PABRIK MINYAK TERMAL LISTRIK KAP 20KW 40 KW 60KW 80KW 100KW 120KW 140KW 160KW 180KW 200KW
Buku Manual Format PDF – Pemanas Minyak Termal IDM Listrik.
Manual Instruksi TOH Elektrik Kap. 40 Kw
Thermal Oil Heater Elektrik merupakan sistem pemanas industri yang menggunakan elemen pemanas listrik (Electric Heating Element) sebagai sumber energi untuk memanaskan thermal oil (heat transfer fluid) . Berbeda dengan Thermal Oil Heater berbahan bakar gas atau solar, sistem ini tidak memerlukan burner maupun cerobong asap sehingga lebih ramah lingkungan, bersih, dan mudah dioperasikan.
PT Indira Mitra Boiler menyediakan Thermal Oil Heater Elektrik dengan kapasitas mulai dari 20 kW hingga 200 kW , yang dirancang untuk menghasilkan suhu kerja hingga 300°C dengan kontrol suhu yang presisi. Sistem ini sangat cocok digunakan pada industri yang membutuhkan pemanasan stabil tanpa emisi pembakaran.

Kapasitas Pemanas Minyak Termal Elektrik
| Model | Daya Listrik | Kapasitas Panas |
|---|---|---|
| TOH-E20 | 20 kW | ±17.200 kkal/selai |
| TOH-E40 | 40 kW | ±34.400 kkal/selai |
| TOH-E60 | 60 kW | ±51.600 kkal/selai |
| TOH-E80 | 80 kW | ±68.800 kkal/selai |
| TOH-E100 | 100 kW | ±86.000 kkal/selai |
| TOH-E120 | 120 kW | ±103.200 kkal/selai |
| TOH-E140 | 140 kW | ±120.400 kkal/selai |
| TOH-E160 | 160 kW | ±137.600 kkal/selai |
| TOH-E180 | 180 kW | ±154.800 kkal/selai |
| TOH-E200 | 200 kW | ±172.000 kkal/selai |
Perhitungan menggunakan konversi 1 kW = 860 kkal/jam.
Keunggulan Thermal Oil Heater Elektrik
- Tidak menggunakan burner sehingga tidak menghasilkan emisi pembakaran.
- Suhu kerja stabil hingga 300°C .
- Kontrol suhu menggunakan Pengontrol Suhu PID Digital .
- Efisiensi pemanasan tinggi karena energi listrik langsung dikonversi menjadi panas.
- Pengoperasiannya lebih senyap dibandingkan pembakar berbahan bakar minyak atau gas.
- Perawatan lebih sederhana karena tidak memerlukan nozzle, pompa bahan bakar, atau gas train.
- Sistem otomatis dengan proteksi suhu berlebih (Over Temperature Protection).
- Cocok untuk area produksi yang membutuhkan lingkungan bersih.
Spesifikasi Umum
- Kapasitas: 20–200 kW
- Media Pemanas : Minyak Termal / Cairan Pemindah Panas
- Sumber Panas: Elemen Pemanas Listrik
- Suhu Maksimum: 300°C
- Tekanan Operasi: Rendah
- Tegangan: 380–415 Volt, 3 Fasa, 50 Hz
- Bahan Kumparan: Pipa Baja Karbon Tanpa Sambungan atau Baja Tahan Karat (opsional)
- Insulasi : Rockwool Kepadatan Tinggi
- Panel Kontrol: PLC atau Pengontrol Digital PID
- Pompa Sirkulasi: Pompa Minyak Termal Suhu Tinggi
- Sistem Proteksi: Suhu Berlebih, Tingkat Oli Rendah, Beban Motor Berlebih, Penghentian Darurat
Aplikasi Thermal Oil Heater Elektrik
Thermal Oil Heater Elektrik banyak digunakan pada berbagai industri, antara lain:
- Industri makanan dan minuman
- Industri farmasi
- Industri kosmetik
- Industri kimia
- Industri plastik
- Industri karet
- Mesin pelempar
- Mesin cetak
- Oven bubuk
- Laboratorium
- Tangki pemanas minyak
- Penukar panas
Komponen Utama
- Elemen Pemanas Listrik
- Pompa Sirkulasi Oli Termal
- Tangki Ekspansi
- Panel Kontrol Listrik
- Pengangkatan Suhu Digital
- Termostat Batas Tinggi
- Alat pengukur tekanan
- Pengukur Suhu
- Katup Pengaman
- Saklar Aliran
- Sensor Suhu PT100
- Pipa dan Katup Minyak Termal
Keunggulan Perbandingan Burner
| Pemanas Minyak Termal Elektrik | Pembakar Pemanas Minyak Termal |
|---|---|
| Tidak menghasilkan emisi | menghasilkan gas buang |
| Tidak perlu | Memerluka |
| Perawatan lebih mudah | Memerlukan servis burner secara berkala |
| Menjadi lebih stabil | Tergantung pada proses pembakaran |
| Tidak memerluk an bahan bakar | Menggunakan gas, tenaga surya, atau bahan bakar ganda |
| Operasi lebih senyap | Terdapat suara blower burner |
Layanan PT Indira Mitra Boiler
PT Indira Mitra Boiler melayani :
- Desain dan fabrikasi Thermal Oil Heater Elektrik
- Kapasitas 20 kW hingga 200 kW
- Modifikasi sistem pemanas industri
- Instalasi dan commissioning
- Perawatan pencegahan
- oli termal
- — suku cadang
- Pelayanan dan perbaikan menyeluruh Pemanas Minyak Termal
- Pembuatan panel kontrol listrik
- Konsultasi desain sistem pemanas industri
Mengapa Memilih PT Indira Mitra Boiler?
- Berpengalaman dalam sistem pemanas industri.
- Menggunakan bahan berkualitas tinggi.
- Desain sesuai kebutuhan proses pelanggan.
- Dukungan teknis dan layanan purna jual.
- Ketersediaan spare part lengkap.
- Melayani pengiriman dan instalasi ke seluruh Indonesia.
LAMPIRAN 1
GAMBARA THERMAL OIL HEATER ELEKTRIK KAP. 40 KW
PEMANAS MINYAK TERMAL LISTRIK 40KW
DESAIN
2. Aliran Arus Listrik pada Element Heater memanaskan aliran thermal oil diruang Bejana Element Heater sebagai panas dan radiasi selanjutnya memanaskan Oli di dalam Bejana tempat Element Heater terpasang. Thermal Fluid Panas hasil dari pemanasan Heater Element dialirkan pada pipa menuju kea rah proses produksi dan dialirkan secara sirkulasi.
INSTRUMENT THERMAL OIL
3. Setiap unit dilengkapi dengan aksesoris, termasuk didalamnya adalah :
a. Heating Coil /unit TOH lengkap dengan penutup.
