:
a. Buang kandungan air di expansion tank
b. Chek ventilasi udara
c. Periksa seal pada pompa sirkulasi

16. Catatan :
a. Ketika thermal oil dimatikan karena kondisi abnormal ataupun karena sengaja dimatikan,maka pompa sirkulasi harus tetap dijalankan sekitar 15 menit atau lebih lama sesuaidengan yang di anjurkan oleh pembuat TOH. Semua kondisi kerusakan harus diperbaiki terlebih dahulu sebelum thermal oil hendak dinyalakan kembali.
b. Sebelum dilakukan perbaikan pada bagian/parts yang bertekanan, maka hal itu harus dilakukan di bawah pengawasan inspector boiler atau pabrik pembuat.
c. Ketika suhu oli telah diturunkan, bagian dari mesin dapat diisolasi dan dikosongkan sampai kering kemudian dibilas untuk mencegah pembentukan campuran yang dapat meledak. gas inert juga dapat dimasukkan ke bagian yang diperbaiki selama proses hotwork.

BAB 3
PROSEDUR KESELAMATAN SAAT PENGOPERASIAN DAN PEMELIHARAAN
1. Thermal oil heater harus dilengkapi dengan tanki ekspansi dengan kapasitas yang cukup. Pada tangki ekspansi harus terdapat indikator ketinggian oli (level glass) agar volume tanki dapat dengan mudah dibaca dan dipantau.
2. Thermal oil heater dan instrument nya harus ada di dalam ruang khusus.
3. Valve inlet dan outlet Oli harus bisa dikontrol/dilihat dari luar unit untuk memudahkan pengawasan.
4. Flange-flange tidak diperbolehkan untuk diisolasi.
5. Spesifikasi Oli harus dilampirkan oleh supplier Oli.
6. Penggunaan pada temperatur tinggi saat oprasional tidak boleh melebihi batas kemampuan Oli.
7. Ventilasi udara thermal oil harus dilengkapi dengan jala penangkal api yang baik. Kelengkapan tersebut harus tetap bersih terutama dari cat untuk memastikan ventilasi yang efektif.
8. Lembar peringatan harus ditampilkan di tempat yang mudah terlihat pada thermal oi heater untuk mengingatkan operator.
9. Thermal oil heater harus dioprasikan sesuai prosedur untuk menghindari kerusakan pada thermal oil heater dan keselamatan pekerja.
10. Oli bekas yang yang kondisinya rusak tidak boleh digunakan lagi. Pemilik harus melaporkan ke pihak lembaga kebersihan lingkungan untuk cara pembuangan oli yang tepat.

BAB 4
PENCEGAHAN KEBAKARAN, PEMADAMAN KEBAKARAN DAN PERALATANNYA BAHAYA KEBAKARAN
1. Bahan bakar cair menguap pada tingkat suhu yang berbeda-beda. Bahan bakar yang tidak stabil adalah bahan bakar yang mudah menguap pada temperature lebih rendah. Dengan ditambah dengan jumlah udara yang tepat, uap bahan bakar ini akan membentuk campuran yang mudah menyala dan meledak. Jika kemudian ada sedikit pengapian, maka akan terjadi ledakan yang menghancurkan. Kemampuan ledakan dari proses tersebut akan melebihi daya ledak dari bahan bakar padat. Satu gelas bensin, memiliki potensi daya ledak 2,26 kg (5 lb) dinamit.
2. Potensi kebakaran dalam thermal oil lebih besar daripada boiler, karena Oli sendiri merupakan material yang mudah terbakar.
3. Panas berlebih akan menyebabkan retakan molekul oli, sedangkan rantai molekul Oli yang putus membentuk zat bituminous dan gas beracun. flash point/titik bakar yang lebih rendah adalah akibat dari retakan tersebut.
4. Temperature kerja TOH biasanya berpatokan pada boiling point Oli dan diatur bekerja pada suhu dibawah suhu tersebut. Meskipun supplier mengatakan bahwa temperature bisa dipanasi lagi lebih dari ketentuan, tetapi potensi bahaya dari jenis pemanas ini tidak boleh diabaikan.
5. Ketika oli panas bocor dari unit thermal oil ke atmosfir karena disebabkan kebocoran dari gasket pada flange atau pipa coil, kemungkinan berpotensi terbakar bisa saja terjadi. Lebih parahnya lagi, sebuah ledakan akan terjadi jika kebocoran terjadi di dalam ruang bakar thermal oil heater atau ke ruangan boiler dengan ventilasi yang buruk.
6. Banyak faktor yang menyebabkan kerusakan pada pipa, seperti penumpukan jelaga hasil pembakaran sehingga menyebabkan pemanasan yang tidak merata ke coil pipa. Selain itu, pembakaran dengan api besar terhadap coil yang masih dingin pada saat start-up juga dapat menyebabkan kerusakan pipa.

