Jenis Thermal Oil Heater
Pada dasarnya, jenis Thermal Oil Heater dapat dibedakan berdasarkan metode pemanasannya menjadi dua kelompok utama, yaitu Direct Fired Thermal Oil Heater dan Electric Thermal Oil Heater. Keduanya memiliki fungsi yang sama, yaitu memanaskan thermal oil sebagai media pembawa panas yang kemudian disirkulasikan menuju peralatan proses.
Pemilihan jenis Thermal Oil Heater harus mempertimbangkan kebutuhan panas (heat duty), temperatur operasi, kapasitas, ketersediaan energi, biaya operasional, layout instalasi, serta karakteristik proses industri.

1. Direct Fired Thermal Oil Heater
Direct Fired Thermal Oil Heater menggunakan proses pembakaran sebagai sumber energi panas. Burner atau sistem pembakaran menghasilkan gas panas yang mentransfer energi ke thermal oil melalui permukaan pemanas atau coil.
Thermal oil tidak bercampur langsung dengan gas hasil pembakaran. Fluida mengalir di dalam sistem tertutup dan menerima panas melalui permukaan perpindahan panas.
Berdasarkan sumber energinya, fired Thermal Oil Heater dapat dirancang untuk menggunakan beberapa jenis bahan bakar, seperti:
- natural gas;
- LPG sesuai desain;
- diesel oil atau solar;
- MFO/residu;
- biomassa seperti cangkang sawit; dan
- batubara pada sistem yang dirancang untuk bahan bakar padat.
Jenis burner, ruang bakar, sistem feeding, pengendalian emisi, dan peralatan pendukung harus disesuaikan dengan karakteristik bahan bakar.
Kelebihan Direct Fired Thermal Oil Heater
Direct Fired Thermal Oil Heater banyak digunakan untuk kebutuhan heating industri dengan kapasitas panas yang relatif besar.
Sistem ini dapat menjadi pilihan ketika fasilitas memiliki suplai bahan bakar yang memadai dan membutuhkan pemanasan secara kontinu.
Namun, performanya sangat dipengaruhi oleh desain perpindahan panas, kondisi burner, rasio udara-bahan bakar, temperatur gas buang, kebersihan permukaan pemanas, dan kondisi operasi.
2. Electric Thermal Oil Heater
Electric Thermal Oil Heater menggunakan energi listrik sebagai sumber panas sehingga tidak membutuhkan proses pembakaran pada heater.
Energi listrik dikonversikan menjadi panas melalui elemen pemanas dan kemudian ditransfer ke thermal oil. Fluida panas selanjutnya disirkulasikan menuju peralatan proses menggunakan pompa.
Karena tidak menggunakan burner, konfigurasi electric heater dapat menghilangkan kebutuhan beberapa komponen yang terkait langsung dengan sistem pembakaran.
Kelebihan Electric Thermal Oil Heater
Electric Thermal Oil Heater dapat dipertimbangkan untuk aplikasi yang membutuhkan:
- kontrol temperatur yang presisi;
- sistem heating tanpa pembakaran lokal;
- instalasi relatif ringkas pada kondisi tertentu;
- kebutuhan panas yang sesuai dengan kapasitas listrik fasilitas; dan
- integrasi dengan sistem kontrol otomatis.
Namun, kelayakan ekonominya sangat dipengaruhi oleh tarif listrik, kapasitas daya yang tersedia, pola operasi, dan kebutuhan panas proses.