B. Pompa Sirkulasi
c. Tangki Ekspansi
d. Tangki Pengumpul
e. Katup-Katup
f. Saringan
g. Sakelar Tekanan Fanal
h. Tingkat Minyak Magnetik
i. Kontrol Panel
4. Contoh sifat-sifat Oli TOH adalah:
A. Kepadatan/kepadatan pada 2000C 760 Kg/m³
b. Kalor Spesifik 2,1 kJ/kgK
c. Titik Nyala 180 OC
d. Bakar 370 0C
e. Didih 330 oC
f. Tuang titik/titik tuang -18 0C
g. Koefisien Ekspansi termal 0,00076/ 0C
PEMBATAS ALIRAN MINYAK TERMAL
5. Flow limiter adalah peralatan pengaman untuk membaca aliran dalam koil. Pada umumnya menggunakan “saklar tekanan diferensial” yang dipasang pada outlet pemanas oli termal. Beberapa pabrikan memasang “pengukur tekanan dengan saklar” untuk membaca tekanan oli pada Pipa Heater Element nya. Apabila tekanan kurang dari yang disarankan atau melebihi tekanan operasi normal, maka Heater Electrik akan dimatikan secara otomatis. Hal ini terjadi apabila ditemukan penyumbatan pada pipa Oli atau pompa sirkulasi tidak berjalan semestinya.
TANGKI EKSPANSI SENSOR TINGKAT RENDAH
6. Pada tangki ekspansi disarankan dilengkapi dengan pelampung level Oli. Setiap oli panas yang hilang akibat kebocoran ditunjukan dengan matinya TOH. Kebocoran ini biasanya ditemukan di pipa boiler, seal pompa sirkulasi, flange dan pipa di line sistem. Jika kebocoran ini terjadi di dalam tungku pemanas, maka akan mengakibatkan kebakaran. Apabila sensor level oli tidak dipasang, maka operator harus memeriksa level oli pada level kaca secara berkala.
PEMANAS MINYAK TERMAL KONTROL
8. Parameter utama dari thermal oil heater Electrik adalah dari suhu operasi. Tekanan tidak begitu berpengaruh karena perbedaan tekanan tidak akan mempengaruhi suhu operasinya. Tekanan dalam sistem thermal oil pada dasarnya hanya tekanan pompa sirkulasi saja.
BAB 2
PENGOPRASIAN DAN PEMELIHARAAN
PERSYARATAN KOMPETENSI PRIBADI
Thermal oil heater adalah salah satu tipe dari mesin transfer panas, harus dioperasikan di bawah pengawasan langsung dari orang yang kompeten yang telah mengikuti pelatihan pengoprasian TOH.
Persiapan Sebelum Mengoperasikan Thermal Oil Heater
Sebelum Thermal Oil Heater (TOH) dioperasikan, operator harus melakukan pemeriksaan menyeluruh untuk memastikan seluruh sistem berada dalam kondisi aman dan siap beroperasi. Pemeriksaan awal ini bertujuan mencegah kerusakan peralatan, meningkatkan efisiensi operasi, serta mengurangi risiko kecelakaan kerja.
Operator harus memastikan bahwa seluruh prosedur berikut telah dilakukan sebelum menyalakan burner atau elemen pemanas.
Checklist Persiapan Sebelum Start-up
1. Pelajari Prosedur Pengoperasian
Baca dan pahami Manual Operasi serta Standard Operating Procedure (SOP) Thermal Oil Heater sebelum melakukan start-up. Pastikan operator memahami fungsi setiap komponen, sistem kontrol, serta prosedur keadaan darurat.
2.Periksa Kondisi Pemanasan Minyak Termal
Lakukan pemeriksaan visual terhadap seluruh unit Thermal Oil Heater untuk memastikan tidak terdapat kerusakan pada body heater, coil, burner, panel kontrol, pompa sirkulasi, maupun sistem perpipaan.
Pastikan tekanan dan suhu maksimum yang masih sesuai dengan spesifikasi pabrikan.
3.Periksa Instrumen Keselamatan
Pastikan seluruh instrumen bekerja dengan baik, antara lain:
- Alat pengukur tekanan
- Pengukur Suhu
- Sensor Suhu PT100
- Termostat Batas Tinggi
- Saklar Aliran
- Saklar Tekanan
- Saklar Level Rendah
- Katup Pengaman
- Sistem Alarm
Instrumen yang mengalami kerusakan harus segera diperbaiki atau diganti sebelum unit dioperasikan.
4. Level Minyak Termal
Pastikan level thermal oil pada Expansion Tank berada pada batas normal sesuai indikator Level Glass atau Level Indicator .
Selain itu, periksa seluruh jalur pipa untuk memastikan:
- Tidak terdapat kebocoran.
- Valve berada pada posisi operasi.
- Jalur sirkulasi tidak tersumbat.
- Tidak terdapat udara yang terjebak di dalam sistem.
5. Periksa Sistem Kelistrikan
Persepsi sistem kelistrikan berada dalam kondisi normal, meliputi:
- Tegangan suplai listrik sesuai spesifikasi.
- MCCB dan MCB dalam kondisi baik.
- Panel kontrol berfungsi normal.
- Motor pompa bekerja dengan baik.
- Grounding terpasang dengan benar.
- Tidak terdapat kabel yang rusak atau longgar.
6.Periksa Ruang Pemanas Minyak Termal
Pastikan ruang Thermal Oil Heater:
- Bersih dari tumpahan minyak termal.
- Bebas dari bahan mudah terbakar.
- Memiliki konsultasi yang baik.
- Memiliki pencahayaan yang cukup.
- Jalur rintangan tidak terhalang.
Lingkungan kerja yang bersih akan mengurangi risiko kebakaran dan memudahkan proses inspeksi.
7. Periksa Ketersediaan APAR
Pastikan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) tersedia, mudah dijangkau, dan masih berada dalam masa berlaku inspeksi.
Jenis APAR yang direkomendasikan meliputi:
- APAR Foam (AFFF) untuk kebakaran bahan bakar cair.
- APAR Dry Chemical Powder (DCP) untuk kebakaran umum dan listrik.
- APAR CO₂ untuk panel listrik dan peralatan listrik.
Operator juga harus mengetahui lokasi APAR, Emergency Stop, Emergency Fuel Shut-Off Valve, serta jalur evakuasi sebelum memulai pengoperasian.
Tujuan Pemeriksaan Sebelum Start-up
Pemeriksaan sebelum pengoperasian bertujuan untuk:
- Mentransmisikan Thermal Oil Heater siap dioperasikan dengan aman.
- Terjadinya kebocoran thermal oil dan bahan bakar.
- Mengurangi risiko kebakaran dan ledakan.
- Menjamin seluruh sistem kontrol bekerja dengan baik.
- Meningkatkan efisiensi operasi.
- Memperpanjang umur Thermal Oil Heater dan seluruh komponennya.
- Mengurangi risiko downtime akibat kerusakan yang tidak terdeteksi.
