IDM THERMAL OIL ELEKTRIC KAP 20KW 40 KW 60KW 80KW 100KW 120KW 140KW 160KW 180KW 200KW

THERMAL OIL ELEKTRIC KAP 20KW 40 KW 60KW 80KW 100KW 120KW 140KW 160KW 180KW 200KW

Manaual Book Format PDFElectric IDM Thermal Oil Heter.

Manual Instruksi TOH Electric Kap. 40 Kw

Thermal Oil Heater Elektrik merupakan sistem pemanas industri yang menggunakan elemen pemanas listrik (Electric Heating Element) sebagai sumber energi untuk memanaskan thermal oil (heat transfer fluid). Berbeda dengan Thermal Oil Heater berbahan bakar gas atau solar, sistem ini tidak memerlukan burner maupun cerobong asap sehingga lebih ramah lingkungan, bersih, dan mudah dioperasikan.

PT Indira Mitra Boiler menyediakan Thermal Oil Heater Elektrik dengan kapasitas mulai dari 20 kW hingga 200 kW, yang dirancang untuk menghasilkan temperatur kerja hingga 300°C dengan kontrol suhu yang presisi. Sistem ini sangat cocok digunakan pada industri yang membutuhkan pemanasan stabil tanpa emisi pembakaran.

The Structure of Electric Thermal Oil Heater
The Structure of Electric Thermal Oil Heater

Kapasitas Thermal Oil Heater Elektrik

ModelDaya ListrikKapasitas Panas
TOH-E2020 kW±17.200 kcal/jam
TOH-E4040 kW±34.400 kcal/jam
TOH-E6060 kW±51.600 kcal/jam
TOH-E8080 kW±68.800 kcal/jam
TOH-E100100 kW±86.000 kcal/jam
TOH-E120120 kW±103.200 kcal/jam
TOH-E140140 kW±120.400 kcal/jam
TOH-E160160 kW±137.600 kcal/jam
TOH-E180180 kW±154.800 kcal/jam
TOH-E200200 kW±172.000 kcal/jam

Perhitungan menggunakan konversi 1 kW = 860 kcal/jam.

Keunggulan Thermal Oil Heater Elektrik

  • Tidak menggunakan burner sehingga tidak menghasilkan emisi pembakaran.
  • Temperatur kerja stabil hingga 300°C.
  • Kontrol suhu menggunakan Digital PID Temperature Controller.
  • Efisiensi pemanasan tinggi karena energi listrik langsung dikonversi menjadi panas.
  • Operasi lebih senyap dibandingkan burner berbahan bakar minyak atau gas.
  • Perawatan lebih sederhana karena tidak memerlukan nozzle, fuel pump, atau gas train.
  • Sistem otomatis dengan proteksi suhu berlebih (Over Temperature Protection).
  • Cocok untuk area produksi yang membutuhkan lingkungan bersih.

Spesifikasi Umum

  • Kapasitas: 20–200 kW
  • Media Pemanas: Thermal Oil / Heat Transfer Fluid
  • Sumber Panas: Electric Heating Element
  • Temperatur Maksimum: 300°C
  • Tekanan Operasi: Rendah
  • Tegangan: 380–415 Volt, 3 Phase, 50 Hz
  • Material Coil: Carbon Steel Seamless Pipe atau Stainless Steel (opsional)
  • Insulasi: Rockwool High Density
  • Panel Kontrol: PLC atau PID Digital Controller
  • Pompa Sirkulasi: High Temperature Thermal Oil Pump
  • Sistem Proteksi: Over Temperature, Low Oil Level, Overload Motor, Emergency Stop

Aplikasi Thermal Oil Heater Elektrik

Thermal Oil Heater Elektrik banyak digunakan pada berbagai industri, antara lain:

  • Industri makanan dan minuman
  • Industri farmasi
  • Industri kosmetik
  • Industri kimia
  • Industri plastik
  • Industri karet
  • Mesin laminasi
  • Mesin printing
  • Powder coating oven
  • Laboratorium
  • Pilot plant
  • Tangki pemanas minyak
  • Jacket reactor
  • Heat exchanger