Direct Fired vs Electric Thermal Oil Heater
Berikut perbandingan umum kedua jenis sistem:
Parameter | Direct Fired | Electric |
|---|---|---|
| Sumber energi | Bahan bakar | Listrik |
| Burner | Diperlukan | Tidak diperlukan |
| Proses pembakaran | Ada | Tidak ada pada heater |
| Flue gas | Ada | Tidak dihasilkan pada titik penggunaan |
| Cerobong | Umumnya diperlukan | Tidak untuk proses pembakaran |
| Kapasitas | Dapat dirancang untuk kebutuhan besar | Bergantung daya listrik yang tersedia |
| Kontrol temperatur | Dapat dikontrol dengan sistem yang tepat | Dapat dikontrol secara presisi |
| Emisi lokal pembakaran | Ada dan perlu dikelola | Tidak ada emisi pembakaran langsung di heater |
| Biaya operasi | Dipengaruhi harga bahan bakar dan efisiensi | Dipengaruhi tarif listrik |
| Maintenance | Termasuk burner dan sistem pembakaran | Tidak memerlukan maintenance burner |
Perbandingan tersebut bersifat umum. Desain aktual dapat berbeda sesuai kapasitas, teknologi, dan kebutuhan aplikasi.
Jenis Thermal Oil Heater Berdasarkan Konfigurasi
Selain berdasarkan sumber panas, Thermal Oil Heater juga dapat dibedakan berdasarkan orientasi konstruksinya, yaitu:
Vertical Thermal Oil Heater
Vertical Thermal Oil Heater memiliki orientasi konstruksi vertikal. Konfigurasi ini dapat dipertimbangkan untuk fasilitas dengan keterbatasan luas lantai tetapi memiliki ruang vertikal yang mencukupi.
Horizontal Thermal Oil Heater
Horizontal Thermal Oil Heater memiliki konstruksi memanjang secara horizontal. Konfigurasi ini membutuhkan area lantai yang lebih besar, tetapi pada desain tertentu dapat memberikan akses yang praktis untuk inspeksi dan maintenance.
Pemilihan Vertical vs Horizontal Thermal Oil Heater tidak menentukan fungsi dasar heater. Keputusan harus disesuaikan dengan layout, kapasitas, akses maintenance, dan kondisi instalasi.
Bagaimana Memilih Jenis Thermal Oil Heater?
Tidak ada satu jenis Thermal Oil Heater yang paling tepat untuk seluruh aplikasi industri.
Sebelum menentukan sistem, beberapa parameter perlu dianalisis, antara lain:
- kebutuhan panas atau heat duty;
- temperatur inlet dan outlet;
- flow thermal oil;
- jenis thermal oil;
- temperatur maksimum yang diizinkan;
- jenis dan ketersediaan bahan bakar;
- kapasitas listrik;
- pola operasi;
- layout instalasi;
- kebutuhan maintenance;
- persyaratan keselamatan; dan
- biaya investasi serta operasional.
Analisis tersebut membantu menentukan apakah kebutuhan proses lebih sesuai menggunakan Direct Fired Thermal Oil Heater, Electric Thermal Oil Heater, maupun konfigurasi vertical atau horizontal. Selain berdasarkan jenis heater, sistem pemanasan industri juga dapat dibedakan berdasarkan cara panas ditransfer menuju produk, yaitu pemanasan langsung (direct heating) dan pemanasan tidak langsung (indirect heating).
Pemanasan Langsung (Direct Heating)
Pemanasan langsung adalah metode ketika energi panas diberikan langsung kepada produk atau material yang ingin dipanaskan tanpa menggunakan fluida perpindahan panas seperti thermal oil sebagai media perantara.
Sumber panas dapat berasal dari gas hasil pembakaran, radiasi nyala api, atau elemen pemanas listrik, tergantung pada desain dan kebutuhan proses.
Prinsip ini mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Kompor, misalnya, menghasilkan panas yang langsung memanaskan wadah memasak. Oven juga menggunakan energi panas untuk memanaskan produk di dalam ruang pemanasan tanpa membutuhkan sistem sirkulasi thermal oil.
Pada skala industri, prinsip yang sama dapat diterapkan pada berbagai peralatan proses dengan desain yang lebih kompleks.
Cara Kerja Sistem Pemanasan Langsung
Pada sistem berbahan bakar, burner membakar natural gas, diesel oil, atau bahan bakar lain yang sesuai dengan desain peralatan.