Dengan melakukan pemeriksaan checklist sebelum start-up secara konsisten, operator dapat menjaga keselamatan kerja , meningkatkan kehebatan Thermal Oil Heater , serta memastikan proses pemanasan berlangsung secara aman, efisien, dan sesuai standar operasional .
Pemantauan Selama Pengoperasian Thermal Oil Heater
Selama Thermal Oil Heater (TOH) beroperasi, operator harus melakukan pemantauan secara terus menerus terhadap seluruh parameter operasi. Monitoring yang baik bertujuan untuk mendeteksi sejak dini adanya penyimpangan kondisi operasi sehingga kerusakan peralatan maupun kecelakaan kerja dapat dicegah.
Daftar Periksa Pemantauan Operasi
1. Tekanan, Suhu, dan Aliran Minyak Termal
Operator harus memantau secara berkala:
- Minyak termal tekanan.
- Temperatur inlet dan outlet Thermal Oil Heater.
- Laju aliran (laju aliran) minyak termal.
Parameter tersebut harus berada dalam rentang operasi yang direkomendasikan oleh pabrikan. Perubahan tekanan atau penurunan aliran dapat mengindikasikan adanya penyumbatan, kerusakan pompa, atau kebocoran pada sistem.
2. Level Minyak Termal pada Tangki Ekspansi
Periksa level thermal oil melalui Level Glass atau Level Indicator pada Expansion Tank.
Penurunan level thermal oil secara tiba-tiba dapat mengindikasikan adanya kebocoran pada pipa, flange, valve, atau komponen lainnya. Sebaliknya, level yang terlalu tinggi juga perlu diperiksa karena dapat menunjukkan ekspansi fluida yang tidak normal atau pengisian yang berlebihan.
3. Kondisi Pembakaran Burner
Amati kondisi nyala api pada ruang bakar (ruang bakar).
Pembakaran yang baik ditandai dengan:
- Nyala api stabil.
- Tidak menghasilkan asap hitam.
- Tidak terjadi pemeriksaan api.
- Tidak terdengar ledakan kecil (menjadi bumerang).
Apabila warna api berubah atau burner sering mengalami lockout , segera lakukan pemeriksaan terhadap nozzle, tekanan bahan bakar, blower udara, sensor api, dan pengaturan rasio udara-bahan bakar (rasio udara-bahan bakar).
4. Sistem Kebisingan dan Getaran
Perhatikan adanya suara atau getaran yang tidak normal pada pompa, pipa, maupun Thermal Oil Heater.
Getaran yang berlebihan dapat disebabkan oleh:
- Kontaminasi udara di dalam minyak termal.
- Kavitasi pada pompa sirkulasi.
- Bantalan pompa aus.
- Kopling ketidaksejajaran.
- Udara terjebak dalam sistem (air lock).
Apabila terdengar suara mendidih, hentakan, atau getaran yang tidak normal, segera lakukan pemeriksaan sebelum kerusakan menjadi lebih serius.
5. Perbedaan Suhu Inlet dan Outlet
Pantau selisih suhu ( ΔT ) antara thermal oil yang masuk ( return ) dan keluar ( supply ) dari Thermal Oil Heater.
Perbedaan suhu yang tidak normal dapat ditunjukkan:
- Debit aliran thermal oil terlalu kecil.
- Pengotoran pada pemanas koil.
- Penurunan efisiensi perbaikan musim panas.
- Kapasitas pembakar tidak sesuai.
- Kerusakan pompa sirkulasi.
Pemantauan ΔT secara rutin membantu menjaga efisiensi sistem dan mendeteksi gangguan lebih awal.
6. Pemeriksaan Kebocoran
Lakukan pemeriksaan visual terhadap seluruh jalur perpipaan untuk memastikan tidak terdapat kebocoran thermal oil pada:
- Flens.
- Katup.
- Tingkat Pengukur.
- Alat pengukur tekanan.
- Pompa segel mekanis.
- Pengemasan.
- Sambungan pipa.
- Tangki Ekspansi.
Keluaran thermal oil harus segera diperbaiki karena dapat menimbulkan risiko kebakaran serta menyebabkan penurunan level thermal oil dalam sistem.
7. Kondisi Pompa Sirkulasi
Pastikan pompa sirkulasi bekerja secara normal.
Pemeriksaan secara berkala:
- Tekanan pelepasan pompa.
- Tekanan hisap pompa.
- Bantalan Suara.
- Motor pengukur suhu.
- Getaran pompa.
- Segel mekanis Kebocoran.
- Arus listrik motor.
Pompa yang bekerja tidak normal akan mengurangi sirkulasi thermal oil sehingga dapat menyebabkan overheating pada coil heater.
Tujuan Pemantauan Operasi
Pemantauan selama pengoperasian bertujuan untuk:
- Menjaga operasi Thermal Oil Heater tetap aman.
- Mendeteksi gangguan sejak dini sebelum menjadi kerusakan besar.
- Mengoptimalkan efisiensi ekonomi musim panas.
- Mengurangi konsumsi bahan bakar.
- Memperpanjang umur thermal oil dan peralatan.
- Menghindari downtime produksi.
- Menjamin keselamatan operator dan lingkungan kerja.
Dengan melakukan pemantauan secara konsisten serta mencatat seluruh parameter operasi dalam Log Sheet Harian , kinerja Thermal Oil Heater dapat dipertahankan, biaya perawatan dapat ditekan, dan umur pakai sistem menjadi lebih panjang.
Pencegahan Kecelakaan Saat Pengoperasian Thermal Oil Heater
Keselamatan kerja merupakan prioritas utama dalam pengoperasian Thermal Oil Heater (TOH) . Operator wajib mematuhi seluruh prosedur operasi, menggunakan alat pelindung diri (APD), serta memastikan seluruh sistem keselamatan berfungsi dengan baik sebelum dan selama unit beroperasi.
Kecelakaan kerja dapat dicegah melalui disiplin dalam menjalankan prosedur operasi, inspeksi berkala, serta pemeliharaan peralatan secara rutin.
Hal-hal yang Harus Diperhatikan Operator
1. Jangan Mengubah Pengaturan Safety Valve
Operator dilarang membuka segel (seal) atau mengubah pengaturan Safety Valve yang terpasang pada sistem Thermal Oil Heater.
Safety Valve merupakan perangkat keselamatan yang telah dikalibrasi sesuai tekanan desain sistem. Pengaturan ulang hanya dapat dilakukan oleh personel yang berwenang dan menggunakan peralatan kalibrasi yang sesuai.
2. Jangan Saya mengaktifkan Perangkat Keamanan
Operator tidak diperbolehkan mengubah, melewati ( bypass ), atau menonaktifkan perangkat keselamatan seperti:
- Pemutus Suhu Tinggi
- Saklar Level Oli Rendah
- Saklar Aliran
- Saklar Tekanan
- Kontrol Keamanan Pembakar
- Berhenti Darurat
- Perlindungan Kegagalan Api
Seluruh perangkat tersebut dirancang untuk melindungi sistem dari kondisi operasi yang berbahaya.