Komponen Utama

  • Electric Heating Element
  • Thermal Oil Circulation Pump
  • Expansion Tank
  • Electric Control Panel
  • Digital Temperature Controller
  • High Limit Thermostat
  • Pressure Gauge
  • Temperature Gauge
  • Safety Valve
  • Flow Switch
  • PT100 Temperature Sensor
  • Pipa dan Valve Thermal Oil

Keunggulan Dibandingkan Burner

Thermal Oil Heater ElektrikThermal Oil Heater Burner
Tidak menghasilkan emisiMenghasilkan gas buang
Tidak memerlukan cerobongMemerlukan cerobong
Perawatan lebih mudahMemerlukan servis burner berkala
Suhu lebih stabilBergantung pada proses pembakaran
Tidak memerlukan bahan bakarMenggunakan gas, solar, atau dual fuel
Operasi lebih senyapTerdapat suara blower burner

Layanan PT Indira Mitra Boiler

PT Indira Mitra Boiler melayani:

  • Desain dan fabrikasi Thermal Oil Heater Elektrik
  • Kapasitas 20 kW hingga 200 kW
  • Modifikasi sistem pemanas industri
  • Instalasi dan commissioning
  • Preventive maintenance
  • Supply thermal oil
  • Supply spare part
  • Service dan overhaul Thermal Oil Heater
  • Pembuatan panel kontrol listrik
  • Konsultasi desain sistem pemanas industri

Mengapa Memilih PT Indira Mitra Boiler?

  • Berpengalaman dalam sistem pemanas industri.
  • Menggunakan material berkualitas tinggi.
  • Desain sesuai kebutuhan proses pelanggan.
  • Dukungan teknis dan layanan purna jual.
  • Ketersediaan spare part lengkap.
  • Melayani pengiriman dan instalasi ke seluruh Indonesia.

 

 

LAMPIRAN 1
GAMBARA THERMAL OIL HEATER ELEKTRIC KAP. 40 KW

ELECTRIC THERMAL OIL HEATER 40KW
ELECTRIC THERMAL OIL HEATER 40KW

DESAIN
4. Thermal Oil bisa dibuat dalam konstruksi Vertikal guna menghemat ruangan dan efisien, Beberapa jenis burner di desain bisa menggunakan udara panas dengan menggunakan “Air Pre-Heater”, yaitu dengan memanfaatkan panas gas buang sisa pembakaran untuk memanaskan udara yang masuk ke burner, sehingga pembakaran lebih sempurna. Atau Thermal Oil di desain Horizontal, tergantung kebutuhan pengguna.

“Heating Coil” terbuat dari Heater Element, dengan koneksi Flange dari material SS sehingga akan tahan terhadap korosi. Heater Element di pasang pada Pipa Seamless Sch 40 PN 16 sebagai bejana tempat pemanasan Oli, Untuk memastikan tidak ada kebocoran maka terlebih
dahulu dilakukan “Pressure Test” dengan media gas/Nitrogen sampai 1,5 kali tekanan operasi.
Oli mengalir didalam Bejana yang terdapat Heater Element dengan kecepatan tertentu untuk menghindarkan panas berlebih pada lapisan oli yang bersentuhan dengan pipa coil, yang dapat mengakibatkan kerusakan molekul oli.
5. Aliran Arus Listrik pada Element Heater memanaskan aliran thermal oil diruang Bejana Element
Heater sebagai panas radiasi dan selanjutnya memanaskan Oli di dalam Bejana tempat Element Heater terpasang. Thermal Fluid Panas hasil dari pemanasan Heater Element dialirkan pada pipa menuju kea rah proses produksi dan dialirkan secara sirkulasi.