Energi hasil pembakaran kemudian dipindahkan menuju produk atau permukaan yang dipanaskan melalui mekanisme seperti:
- radiasi dari nyala dan permukaan panas;
- konveksi dari gas hasil pembakaran; dan
- konduksi melalui dinding peralatan apabila produk berada di dalam suatu vessel.
Dalam konfigurasi tertentu, sistem dapat digambarkan memiliki tiga bagian utama:
1. Burner
Burner menghasilkan energi panas melalui proses pembakaran bahan bakar.
2. Vessel atau ruang proses
Produk yang membutuhkan pemanasan ditempatkan di dalam vessel atau ruang proses. Energi dari sistem pembakaran kemudian digunakan untuk menaikkan temperatur produk.
3. Cerobong (Stack/Chimney)
Gas hasil pembakaran dialirkan melalui jalur gas buang dan selanjutnya dilepaskan melalui cerobong sesuai desain sistem serta ketentuan emisi yang berlaku.
Pengendalian Temperatur
Temperatur proses perlu dipantau menggunakan sensor dan sistem kontrol yang sesuai.
Ketika temperatur mendekati atau mencapai set point, sistem kontrol dapat mengurangi kapasitas burner (modulating/turn-down) atau menghentikan firing sesuai dengan desain kontrol.
Ketika temperatur turun dan proses kembali membutuhkan panas, burner dapat meningkatkan firing atau beroperasi kembali.
Dengan metode tersebut, temperatur proses dapat dipertahankan dalam rentang yang ditentukan.
Pemanasan Langsung vs Thermal Oil Heater
Pemanasan langsung berbeda dengan sistem Thermal Oil Heater.
Pada pemanasan langsung:
Sumber panas → Produk/proses
Sedangkan pada sistem Thermal Oil Heater:
Sumber panas → Thermal oil → Peralatan proses → Produk
Thermal oil bertindak sebagai heat transfer fluid (HTF) yang membawa energi dari heater menuju pengguna panas.
Perbedaan ini penting karena istilah Direct Fired Thermal Oil Heater tidak berarti produk dipanaskan langsung oleh api.
Pada Direct Fired Thermal Oil Heater, burner memang menjadi sumber panas bagi heater, tetapi energi pembakaran terlebih dahulu dipindahkan ke thermal oil. Thermal oil tersebut kemudian disirkulasikan menuju heat exchanger, reactor jacket, dryer, tank heating, atau peralatan proses lainnya.
Dengan demikian, dari perspektif produk yang dipanaskan, sistem thermal oil merupakan bentuk indirect heating.
Kelebihan
Sistem pemanasan langsung dapat menawarkan beberapa keuntungan pada aplikasi yang sesuai, seperti:
- konfigurasi sistem relatif sederhana;
- tidak membutuhkan thermal oil sebagai media perantara;
- tidak membutuhkan pompa sirkulasi thermal oil;
- tidak membutuhkan expansion tank thermal oil; dan
- perpindahan energi menuju proses dapat berlangsung secara langsung.
Namun, keuntungan tersebut harus dibandingkan dengan kebutuhan kontrol temperatur, karakteristik produk, keselamatan, distribusi panas, dan kondisi proses.
Keterbatasan Direct Heating pada Proses Industri
pada proses industri tidak selalu menjadi pilihan terbaik untuk setiap aplikasi. Meskipun sistem pemanasan langsung memiliki konfigurasi yang relatif sederhana, pemilihan sistem tetap harus mempertimbangkan karakteristik produk, kebutuhan temperatur, distribusi panas, keselamatan, serta kondisi operasional.
Pada proses yang membutuhkan distribusi temperatur seragam, direct heating memerlukan pengendalian temperatur yang tepat. Temperatur permukaan yang terlalu tinggi juga perlu diperhatikan, terutama ketika produk atau material yang dipanaskan sensitif terhadap panas dan berisiko mengalami degradasi akibat overheating.
Untuk fasilitas yang membutuhkan distribusi energi panas ke beberapa peralatan pada lokasi berbeda, indirect heating menggunakan Thermal Oil Heater dapat menjadi alternatif. Pada sistem ini, thermal oil berfungsi sebagai heat transfer fluid yang membawa energi panas dari heater menuju berbagai pengguna panas melalui sistem sirkulasi.