3. Jangan Mengoperasikan Unit Melebihi Batas Desain
Thermal Oil Heater harus dioperasikan sesuai spesifikasi yang ditetapkan oleh pabrikan.
Operator tidak diperbolehkan menjalankan sistem pada:
- Suhu thermal oil di atas batas maksimum yang direkomendasikan.
- Tekanan operasi melebihi tekanan desain sistem.
- Kapasitas pembakaran yang melebihi kemampuan coil heater.
Pengoperasian di luar batas desain dapat menyebabkan degradasi thermal oil, kerusakan coil, hingga meningkatkan risiko kebakaran.
4. Jangan Melakukan Modifikasi Tanpa Persetujuan
Setiap modifikasi terhadap Thermal Oil Heater, burner, panel kontrol, sistem perpipaan, maupun perangkat keselamatan harus memperoleh persetujuan dari produsen atau perusahaan teknik yang kompeten.
Modifikasi tanpa analisa teknis dapat mengurangi tingkat keselamatan dan membatalkan garansi peralatan.
5. Uji Perangkat Keselamatan Secara Berkala
Seluruh perangkat keselamatan harus diperiksa dan diuji secara berkala untuk memastikan berfungsi dengan baik.
Perangkat yang harus diuji antara lain:
- Safety Valve (jika dipasang pada sistem).
- Pemutus Arus Suhu Tinggi.
- Saklar Level Rendah.
- Saklar Aliran.
- Saklar Tekanan.
- Pengaman Nyala Api Pembakar.
- Sistem Alarm.
- Berhenti Darurat.
Hasil pengujian harus didokumentasikan dalam log book inspeksi sebagai bagian dari program pemeliharaan preventif .
6. Lakukan Perawatan dan Overhaul Secara Berkala
Thermal Oil Heater beserta seluruh komponen pendukungnya harus dirawat sesuai jadwal yang direkomendasikan.
Pemeliharaan program meliputi:
- Pemeriksaan pembakar.
- Pemeriksaan pompa sirkulasi.
- Pemeriksaan tangki ekspansi.
- Analisis kualitas thermal oil.
- Pemeriksaan sistem kontrol.
- Panas koil Pembersihan.
- Memeriksa saluran dan cerobong.
- Instrumen Kalibrasi.
Apabila diperlukan pekerjaan overhaul , pelaksanaannya sebaiknya dilakukan oleh perusahaan yang memiliki kompetensi di bidang Thermal Oil Heater dengan mengikuti prosedur inspeksi dan standar keselamatan yang berlaku.
7. Tujuan Pencegahan Kecelakaan
Penerapan prosedur keselamatan dalam pengoperasian Thermal Oil Heater (TOH) bertujuan untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman, menjaga ketersediaan peralatan, serta menjamin kelangsungan proses produksi. Kepatuhan terhadap prosedur operasi dan pemeliharaan yang benar merupakan langkah utama dalam mencegah kecelakaan kerja, kerusakan peralatan, maupun kerugian akibat penghentian produksi.
Beberapa tujuan utama penerapan prosedur keselamatan meliputi:
- Melindungi keselamatan operator, teknisi, dan seluruh personel yang berada di sekitar instalasi Thermal Oil Heater.
- terjadinya kebakaran, ledakan, kebocoran thermal oil, serta kegagalan sistem yang dapat membahayakan lingkungan kerja.
- Menjaga Thermal Oil Heater, burner, pompa sirkulasi, tangki ekspansi, sistem perpipaan, dan instrumen kontrol tetap beroperasi dalam kondisi optimal.
- mengubah seluruh perangkat keselamatan, seperti Safety Valve , High Temperature Cut-Out , Flow Switch , Low Level Switch , dan Emergency Stop , selalu berfungsi dengan baik.
- Mengurangi risiko kerusakan akibat pengoperasian pada suhu atau tekanan yang melebihi batas desain.
- Mempertahankan efisiensi musim panas sehingga konsumsi bahan bakar atau energi listrik tetap optimal.
- Memperpanjang umur pakai thermal oil, coil heater, burner, pompa sirkulasi, serta komponen pendukung lainnya.
- Mengurangi biaya perawatan, perbaikan, dan penggantian komponen akibat kerusakan yang dapat dicegah.
- Meminimalkan risiko downtime produksi sehingga produktivitas perusahaan tetap terjaga.
- Mengolah seluruh kegiatan operasi dan pemeliharaan memenuhi persyaratan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) , standar industri, serta peraturan perundang-undangan yang berlaku.
PROSEDURE MEMATIKAN SISTEM THERMAL OIL
Selain itu, perusahaan disarankan menerapkan program pemeliharaan preventif , inspeksi berkala, pengujian keselamatan perangkat, serta pelatihan operator secara rutin. Langkah-langkah tersebut akan membantu mendeteksi potensi gangguan sejak dini, sehingga tindakan perbaikan dapat dilakukan sebelum berkembang menjadi kerusakan yang lebih serius.
Dengan menerapkan prosedur keselamatan secara konsisten, didukung oleh operator yang kompeten dan program pemeliharaan yang terjadwal, Thermal Oil Heater dapat beroperasi secara aman, efisien, andal, dan berkelanjutan . Penerapan budaya keselamatan (safety culture) yang baik tidak hanya melindungi aset perusahaan, tetapi juga meningkatkan kerahasiaan sistem, mengurangi biaya operasional, dan menjaga kelancaran proses produksi dalam jangka panjang.Operator harus memperhatikan hal-hal berikut ini saat mematikan/mematikan pemanas minyak termal :
- Setelah mematikan burner, pompa sirkulasi harus tetap beroprasi sampai suhu Oli dibawah 100 °C.
- Pendinginan diarahkan ke sirkulasi pompa, itu pun jika ada, dan tidak boleh terganggu sampai suhu pompa turun.
- Direkomendasikan juga untuk menutup katup bahan bakar dan mengamankan pasokan daya/listrik jika pabrik menghentikan produksi dalam jangka waktu yang lama.
8. PERAWATAN RUTIN
Untuk mempertahankan fungsi thermal oil agar tetap baik, point-point berikut ini harus diperhatikan :
- Sampel oli thermal oil harus dijaga pemeriksa, kemudian dibawa ke laboratorium untuk tujuan menganalisis rutinitas servis secara berkala. Hasil spesifikasi analisa di simpan dan dijadikan referensi pengguna.
- Buku catatan referensi data thermal oil harus disimpan baik-baik oleh orang yang bertanggung jawab untuk dijadikan contoh dengan dicantumkan tanggal.
- Pemeriksaan thermal oil heater secara berkala harus dilakukan dengan alat bantu keselamatan dan dilakukan secara berkala.