PENCEGAHAN
7. Pencegahan terhadap tangki penyimpanan bahan bakar cair meliputi :
a. Membuang cairan lain yang terkumpul di luar tangki atau pipa yang digunakan.
b. Menghindari dari kemungkinan terjadinya percampuran uadara dan bahan bakar yang dapat menyebabkan kebakaran.
8. Sebuah kotak berisi pasir harus tersedia di beberapa tempat. Ventilasi udara harus tetap diperhatikan terutama di unit yang menggunakan bahan bakar gas. Ketika terjadi kebocoran, maka pasokan bahan bakar harus dihentikan segera untuk menghindari kemungkinan terburuk.
9.Limbah oli yang terbuang dapat terbakar jika ada pemicu sumber panas lain, seperti api atau percikan. Ini dinamakan dengan pengapian spontan. Oleh karena itu limbah minyak harus ditampung didalam drum berbahan logam. Limbah harus dibuang sesegera mungkin.
10.Pada umumnya, cara pencegahan yang terbaik terhadap potensi kebakaran adalah dengan sikap peduli kebersihan, membuang sampah/limbah yang berpotensi terjadi kebakaran dan pengetahuan tentang potensi bahaya. Ledakan ketika mengoprasikan thermal oil atau boiler kebanyakan disebabkan karena kurangnya kepedulian dan tidak adanya pengetahuan tentang potensi bahaya.

PEMADAMAN KEBAKARAN
11. Jika terjadi kebakaran di ruang boiler, yang harus dilakukan oleh operator boiler/thermal oil adalah :
a. Menyalakan alarm
b. Hubungi bagian layanan kebakaran
c. Membatasi pasokan udara keruang boiler/thermal oil dengan menutup jendela dan pintu
d. Memutuskan suplai bahan bakar ke burner
e. Padamkan api dengan alat pemadam kebakaran
12. Kebakaran oil–jika pemadaman menggunakan air, maka penyemprotan oli dilakukan dengan menggunakan nozzle khusus. Air akan mendinginkan oli sehingga menurunkan suhu dan menurunkan titik bakar/flash point.Bagaimanapun juga, penyemprotan jangan diberikan terlalu banyak, karena oli akan berposisi di atas air yang tergenang (mengapung), sehingga berpotensi menjadi api kecil yang akan menjadi besar. Busa adalah material pemadam yang paling baik.

Setidaknya 9 liter busa (1 tabung APAR) idealnya ditempatkan di tiap ruang boiler. Busa menumpang diatas permukaan Oli dan berfungsi sebagai selimut sehingga menutup pasokan oksigen untuk pembakaran. Pasir kering juga dapat digunakan di area kecil, untuk mecegah penyebaran oli. Suplai bahan bakar oli ke boiler harus dimatikan. Oleh karena itu, shut off valve dipasang di line/jalur pipa bahan bakar yang ditempatkan diluar ruang boiler.
13. Kebakaran elektrikal – dalam hal kebakaran listrik atau kebakaran di area listrik, maka pemadam yang digunakan harus bersifat non-konduktor, jika tidak, maka pemadam bisa tersengat listrik. Bubuk kering pemadam dan CO2 (karbon dioksida) cocok digunakan untuk pemadam kebakaran listrik.

PERALATAN PEMADAM KEBAKARAN
14. Beberapa alat pemadam kebakaran portable yang digunakan untuk memadamkan api dari penyebab oli dan listrik akan dijelaskan di bawah ini.

PEMADAM BUSA/FOAM
15. Biasanya terdiri dari 2 bagian, bagian penampung dalam dan bagian chasing luar. Bagian luar adalah lapisan baja dan penampung dalam terbuat dari tembaga. Bagian penampung dalam berisi aluminium sulfat dan bagian penampung luar berisi soda karbonat. Cara menggunakannya hanya dengan membalikan posisinya.
16. Busa disemprotkan ke jarak 6 s/d 9 meter. Sekali pemadaman akan mengeluarkan 90 liter busa. Busa harus diarahkan langsung ke api.
17. Bahan pemadam busa cocok untuk kebakaran oli. Busa tidak boleh digunakan untuk pemadaman api listrik, karena bersifat konduktor dan dapat menyebabkan sengatan listrik yang berakibat fatal.