Sistem Thermal Oil Heater dapat dirancang untuk memasok panas ke berbagai peralatan proses seperti heat exchanger, reactor jacket, dryer, oven, dan tank heating, sesuai kebutuhan temperatur, heat duty, flow, serta desain proses industri.
Karena itu, perbandingan direct heating vs indirect heating perlu dilakukan sebelum menentukan sistem pemanasan. Pemilihan yang tepat harus mempertimbangkan kebutuhan proses, kontrol temperatur, distribusi panas, efisiensi sistem, maintenance, keselamatan, serta biaya operasional.
Pemanasan Tidak Langsung

Media perantara digunakan, yang bersirkulasi secara terkendali antara pemanas dan konsumen panas, yang dikenal sebagai fluida perpindahan panas.
Istilah “cairan transfer” sangat menentukan untuk memahami sistem.
Diagram sistem ditunjukkan pada Gambar 2, (di mana seluruh rakitan berisi fluida perpindahan panas (3), elemen pemanas – elemen listrik (1), dan salah satu dinding batas fluida ini juga merupakan permukaan pertukaran panas dengan konsumen panas (2)), harus dianggap sebagai sistem pertukaran panas tanpa sistem atau sirkuit perantara, dan di mana tidak ada cairan pembawa yang hanya melakukan fungsi “transfer” energi, tetapi fluida sebagai media kontak dan yang, karenanya, memiliki lebih banyak kesamaan, terutama yang berkaitan dengan kesulitan dan kerugian, dengan pemanasan langsung.
Sirkuit perpindahan panas adalah sirkuit di mana pembawa panas mengalir dari pemanas ke konsumen panas dan kemudian kembali lagi ke pemanas atau ketel dan di mana, di antara dinding batas sistem, panas tidak ditambahkan atau dihilangkan, dengan pengecualian kerugian ke lingkungan.
Sebuah contoh dari sistem perpindahan panas tipikal, dengan barang-barang sehari-hari dalam pikiran, adalah sistem pemanas sentral domestik yang dipasang di banyak rumah.
Diagram dasar ditunjukkan pada Gambar 3. Sebuah ketel (1), yang mana pembakar (4) dipasang dan yang memiliki cerobong atau cerobong asap (3) untuk menghilangkan gas pembakaran, memanaskan cairan transfer panas (dalam kasus domestik pemanas sentral – air), yang, melalui pipa (5), mencapai alat konsumen (2), (dalam contoh ini – radiator), di mana energi diberikan dan kemudian kembali ke boiler, menutup siklus.
KEUNTUNGAN PEMANASAN TIDAK LANGSUNG
Karena keunggulan signifikan yang dimilikinya dibandingkan pemanasan langsung, pemanasan tidak langsung dengan cairan transfer panas tidak diragukan lagi merupakan sistem yang paling banyak digunakan di sektor industri.
Keuntungan utama adalah:
- Ketel dapat dipasang di tempat yang paling nyaman, tidak harus dekat dengan konsumen mana pun, menghindari risiko dan meningkatkan kondisi keselamatan.
- Kebutuhan pasokan bahan bakar untuk setiap titik konsumsi dan gas buang untuk setiap alat konsumen, meningkatkan ketidakfleksibelan sistem pemanas langsung, sehingga perlu untuk mengabaikan lokasi yang nyaman karena aliran produksi.
- Menjadi sistem terpusat, jumlah elemen yang rentan terhadap pemeliharaan dan / atau kerusakan jauh lebih kecil daripada dalam hal pemanasan langsung, dengan pembakar untuk setiap alat konsumen.
- Kinerja boiler dan, karenanya, efisiensi energi jauh lebih tinggi dalam pemanasan tidak langsung, karena peralatan dirancang dengan pemikiran ini. Pemanasan langsung harus sesuai dengan karakteristik alat konsumen untuk mencapai pembakaran yang jarang optimal.