Perangkat keselamatan TOH harus diperiksa secara berkala :
1) Pengaturan katup pengaman (jika dipasang)
2) Alarm aliran terendah (Low Flow)
3) Alarm aliran tertinggi (Hi Flow)
4) Alarm suhu tinggi maksimal yang
5) Sirkulasi pompa/burner interlock
6) Alarm tingkat rendah pada tangki ekspansi (jika dipasang)7) Alarm gagal pembakaran
8) Alarm pembuangan gas suhu tinggi
9. KESALAHAN UMUM PADA PENGOPRASIAN THERMAL OIL HEATER
Over pressure/tekanan berlebih
Penyebab:
- Penyumbatan di pipa
- Katup utama kondisi tertutup
- Kesalahan fungsi sirkulasi PRV (Pump Relieve Valve jika ada)
Perbaikan:
- periksa valve-valve dan pipa
- katup lepas
10. Laju aliran Oli rendah
Penyebab:
- Filter kotor
- Performa pompa mengalami penurunan
- Katupapnya (hisap) sengaja ditutup
Perbaikan:
- Filter bersih
- Periksa putaran pompa dan motornya
- Katup/Mesin utama
11. Suhu oli tinggi
Penyebab:
- Kontrol suhu tidak berfungsi dengan baik
- Laju aliran/aliran Oli rendah
- Kesalahan kalibrasi pada pengontrol suhu
Perbaikan:
a. Periksa pengaturan suhu dan kalibrasikan dengan termometer dengan akurat
b. Periksa pompa sirkulasi
12. Tangki ekspansi tingkat rendah
Penyebab :
a. Kerusakan pada tingkat pengontrol
b. Terjadi kebocoran pada sistem
Perbaikan:
a. Periksa pengontrolan tingkat
b. Periksa kebocoran di keseluruhan sistem
13. Gagal penyalaan burner
Penyebab :
a. Filter tertutup atau ada udara di bahan bakar
b. Pompa bahan bakar rusak
c. Kerusakan pembakar
d. Detektor api/sel foto rusak
Perbaikan:
a. Bersihkan semua filter dan keluarkan udara dari sistem
b. Periksa sistem bahan bakar dan detektor api
14. Suhu gas buang tinggi
Penyebab :
a. Kebocoran pada pipa coil
b. Ruang bakar kotor dan ada penyerapan bahan bakar
c. Kesalahan rasio bahan bakar dan udara (komposisi bahan bakar dan udara tidak tepat)
d. Saring udara tertutup
Perbaikan:
a. Bersihkan ruang bakar/ruang
b. Bersihkan filter udara
c. Periksa setiap kebocoran di pipa coil
15. Tekanan Differensial tidak normal
Penyebab :
a. Penyebab utamanya adalah aliran yang lambat
b. Penyumbatan pada pipa tubing
c. Kerusakan unit Tekanan Diferensial
Perbaikan:
a. Membersihkan penyaring
b. Periksa kecepatan pompa dan motor penggeraknya
c. Periksa katup utama
d. Bersihkan pipa tubing dari sumbatan
e. Periksa kinerja Tekanan Diferensial
16. Kebisingan dan getaran pada jalur pemipaan
Penyebab :
a. Terdapat gas/udara atau udara di dalam sistem/pipa oli
b. Instalasi pipa Oli terlalu banyak berkelok
C. Ada udara di dalam sistem pipa
Perbaikan:
a. Buang kandungan udara di tangki ekspansi
b. Periksa ventilasi udara
c. Periksa segel pada pompa sirkulasi
17 Catatan
A. Ketika thermal oil dimatikan karena kondisi abnormal ataupun karena sengaja dimatikan, maka sirkulasi pompa harus tetap dijalankan sekitar 15 menit atau lebih lama sesuai dengan yang disarankan oleh pembuat TOH. Semua kondisi kerusakan harus diperbaiki terlebih dahulu sebelum thermal oil dinyalakan kembali.
B. Sebelum dilakukan perbaikan pada bagian/parts yang bertekanan, maka hal itu harus dilakukan di bawah pengawasan inspektur boiler atau pabrik pembuat.
C. Ketika suhu oli telah diturunkan, bagian dari mesin dapat diisolasi dan dikosongkan sampai kering kemudian dibilas untuk mencegah terbentuknya campuran yang dapat meledak. gas inert juga dapat dimasukkan ke bagian yang diperbaiki selama proses hotwork.
BAB 3 PROSEDUR KESELAMATAN SAAT PENGOPERASIAN DAN PEMELIHARAAN THERMAL OIL HEATER
Pengoperasian Thermal Oil Heater (TOH) harus dilakukan sesuai prosedur keselamatan kerja untuk melindungi personel, menjaga izin peralatan, serta mencegah terjadinya kebakaran maupun kerusakan sistem.
3.1 Tangki Ekspansi (Tangki Ekspansi)
Thermal Oil Heater harus dilengkapi dengan Expansion Tank yang memiliki kapasitas sesuai dengan volume thermal oil di dalam sistem. Tangki ekspansi berfungsi menampung pemuaian minyak termal akibat kenaikan suhu selama operasi.
Expansion Tank harus dilengkapi dengan:
- Kaca Pengukur Level (Kaca Pengintai)
- Indikator Level
- Saklar Level Rendah
- Pipa Ventilasi
- Pipa Luapan
Operator harus memastikan bahwa level thermal oil selalu berada pada batas aman sebelum unit dioperasikan.
3.2 Ruang Pemanas Minyak Termal
Thermal Oil Heater beserta seluruh instrumen kontrol, panel listrik, dan sistem pembakaran sebaiknya Ditempatkan pada ruang khusus yang memiliki ventilasi memadai, pencahayaan yang cukup, serta akses yang mudah untuk kegiatan inspeksi dan pemeliharaan.
Instalasi area harus bebas dari bahan mudah terbakar dan memenuhi persyaratan keselamatan kerja yang berlaku.
3.3 Katup Masuk dan Keluar
Katup inlet maupun outlet thermal oil harus dipasang pada posisi yang mudah dijangkau dan dapat menyatu dari luar unit.
Penempatan katup yang baik akan memudahkan operator melakukan isolasi sistem apabila terjadi keadaan darurat maupun saat pelaksanaan pekerjaan pemeliharaan.
3.4 Flange Tidak Boleh Diisolasi
Seluruh sambungan flange pada jalur thermal oil tidak disarankan ditutup sepenuhnya oleh bahan isolasi .
Hal ini bertujuan agar kebocoran thermal oil dapat segera diketahui melalui inspeksi visual sehingga risiko kebakaran dapat diminimalkan.
3.5 Spesifikasi Minyak Termal
Setiap thermal oil yang digunakan harus memiliki Technical Data Sheet (TDS) dan Material Safety Data Sheet (MSDS/SDS) dari pemasok.