PEMADAM BUBUK KERING
18. Pemadam ini cocok untuk kebakaran minyak serta kebakaran listrik. Bubuk kering bersifat nonkonduktor listrik, non-korosif, non-abrasif, tidak beracun

19. Untuk menggunakan alat pemadam, tarik clip safety dan tekan knob bagian atas tabung alat. Pasak stainless steel harus dilepaskan. Sebaran area nya meliputi panjang 7,62 meter, lebar 1,82 meter. Durasi debit sekitar 28 detik dan debit bisa diperpanjang.

PEMADAM KARBON DIOKSIDA
20. Karbon dioksida adalah non-konduktor listrik. Alat pemadam ini dapat digunakan pada kebakaran yang melibatkan peralatan listrik.

KODE WARNA ALAT PEMADAM
21. Untuk membedakan jenis pemadam, maka dibedakan dengan warna sesuai dengan pengkodean yang ditentukan oleh instansi pemadam kebakaran.
Pengkodean warna sesuai type pemadam
Tipe Warna
Air merah
Busa cream
Karbon dioksid Hitam
Bubuk kering Biru

API SERAPAN
22. Jelaga dan karbon yang terbuang akan menempel pada dinding ducting ataupun cerobong. Pada waktu yang cukup lama jelaga ini akan menumpuk dan bila gas buang dikeluarkan (bahan bakar yang tidak terbakar sempurna) sedikitnya akan tersimpan di jelaga dan karbon tersebut. Jika kebakaran hasil serapan ini terjadi, maka akan sangat sullit untuk dipadamkan disebabkan bara api yang terkumpul diserapan api tersbut.
23. Ketika terjadi kebakaran akibat api serapan, maka pasokan bahan bakar harus segera dihentikan dan damper penyuplai udara pun harus ditutup, karena api akan membesar jika ada oksigen yang masuk. Pemadaman harus disiran dengan air yang berlimpah, jika tidak, maka uap air yang sedikit akan menimbulkan uap api kembali. Penyiraman air juga harus dilakukan ke sekitar area yang terbakar untuk menghindari pelebaran api.
24. Untuk mencegah api serapan, harus dilakukan maintenance berkala untuk mengindari penumpukan jelaga dan karbon pada ducting maupun cerobong. Operator harus teliti dalam penyetingan komposisi bahan bakar dan udara pada burner untuk mendapatkan pembakaran yang sempurna. Jika komposisi bahan bakar dan udara yang tersuplai ke burner tidak pas, maka hal itu akan menimbulkan jelaga yang banyak.

KETENTUAN ALAT PEMADAM KEBAKARAN
25. User paling tidak harus menyediakan masing -masing jenis pemadam, diantaranya :
a. 2 tabung/ 9 liter busa pemadam oli.
b. 1 pemadam elektrik (powder atau karbon dioksida).

26. Operator, pengawas dan pekerja yang bekerja disekitar boiler/thermal oil heater harus melakukan latihan kebakaran setidaknya 1 kali setiap 3 bulan. Latihannya meliputi :
a. Mengidentifikasi jenis api.
b. Mengidentifikasi jenis pemadam yang digunakan.
c. Prosedur lain yang harus diikuti.
27. Prosedur penanggulangan kebakaran harus di temple di luar ruangan boiler/thermal oil.
28. Buka catatan latihan kebakaran yang didalamnya dicatat nama, tanda tangan orang yang berpartisipasi dan tanggal latihan kebakaran harus disimpan diruang boiler/thermal oil untuk pemeriksaan.

Workshop
Kawasan Pergudangan Laksana Business Park, Jalan Laksana 6 Blok F 09, Desa laksana Kec. Pakuhaji, Kab. Tangerang, Banten- 15570

PT Indira Mitra Boiler
Ratman Bejo
☎️081388666204

My Website
https://indira.co.id

Specialist Fabrikasi,Thermal Oil Heater,Steam Boiler,Hot Water Boiler

Our Contact

IMB Product

Email: info@indira.co.id
Email: idmratman@gmail.com

https://www.youtube.com/@Ratman_Bejo/videos

Open chat
Selamat datang Di idmboiler.co.id PT Indira Dwi Mitra, Pabrikasi Steam Boiler,Thermal Oil Heater,Hot Water Boiler,Gas Oil Burners,Part & Service dll.