- Overheating lokal dari produk yang akan dipanaskan dihindari dan, oleh karena itu, ada keseragaman suhu yang tinggi, dapat dikontrol dengan presisi dan kualitas akhir dari proses lebih baik. Setiap alat konsumen dapat memiliki suhu operasinya sendiri, diatur secara independen seolah-olah memiliki pemanas sendiri.
- Proses pemanasan dan pendinginan, jika diperlukan, dapat dilakukan dengan pembawa panas yang sama dan dengan sistem yang sama.
- Hal ini memungkinkan pembentukan sub-jaringan air panas, udara panas atau uap, melalui penukar panas.
- Ketebalan isolasi di konsumen lebih ekonomis, karena satu-satunya tempat di mana suhu tinggi tercapai adalah di boiler. Ini sangat penting terutama jika ada sejumlah besar konsumen.
Dengan analisis metode pemanasan
ini kami secara praktis telah mendefinisikan sirkuit minyak perpindahan panas, mengingat bahwa, seperti dalam kasus pemanasan tidak langsung, ia memiliki komponen utama yang telah kita bahas sebelumnya dan ditunjukkan pada Gambar 3: ketel, pembakar, cerobong, cerobong, pipa , alat konsumen dan, tentu saja, cairan transfer panas.
Untuk menyelesaikan sirkuit fluida transfer panas dengan benar, kami memiliki dua elemen dasar: pompa resirkulasi dan tangki ekspansi .
Memang, dalam sistem pemanas air panas domestik, pompa juga diperlukan untuk mengalirkan fluida dari boiler ke alat konsumen dan menjamin kembalinya ke pemanas. Sebuah tangki juga diperlukan untuk menyerap ekspansi cairan pembawa saat suhu meningkat.
Dalam kasus pemanas sentral domestik, baik pompa dan tangki ekspansi, karena ukurannya yang kecil, pada umumnya, dimasukkan ke dalam boiler, yang dapat menyebabkan kesalahpahaman bahwa mereka tidak ada.
Tangki ekspansi dihubungkan ke sistem menggunakan pipa, yang dikenal sebagai pipa kompensasi, yang memungkinkan kami untuk mengirim volume yang meningkat yang dihasilkan dengan memanaskan seluruh rangkaian ke tangki dan, dalam fase pendinginan atau akhir hari, untuk mengkompensasi level yang lebih rendah dihasilkan karena peningkatan densitas fluida saat pendinginan.
Item akhir yang dapat ditambahkan adalah tambahan dasar kecil, seperti: alat kelengkapan yang memungkinkan kita untuk mengisolasi setiap alat atau konsumen dari sistem, baik untuk pemeliharaan maupun untuk tujuan keselamatan; pipa yang akan digunakan untuk mengisi dan mengosongkan sistem; dan filter untuk melindungi pompa resirkulasi dari kemungkinan kotoran yang ada dalam pipa. Sirkuit dasar, bagaimanapun, sudah sepenuhnya ditentukan.
Studi Banding Jenis Thermal Oil Heater untuk Industri
Sebelum memilih jenis Thermal Oil Heater, perusahaan perlu membandingkan sumber energi, kebutuhan kapasitas, temperatur operasi, biaya investasi, biaya energi, layout, maintenance, serta karakteristik proses.
Dua perbandingan utama yang umum dilakukan adalah Direct Fired vs Electric Thermal Oil Heater dan Vertical vs Horizontal Thermal Oil Heater.
Studi Banding Direct Fired vs Electric Thermal Oil Heater
Direct Fired Thermal Oil Heater menghasilkan panas melalui proses pembakaran bahan bakar, sedangkan Electric Thermal Oil Heater menggunakan elemen pemanas listrik.
Keduanya dapat digunakan untuk memanaskan thermal oil, tetapi kebutuhan utilitas dan karakteristik operasionalnya berbeda.