INSTRUMENT THERMAL OIL
6. Setiap unit dilengkapi dengan aksesoris, termasuk didalamnya adalah :
a. Heating Coil/unit TOH lengkap dengan cover.
b. Circulation Pump
c. Expansion Tank
d. Collecting Tank
e. Valve-Valve
f. Strainer
g. Fanal Pressure Switch
h. Magnetic Oil Level
i. Control Panel

DESAIN
4. Thermal Oil bisa dibuat dalam konstruksi Vertikal guna menghemat ruangan dan efisien, Beberapa jenis burner di desain bisa menggunakan udara panas dengan menggunakan “Air Pre-Heater”, yaitu dengan memanfaatkan panas gas buang sisa pembakaran untuk memanaskan udara yang masuk ke burner, sehingga pembakaran lebih sempurna. Atau Thermal Oil di desain Horizontal, tergantung kebutuhan pengguna.
“Heating Coil” terbuat dari Heater Element, dengan koneksi Flange dari material SS sehingga akan tahan terhadap korosi. Heater Element di pasang pada Pipa Seamless Sch 40 PN 16 sebagai bejana tempat pemanasan Oli, Untuk memastikan tidak ada kebocoran maka terlebih dahulu dilakukan “Pressure Test” dengan media gas/Nitrogen sampai 1,5 kali tekanan operasi.
Oli mengalir didalam Bejana yang terdapat Heater Element dengan kecepatan tertentu untuk menghindarkan panas berlebih pada lapisan oli yang bersentuhan dengan pipa coil, yang dapat mengakibatkan kerusakan molekul oli.

5. Aliran Arus Listrik pada Element Heater memanaskan aliran thermal oil diruang Bejana Element Heater sebagai panas radiasi dan selanjutnya memanaskan Oli di dalam Bejana tempat Element Heater terpasang. Thermal Fluid Panas hasil dari pemanasan Heater Element dialirkan pada pipa menuju kea rah proses produksi dan dialirkan secara sirkulasi.

INSTRUMENT THERMAL OIL
6. Setiap unit dilengkapi dengan aksesoris, termasuk didalamnya adalah :
a. Heating Coil/unit TOH lengkap dengan cover.
b. Circulation Pump
c. Expansion Tank
d. Collecting Tank
e. Valve-Valve
f. Strainer
g. Fanal Pressure Switch
h. Magnetic Oil Level
i. Control Panel

12. Contoh sifat-sifat Oli TOH adalah:
a. Density/kepadatan pada 2000C 760 Kg/m³
b. Spesific Heat 2.1 kJ/kgK
c. Flash Point 180 0C
d. Ignition Point/Titik Bakar 370 0C
e. Boiling point/Titik didih 330 0C
f. Pour point/titik tuang -18 0C
g. Koefisien Thermal expansion 0.00076/ 0C

THERMAL OIL FLOW LIMITER
13. Flow limiter adalah peralatan safety untuk membaca aliran dalam coil. Pada umumnya menggunakan “differential pressure switch” yang diinstal pada outlet thermal oil heater. Beberapa pabrikan memasang “pressure gauge with switch” untuk membaca tekanan oli pada Pipa Heater Element nya. Apabila tekanan kurang dari yang disarankan atau melebihi tekanan oprasi normal, maka Heater Electrik akan dimatikan secara otomatis. Hal ini terjadi apabila ditemukan penyumbatan pada pipa Oli atau pompa sirkulasi tidak berjalan semestinya.

EXPANSION TANK LOW LEVEL SENSOR
14. Pada expansion tank disarankan dilengkapi dengan pelampung level Oli. Setiap oli panas yang hilang akibat kebocoran ditunjukan dengan matinya TOH. Kebocoran ini biasanya ditemukan di pipa boiler, seal pompa sirkulasi, flange dan pipa di line sistem. Jika kebocoran ini terjadi didalam tungku pemanas, maka akan mengakibatkan kebakaran. Apabila sensor level oli tidak di pasang, maka operator harus memeriksa level oli pada level glass secara berkala.

KONTROL THERMAL OIL HEATER
15. Parameter utama dari thermal oil heater Electrik adalah dari temperatur operasi. Tekanan tidak begitu berpengaruh karena perbedaan tekanan tidak akan mempengaruhi suhu operasinya. Tekanan dalam sistem thermal oil pada dasarnya hanya tekanan pompa sirkulasi saja.