Dokumen tersebut harus memuat informasi mengenai:
- Suhu Massal Maksimum
- Suhu Film Maksimum
- Titik nyala
- Titik Api
- Suhu Pengapian Otomatis
- Viskositas
- Kepadatan
- Kalor Spesifik
- Rekomendasi masa pakai
3.6 Suhu Operasi
Suhu pengoperasian Thermal Oil Heater tidak boleh melebihi batas maksimum yang direkomendasikan oleh produsen thermal oil.
Operasi pada suhu yang terlalu tinggi dapat menyebabkan:
- Minyak termal Oksidasi
- Keretakan termal
- pembentukan lumpur
- Penurunan titik nyala
- Penurunan efisiensi perbaikan musim panas
- Pemanasan kumparan rusak
3.7 Tangki Ekspansi Ventilasi
Ventilasi pada Expansion Tank harus dilengkapi Flame Arrestor (penahan api) untuk mencegah rambatan api ke dalam tangki.
Selain itu, ventilasi harus selalu bersih dari debu, cat, maupun kotoran agar sirkulasi udara tetap berjalan dengan baik.
3.8 Rambu Keselamatan
Seluruh area Thermal Oil Heater harus dilengkapi dengan:
- Rambu Bahaya Panas
- Rambu Dilarang peny
- Rambu Bahan Mudah Terbakar
- Petunjuk Pengoperasian Darurat
- Jalur Evakuasi
Rambu harus ditempatkan pada lokasi yang mudah dilihat oleh operator.
3.9 Pengoperasian Sesuai SOP
Thermal Oil Heater hanya dapat dioperasikan oleh operator yang telah mendapatkan pelatihan.
Setiap proses start-up, operasi normal, shutdown, maupun keadaan darurat harus mengikuti Standard Operating Procedure (SOP) yang telah ditetapkan perusahaan.
3.10 Pengelolaan Thermal Oil Bekas
Thermal oil yang telah mengalami degradasi atau tidak memenuhi spesifikasi operasi tidak boleh digunakan kembali.
Pembuangan thermal oil bekas harus mengikuti peraturan lingkungan hidup yang berlaku dan dilakukan melalui perusahaan pengelola limbah berizin.
BAB 4 PENCEGAHAN DAN PENANGANAN KEBAKARAN PADA THERMAL OIL HEATER
Karena thermal oil merupakan cairan yang dapat terbakar, maka sistem Thermal Oil Heater memerlukan perhatian khusus terhadap aspek keselamatan dan pencegahan kebakaran.
4.1 Karakteristik Bahan Bakar
Bahan bakar cair memiliki tingkat penguapan yang berbeda-beda. Semakin rendah titik nyala , semakin mudah bahan bakar menghasilkan uap yang dapat bercampur dengan udara membentuk campuran mudah terbakar.
Apabila campuran tersebut terkena sumber penyalaan, dapat terjadi kebakaran bahkan ledakan.
Oleh karena itu, sistem pembakaran harus selalu dijaga agar bekerja dengan sempurna.
4.2 Potensi Kebakaran Pemanas Minyak Termal
Dibandingkan sistem boiler uap, Thermal Oil Heater memiliki potensi kebakaran yang lebih tinggi karena media penghantar panas berupa thermal oil merupakan cairan yang mudah terbakar apabila mengalami kebocoran dan terkena sumber panas.
Namun demikian, dengan desain yang benar, sistem proteksi yang lengkap, serta program pemeliharaan preventif yang baik, risiko tersebut dapat dikendalikan.
4.3 Degradasi Minyak Termal
Thermal oil yang mengalami temperatur berlebihan akan mengalami thermal cracking , yaitu putusnya rantai molekul akibat panas.
Akibatnya akan terbentuk:
- Lumpur
- Endapan karbon
- Gas hasil hibridisasi
- Penurunan Titik Nyala
- Penurunan kualitas thermal oil
Kondisi tersebut meningkatkan risiko kebakaran dan menurunkan efisiensi sistem.
4.4 Suhu Operasi yang Aman
Suhu pengoperasian Thermal Oil Heater harus selalu berada di bawah batas maksimum yang direkomendasikan oleh produsen thermal oil.
Operator tidak disarankan menaikkan suhu melebihi spesifikasi meskipun sistem masih mampu beroperasi, karena dapat mempercepat degradasi thermal oil dan meningkatkan risiko kegagalan peralatan.
4.5 Minyak Termal Kebocoran
Keluarnya minyak termal dapat terjadi pada:
- Flens
- Katup
- Pengemasan
- Segel Mekanis
- Pipa
- Pemanas Kumparan
Apabila thermal oil panas bocor ke atmosfer dan mengenai permukaan yang bersuhu tinggi, maka dapat terjadi kebakaran.
Risiko akan semakin besar apabila kebocoran terjadi di dalam ruang bakar (furnace) atau ruang boiler dengan ventilasi yang kurang baik.
Oleh karena itu, inspeksi kebocoran harus dilakukan secara berkala.
4.6 Kerusakan Pemanas Kumparan
Beberapa faktor yang dapat menyebabkan kerusakan coil heater antara lain:
- Penumpukan jelaga (jelaga) pada permukaan luar koil.
- Penumpukan karbon (coke) di dalam coil.
- Pembakaran yang tidak sempurna.
- Sirkulasi thermal oil yang kurang baik.
- Start-up terlalu cepat sehingga koil menerima panas tinggi saat masih dingin.
- Panas berlebih akibat kegagalan kontrol suhu.
Kerusakan coil dapat menyebabkan kebocoran thermal oil, penurunan efisiensi, hingga kecerahan operasi.
BAB 4 PENCEGAHAN KEBAKARAN, PEMADAMAN KEBAKARAN, DAN PERALATAN PEMADAM
4.7 Pencegahan Kebakaran
Pencegahan kebakaran merupakan langkah utama dalam pengoperasian Thermal Oil Heater maupun Steam Boiler . Sebagian besar kebakaran besar dapat dicegah melalui pemeriksaan rutin, pengoperasian yang benar, dan pemeliharaan yang terjadwal.
4.7.1 Tangki Penyimpanan Bahan Bakar
Tangki penyimpanan bahan bakar cair harus diperiksa secara berkala untuk memastikan tidak terjadi kebocoran maupun kontaminasi.
Beberapa tindakan pencegahan yang harus dilakukan meliputi:
- Membersihkan tumpahan bahan bakar atau cairan lain di sekitar tangki dan jalur pipa.
- Pemutaran keseluruhan tangki bekerja dengan baik.
- kemungkinan terbentuknya campuran uap bahan bakar dan udara dalam konsentrasi yang mudah terbakar.
- Memeriksa kondisi valve, flange, dan sambungan pipa secara berkala.
- Menjauhkan sumber api terbuka dari area penyimpanan bahan bakar.
4.7.2 Ventilasi dan Peralatan Darurat
Ruang Thermal Oil Heater harus memiliki ventilasi yang memadai, terutama bila menggunakan bahan bakar gas seperti LPG, LNG, atau Natural Gas.