Parameter | Direct Fired Thermal Oil Heater | Electric Thermal Oil Heater |
|---|---|---|
| Sumber energi | Gas, diesel, MFO, biomassa atau bahan bakar sesuai desain | Listrik |
| Burner | Ya | Tidak |
| Sistem pembakaran | Diperlukan | Tidak diperlukan |
| Flue gas | Ada | Tidak ada dari heater |
| Cerobong | Umumnya diperlukan | Tidak diperlukan untuk pembakaran |
| Kapasitas | Dapat dirancang untuk kebutuhan heat duty besar | Dipengaruhi kapasitas daya listrik tersedia |
| Kontrol temperatur | Baik dengan kontrol yang sesuai | Dapat sangat presisi |
| Sistem bahan bakar | Diperlukan | Tidak diperlukan |
| Maintenance burner | Diperlukan | Tidak diperlukan |
| Emisi pembakaran di lokasi | Perlu dikendalikan | Tidak ada emisi pembakaran langsung |
| Biaya energi | Bergantung bahan bakar dan efisiensi | Bergantung tarif listrik |
| Kebutuhan listrik | Untuk pompa, kontrol dan auxiliary | Lebih besar karena listrik menjadi sumber panas |
Kapan Direct Fired Lebih Sesuai?
Sebagai ilustrasi, sebuah pabrik membutuhkan energi panas dalam jumlah besar untuk proses produksi yang beroperasi secara kontinu.
Fasilitas memiliki suplai natural gas yang stabil dengan infrastruktur bahan bakar yang sudah tersedia.
Dalam kondisi tersebut, Gas Fired Thermal Oil Heater dapat menjadi salah satu pilihan yang layak untuk dievaluasi karena kebutuhan panas dapat dipenuhi menggunakan sumber energi yang sudah tersedia di fasilitas.
Namun, keputusan tetap membutuhkan perhitungan konsumsi bahan bakar, efisiensi heater, kebutuhan burner, sistem gas, emisi, serta biaya maintenance.
Kapan Electric Thermal Oil Heater Lebih Sesuai?
Pada kasus lain, sebuah proses membutuhkan sistem pemanasan yang relatif ringkas dan kontrol temperatur yang presisi.
Lokasi memiliki kapasitas listrik yang mencukupi dan perusahaan tidak menginginkan sistem pembakaran lokal pada area tersebut.
Electric Thermal Oil Heater dapat menjadi pilihan yang menarik karena tidak membutuhkan burner, fuel train, maupun cerobong untuk proses pembakaran.
Kelayakannya tetap harus dihitung berdasarkan daya listrik yang diperlukan dan biaya listrik selama umur operasi.
Contoh Perbandingan Kebutuhan Energi
Misalkan suatu proses membutuhkan heat duty:
Q = 1.000 kW
Jika Direct Fired Thermal Oil Heater memiliki efisiensi termal ilustratif sebesar 90%, kebutuhan energi bahan bakarnya adalah:
Energi bahan bakar = 1.000 / 0,90
≈ 1.111 kW
Sementara itu, apabila Electric Thermal Oil Heater memiliki efisiensi konversi listrik-ke-panas di titik penggunaan sebesar 98%, kebutuhan listriknya secara sederhana:
Daya listrik = 1.000 / 0,98
≈ 1.020 kW
Angka tersebut hanya merupakan ilustrasi untuk menunjukkan metode perbandingan. Nilai aktual harus menggunakan data efisiensi peralatan, beban operasi, harga energi, dan kondisi proyek sebenarnya.
Selain itu, efisiensi di titik penggunaan tidak sama dengan efisiensi energi keseluruhan dari sumber hingga fasilitas. Jika aspek energi primer atau emisi total dianalisis, sumber pembangkitan listrik juga perlu dipertimbangkan.
Studi Banding Biaya Operasional
Efisiensi yang lebih tinggi tidak otomatis berarti biaya operasi lebih rendah.