BAB 2
PENGOPRASIAN DAN PEMELIHARAAN
PERSYARATAN KOMPETENSI PERSONAL
1. Thermal oil heater adalah salah satu tipe dari mesin transfer panas, harus dioperasikan di bawah pengawasan langsung dari orang yang kompeten yang telah mengikuti pelatihan pengoprasian TOH.

Persiapan Sebelum Mengoperasikan Thermal Oil Heater

Sebelum Thermal Oil Heater (TOH) dioperasikan, operator harus melakukan pemeriksaan menyeluruh untuk memastikan seluruh sistem berada dalam kondisi aman dan siap beroperasi. Pemeriksaan awal ini bertujuan mencegah kerusakan peralatan, meningkatkan efisiensi operasi, serta mengurangi risiko kecelakaan kerja.

Operator harus memastikan bahwa seluruh prosedur berikut telah dilakukan sebelum menyalakan burner atau elemen pemanas.

Checklist Persiapan Sebelum Start-up

1. Pelajari Prosedur Pengoperasian

Baca dan pahami Manual Operasi serta Standard Operating Procedure (SOP) Thermal Oil Heater sebelum melakukan start-up. Pastikan operator memahami fungsi setiap komponen, sistem kontrol, serta prosedur keadaan darurat.

2. Periksa Kondisi Thermal Oil Heater

Lakukan inspeksi visual terhadap seluruh unit Thermal Oil Heater untuk memastikan tidak terdapat kerusakan pada body heater, coil, burner, panel kontrol, pompa sirkulasi, maupun sistem perpipaan.

Pastikan tekanan dan temperatur maksimum yang diizinkan masih sesuai dengan spesifikasi pabrikan.

3. Periksa Instrumen Keselamatan

Pastikan seluruh instrumen bekerja dengan baik, antara lain:

  • Pressure Gauge
  • Temperature Gauge
  • PT100 Temperature Sensor
  • High Limit Thermostat
  • Flow Switch
  • Pressure Switch
  • Low Level Switch
  • Safety Valve
  • Alarm System

Instrumen yang mengalami kerusakan harus segera diperbaiki atau diganti sebelum unit dioperasikan.

4. Periksa Level Thermal Oil

Pastikan level thermal oil pada Expansion Tank berada pada batas normal sesuai indikator Level Glass atau Level Indicator.

Selain itu, periksa seluruh jalur pipa untuk memastikan:

  • Tidak terdapat kebocoran.
  • Valve berada pada posisi operasi.
  • Jalur sirkulasi tidak tersumbat.
  • Tidak terdapat udara yang terjebak di dalam sistem.

5. Periksa Sistem Kelistrikan

Pastikan sistem kelistrikan berada dalam kondisi normal, meliputi:

  • Tegangan suplai listrik sesuai spesifikasi.
  • MCCB dan MCB dalam kondisi baik.
  • Panel kontrol berfungsi normal.
  • Motor pompa bekerja dengan baik.
  • Grounding terpasang dengan benar.
  • Tidak terdapat kabel yang rusak atau longgar.

6. Periksa Ruang Thermal Oil Heater

Pastikan ruang Thermal Oil Heater:

  • Bersih dari tumpahan thermal oil.
  • Bebas dari material mudah terbakar.
  • Memiliki ventilasi yang baik.
  • Memiliki pencahayaan yang cukup.
  • Jalur evakuasi tidak terhalang.

Lingkungan kerja yang bersih akan mengurangi risiko kebakaran dan memudahkan proses inspeksi.

7. Periksa Ketersediaan APAR

Pastikan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) tersedia, mudah dijangkau, dan masih berada dalam masa berlaku inspeksi.

Jenis APAR yang direkomendasikan meliputi:

  • APAR Foam (AFFF) untuk kebakaran bahan bakar cair.
  • APAR Dry Chemical Powder (DCP) untuk kebakaran umum dan listrik.
  • APAR CO₂ untuk panel listrik dan peralatan elektrikal.