Selain itu, beberapa peralatan keselamatan harus tersedia, antara lain:
- APAR sesuai klasifikasi bahaya.
- Kotak berisi pasir kering.
- Alarm.
- Katup Penutup Darurat.
- Tombol Berhenti Darurat.
Apabila terdeteksi kebocoran bahan bakar, segera:
- Hentikan menyediakan bahan bakar.
- Pembakar Matikan.
- daerah isolasi.
- Hindari menyalakan atau mematikan peralatan listrik yang dapat memicu percikan.
4.7.3 Penanganan Limbah Thermal Oil
Limbah thermal oil maupun oli bekas dapat terbakar jika terkena sumber panas atau percikan api.
Oleh karena itu:
- Simpan limbah thermal oil di dalam drum logam yang tertutup rapat.
- Jangan menggunakan wadah plastik yang tidak sesuai.
- Segera kirim limbah ke pengelola limbah B3 yang memiliki izin resmi.
- Jangan membuang minyak termal ke saluran udara maupun lingkungan.
4.7.4 Tata Kelola Rumah Tangga
Kebersihan area kerja merupakan salah satu langkah paling efektif untuk mencegah kebakaran.
Operator harus:
- Membersihkan tumpahan thermal oil.
- Membersihkan jelaga di sekitar burner.
- Membersihkan ruang boiler dari material yang mudah terbakar.
- Menjaga area instalasi tetap rapi.
Sebagian besar kecelakaan besar maupun ledakan bukan disebabkan oleh kerusakan alat, melainkan karena kurangnya disiplin terhadap prosedur keselamatan.
4.8 Pembersihan Kebakaran
Apabila terjadi kebakaran di ruang Thermal Oil Heater maupun Boiler, operator harus tetap tenang dan mengikuti prosedur keadaan darurat.
Langkah-langkah Darurat
- Aktifkan alarm.
- Hubungi tim tanggap darurat atau pemadaman kebakaran.
- Pembakar Matikan.
- Tutup Katup Pemutus Bahan Bakar Darurat.
- Tutup peredam udara pembakaran jika memungkinkan.
- Putuskan pasokan listrik sesuai prosedur apabila kondisi memungkinkan dan aman.
- Gunakan APAR yang sesuai dengan klasifikasi kebakaran.
- Personil yang menghubungi jika api tidak dapat dikendalikan.
4.9 Kebakaran Minyak Termal
Thermal oil merupakan cairan yang mudah terbakar ketika mencapai suhu di atas titik nyala dan terkena sumber penyalaan.
Apabila terjadi kebakaran minyak termal:
- Hentikan suplai bahan bakar ke pembakar.
- Tutup katup oli termal jika diperlukan.
- Gunakan APAR Foam (AFFF) atau Dry Chemical Powder (DCP) sesuai prosedur perusahaan.
- Pasir kering dapat digunakan untuk membatasi penyebaran tumpahan thermal oil pada area kecil.
Catatan Keselamatan:
Penggunaan secara langsung pada kebakaran thermal oil tidak dianjurkan karena dapat menyebabkan penyebaran minyak yang terbakar. Apabila digunakan dalam kondisi tertentu, udara hanya dipakai untuk mendinginkan peralatan atau struktur di sekitar kebakaran , tidak diarahkan langsung ke permukaan minyak yang terbakar, kecuali mengikuti prosedur pemadaman yang telah ditetapkan oleh petugas pemadam kebakaran.
Ruang boiler sebaiknya dilengkapi minimal satu unit APAR Foam kapasitas 9 liter atau sesuai hasil analisis risiko dan peraturan K3 yang berlaku.
4.10 Kebakaran Listrik
Apabila kebakaran melibatkan panel listrik, motor, kabel, atau peralatan bertegangan:
- Putuskan sumber listrik jika aman dilakukan.
- Gunakan APAR CO₂ atau Dry Chemical Powder (DCP) .
- Jangan menggunakan air atau busa pada instalasi listrik yang masih bertegangan.
4.11 Peralatan Pemadam Kebakaran
Ruang Thermal Oil Heater harus dilengkapi dengan APAR yang sesuai dengan jenis bahaya yang mungkin terjadi.
Busa APAR (AFFF)
Digunakan untuk kebakaran: </span>
- Minyak Termal
- Tenaga surya
- Minyak pemupukan
- Oli hidrolik
- Bahan bakar cair lainnya
Ia bekerja dengan membentuk lapisan di atas permukaan cairan sehingga memutus kontak antara bahan bakar dan oksigen. </span>
Tidak digunakan untuk:
- Kebakaran instalasi listrik bertegangan.
Bubuk Kimia Kering APAR (DCP)
Dry Chemical Powder merupakan APAR yang paling umum digunakan pada industri.
Dapat digunakan untuk:
- Pendidikan kelas A
- Kebakaran kelas B
- Kebakaran kelas C (listrik)
Keunggulan:
- Tidak menghantarkan listrik.
- Tidak korosif.
- Efektif memutus reaksi pembakaran.
Cara penggunaan mengikuti metode PASS :
- Tarik → Tarik pin pengaman.
- A im → Arahkan hidung ke pangkal api.
- S queeze → Tekan tuas.
- S weep → Ayunkan semprotan ke kanan dan kiri hingga api padam.
APAR Karbon Dioksida (CO₂)
APAR CO₂ digunakan terutama untuk:
- Panel listrik.
- Motor listrik.
- MCC.
- Panel kontrol.
- Peralatan elektronik.
Keunggulan:
- Tidak meninggalkan residu.
- Tidak merusak peralatan elektronik.
- Tidak menghantarkan listrik.
4.12 Kode Warna APAR
| Jenis APAR | Warna Identifikasi | Penggunaan |
|---|---|---|
| Udara (Air) | Merah | Material padat (Kelas A) |
| Busa (AFFF) | Krem | Cairan mudah terbakar (Kelas B) |
| CO₂ | Hitam | Peralatan listrik |
| Bubuk Kimia Kering | Biru | Kelas A, B, dan C |
Catatan: Di beberapa negara, warna tabung APAR dapat berbeda mengikuti standar lokal (misalnya EN3 atau NFPA). Oleh karena itu, selalu mengacu pada label jenis media pemadam yang tertera pada tabung, bukan hanya warna tabungnya.
4.13 Api Serapan (Api Cerobong/Api Jelaga)
Api serapan adalah kebakaran yang terjadi akibat tumpukan jelaga, karbon, dan sisa bahan bakar yang tidak terbakar sempurna pada saluran, ruang buang gas, atau cerobong asap. Penumpukan ini dapat menyala ketika terkena suhu pembuangan gas yang tinggi dan berpotensi merusak saluran, cerobong, serta isolasi.
Penanganan Api Serapan
Apabila terjadi api serapan:
- Hentikan suplai bahan bakar ke pembakar.