Sebagai contoh, biaya energi dapat dihitung secara sederhana:
Biaya operasi = Konsumsi energi × Harga energi × Jam operasi
Karena itu, perbandingan ekonomi harus memasukkan:
- harga gas atau bahan bakar;
- tarif listrik;
- jam operasi tahunan;
- variasi beban;
- efisiensi aktual;
- biaya maintenance;
- biaya auxiliary equipment; dan
- potensi downtime.
Analisis tersebut akan memberikan gambaran Total Cost of Ownership (TCO) yang lebih baik dibandingkan hanya membandingkan harga pembelian heater.
Studi Banding Vertical vs Horizontal Thermal Oil Heater
Setelah sumber energi ditentukan, konfigurasi fisik heater juga perlu dievaluasi.
Vertical Thermal Oil Heater
Vertical Thermal Oil Heater dapat menjadi pilihan untuk area dengan floor space terbatas.
Keunggulannya terutama berkaitan dengan penggunaan luas lantai. Namun, akses maintenance pada bagian tertentu dapat membutuhkan platform atau fasilitas tambahan tergantung desain.
Horizontal Thermal Oil Heater
Horizontal Thermal Oil Heater membutuhkan area memanjang yang lebih besar. Pada konfigurasi tertentu, orientasi horizontal dapat memberikan akses yang lebih praktis terhadap beberapa komponen untuk inspeksi dan maintenance.
Namun, keuntungan tersebut tetap bergantung pada desain aktual unit.
Faktor | Vertical | Horizontal |
|---|---|---|
| Floor space | Cenderung lebih kecil | Cenderung lebih besar |
| Kebutuhan ketinggian | Lebih besar | Lebih rendah |
| Area memanjang | Lebih sedikit | Lebih banyak |
| Maintenance | Bergantung akses pada elevasi | Dapat lebih praktis pada desain tertentu |
| Fungsi heating | Sama | Sama |
| Kapasitas | Berdasarkan desain | Berdasarkan desain |
| Efisiensi | Tidak ditentukan orientasi saja | Tidak ditentukan orientasi saja |
Studi Kasus Pemilihan Jenis Thermal Oil Heater
Sebagai contoh, sebuah perusahaan sedang merencanakan sistem thermal oil baru untuk proses produksi.
Tim engineering mempunyai tiga kondisi utama:
- proses membutuhkan heat duty yang relatif tinggi;
- fasilitas mempunyai suplai gas yang memadai; dan
- area instalasi memiliki luas lantai terbatas tetapi ruang vertikal tersedia.
Berdasarkan studi awal, Vertical Gas Fired Thermal Oil Heater menjadi salah satu konfigurasi yang layak dievaluasi.
Pemilihan tersebut bukan karena vertical selalu lebih efisien atau gas selalu lebih murah, tetapi karena kombinasi tersebut sesuai dengan kondisi utilitas dan layout pada contoh proyek.
Sebelum keputusan akhir, engineer tetap perlu menghitung heat duty, flow thermal oil, pressure drop, temperatur operasi, konsumsi bahan bakar, kebutuhan expansion tank, kapasitas pompa, sistem keselamatan, emisi, CAPEX, dan OPEX.
Kesimpulan Studi Banding
Hasil studi banding jenis Thermal Oil Heater menunjukkan bahwa tidak ada satu teknologi yang paling baik untuk seluruh aplikasi.
Direct Fired Thermal Oil Heater dapat menjadi pilihan untuk kebutuhan kapasitas besar ketika bahan bakar yang sesuai tersedia. Electric Thermal Oil Heater dapat menarik ketika fasilitas mempunyai daya listrik mencukupi, membutuhkan kontrol yang presisi, atau ingin menghindari pembakaran langsung di lokasi heater.
Sementara itu, pemilihan Vertical vs Horizontal Thermal Oil Heater lebih banyak ditentukan oleh layout, ruang instalasi, konstruksi, dan kebutuhan maintenance.
Keputusan terbaik diperoleh dengan membandingkan kebutuhan teknis sekaligus CAPEX, OPEX, efisiensi, harga energi, keandalan, maintenance, keselamatan, dan Total Cost of Ownership selama umur sistem.