- Matikan burner sesuai prosedur darurat.
- Tutup peredam pembakaran udara untuk mengurangi suplai oksigen.
- Saluran suhu pantau dan cerobong.
- Gunakan media pemadam sesuai SOP dan lakukan pendinginan pada struktur di sekitar area kebakaran bila diperlukan.
- Setelah api padam, lakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap burner,ducting, cerobong,coil heater, dan sistem kontrol sebelum unit dioperasikan kembali.
Pencegahan Api Serapan
- Bersihkan jelaga padaducting dan cerobong secara berkala.
- Lakukan tuning burner untuk mendapatkan rasio udara dan bahan bakar yang optimal.
- Gunakan bahan bakar sesuai spesifikasi.
- Suhu pantau gas buang (suhu tumpukan). Kenaikan yang tidak normal dapat menjadi sinyal jelaga atau karbon.
- Terapkan program pemeliharaan preventif secara terjadwal untuk menjaga efisiensi pembakaran dan mencegah terjadinya api serapan.
Cara Mencegah Api Serapan
Pencegahan merupakan langkah terbaik untuk menghindari terjadinya api serapan. Beberapa tindakan yang direkomendasikan antara lain:
- Lakukan pembersihanducting dan cerobong secara berkala untuk menghilangkan jelaga dan karbon.
- Jadwalkan pemeliharaan preventif sesuai jam operasi Thermal Oil Heater atau Boiler.
- Lakukan penyetelan burner secara berkala agar perbandingan udara dan bahan bakar (rasio udara-bahan bakar) tetap optimal.
- Gunakan bahan bakar dengan kualitas yang sesuai spesifikasi burner.
- Bersihkan nozzle burner serta lakukan pemeriksaan sensor api dan sistem pembakaran secara rutin.
- Periksa suhu gas buang (suhu tumpukan). Kenaikan suhu yang tidak normal dapat menjadi indikasi adanya jelaga pada coil atauducting.
- Catat hasil inspeksi dan pemeliharaan dalam log book sebagai dasar evaluasi kondisi sistem.
Dampak Api Serapan
Apabila tidak segera ditangani, api serapan dapat menyebabkan:
- Kerusakan pada saluran dan cerobong.
- Kerusakan misalnya akibat panas berlebih.
- Penurunan efisiensi Thermal Oil Heater atau Boiler.
- Konsumsi bahan bakar meningkat.
- Risiko kebakaran yang lebih besar pada area instalasi.
- Downtime produksi dan biaya perbaikan yang tinggi
Studi Kasus Thermal Oil Heater Elektrik 40 kW untuk Tangki Crude Palm Oil (CPO)
Latar Belakang
Sebuah pabrik kelapa sawit memiliki tangki penyimpanan Crude Palm Oil (CPO) berkapasitas 5 ton . CPO disimpan pada suhu sekitar 30°C , sedangkan suhu operasi yang diinginkan adalah 100°C agar viskositas minyak menurun dan proses pemompaan menjadi lebih mudah.
Karena lokasi instalasi memiliki pasokan listrik yang memadai dan tidak tersedia jaringan gas, maka dipilihlah Thermal Oil Heater Elektrik 40 kW sebagai sumber panas.
Perhitungan Data
| Parameter | Nilai |
|---|---|
| Kapasitas CPO | 5.000 kg |
| Suhu awal | 30°C |
| Suhu akhir | 100°C |
| Kenaikan suhu | 70°C |
| Kalor jenis CPO | 0,5 kkal/kg°C |
Menghitung Kebutuhan Energi
Energi panas dihitung menggunakan rumus:
Q = m × Cp × ΔT
Keterangan:
- Q = Energi panas (kkal)
- m = Massa CPO (kg)
- Cp = Kalor jenis CPO (kkal/kg°C)
- ΔT = Kenaikan suhu (°C)
Perhitungan:
Q = 5.000 × 0,5 × 70
Q = 175.000 kkal
Artinya, diperlukan sekitar 175.000 kkal untuk memanaskan 5 ton CPO dari 30°C menjadi 100°C.
Kapasitas Pemanas Minyak Termal Elektrik
Thermal Oil Heater Elektrik 40 kW memiliki kapasitas panas:
40 × 860
= 34.400 kkal/selai
Dengan efisiensi sistem sekitar 90% :
34.400 × 90%
= 30.960 kkal/selai
Estimasi Waktu Pemanasan
Waktu pemanasan dihitung dengan membagi kebutuhan energi terhadap kapasitas panas efektif.
175.000 ÷ 30.960
≈ 5,65 jam
Jadi, Thermal Oil Heater Elektrik 40 kW memerlukan waktu sekitar 5–6 jam untuk memanaskan 5 ton CPO hingga mencapai suhu 100°C , tergantung kualitas isolasi tangki, suhu lingkungan, dan kehilangan panas selama proses berlangsung.
Komponen Sistem
Sistem Thermal Oil Heater Elektrik terdiri dari:
- Pemanas Minyak Termal Elektrik 40 kW
- Elemen Pemanas Listrik
- Pompa Sirkulasi Minyak Termal
- Tangki Ekspansi
- Panel Kontrol Otomatis
- Penyerahan Suhu Digital (PID)
- Termostat Batas Tinggi
- Sensor Suhu PT100
- Minyak Termal Pipa
- Jacket atau Heating Coil pada tangki CPO
Keunggulan Menggunakan Thermal Oil Heater Elektrik
- Tidak memerlukan burner maupun cerobong asap.
- Operasi lebih bersih tanpa emisi hasil pembakaran.
- Suhu lebih stabil dengan kontrol PID.
- Biaya perawatan lebih rendah dibandingkan burner gas atau solar.
- Sangat cocok untuk kapasitas kecil hingga menengah.
- Tingkat asumsi rendah.
- Instalasi lebih sederhana karena tidak memerlukan sistem bahan bakar.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil perhitungan, Thermal Oil Heater Elektrik 40 kW merupakan pilihan yang sesuai untuk memanaskan 5 ton Crude Palm Oil (CPO) dari 30°C menjadi 100°C dengan estimasi waktu pemanasan sekitar 5–6 jam . Sistem ini memberikan pemanasan yang stabil, aman, dan efisien, terutama pada industri yang memiliki pasokan listrik yang memadai dan mengutamakan proses yang bersih tanpa emisi pembakaran.
Workshop
Kawasan Pergudangan Laksana Business Park, Jalan Laksana 6 Blok F 09, Desa laksana Kec. Pakuhaji, Kab. Tanggerang, Banten – 15570
PT Indira Mitra Boiler
Ratman Bejo
☎️081388666204
Situs web saya
https://indira.co.id
https://idmboiler.co.id
https://hargaboiler.co.id
https://boilermarine.co.id
Email: info@indira.co.id
Email: idmratman@gmail.com
https://www.youtube.com/@Ratman_Bejo/videos