Operator juga harus mengetahui lokasi APAR, Emergency Stop, Emergency Fuel Shut-Off Valve, serta jalur evakuasi sebelum memulai operasi.

Tujuan Pemeriksaan Sebelum Start-up

Pemeriksaan sebelum pengoperasian bertujuan untuk:

  • Memastikan Thermal Oil Heater siap dioperasikan dengan aman.
  • Mencegah kebocoran thermal oil dan bahan bakar.
  • Mengurangi risiko kebakaran dan ledakan.
  • Menjamin seluruh sistem kontrol bekerja dengan baik.
  • Meningkatkan efisiensi operasi.
  • Memperpanjang umur Thermal Oil Heater dan seluruh komponennya.
  • Mengurangi risiko downtime akibat kerusakan yang tidak terdeteksi.

Dengan melaksanakan checklist pemeriksaan sebelum start-up secara konsisten, operator dapat menjaga keselamatan kerja, meningkatkan keandalan Thermal Oil Heater, serta memastikan proses pemanasan berlangsung secara aman, efisien, dan sesuai standar operasional.

.

Pemantauan Selama Pengoperasian Thermal Oil Heater

Selama Thermal Oil Heater (TOH) beroperasi, operator harus melakukan pemantauan secara terus-menerus terhadap seluruh parameter operasi. Monitoring yang baik bertujuan untuk mendeteksi sejak dini adanya penyimpangan kondisi operasi sehingga kerusakan peralatan maupun kecelakaan kerja dapat dicegah.

Seluruh hasil pengamatan sebaiknya dicatat pada Log Sheet Operasi Thermal Oil Heater sebagai bahan evaluasi dan program preventive maintenance.

Checklist Pemantauan Operasi

1. Tekanan, Temperatur, dan Aliran Thermal Oil

Operator harus memantau secara berkala:

  • Tekanan thermal oil.
  • Temperatur inlet dan outlet Thermal Oil Heater.
  • Laju aliran (flow rate) thermal oil.

Parameter tersebut harus berada dalam rentang operasi yang direkomendasikan oleh pabrikan. Perubahan tekanan atau penurunan aliran dapat mengindikasikan adanya penyumbatan, kerusakan pompa, atau kebocoran pada sistem.

2. Level Thermal Oil pada Expansion Tank

Periksa level thermal oil melalui Level Glass atau Level Indicator pada Expansion Tank.

Penurunan level thermal oil secara tiba-tiba dapat mengindikasikan adanya kebocoran pada pipa, flange, valve, atau komponen lainnya. Sebaliknya, level yang terlalu tinggi juga perlu diperiksa karena dapat menunjukkan ekspansi fluida yang tidak normal atau pengisian yang berlebihan.

3. Kondisi Pembakaran Burner

Amati kondisi nyala api pada ruang bakar (combustion chamber).

Pembakaran yang baik ditandai dengan:

  • Nyala api stabil.
  • Tidak menghasilkan asap hitam.
  • Tidak terjadi flame pulsation.
  • Tidak terdengar ledakan kecil (backfire).

Apabila warna api berubah atau burner sering mengalami lockout, segera lakukan pemeriksaan terhadap nozzle, tekanan bahan bakar, blower udara, flame sensor, dan pengaturan rasio udara-bahan bakar (air-fuel ratio).

4. Kebisingan dan Getaran Sistem

Perhatikan adanya suara atau getaran yang tidak normal pada pompa, pipa, maupun Thermal Oil Heater.

Getaran berlebihan dapat disebabkan oleh:

  • Kontaminasi air di dalam thermal oil.
  • Kavitasi pada pompa sirkulasi.
  • Bearing pompa aus.
  • Misalignment coupling.
  • Udara terjebak dalam sistem (air lock).

Apabila terdengar suara mendidih, hentakan, atau getaran yang tidak normal, segera lakukan pemeriksaan sebelum kerusakan menjadi lebih serius.

5. Perbedaan Temperatur Inlet dan Outlet

Monitor selisih temperatur (ΔT) antara thermal oil yang masuk (return) dan keluar (supply) dari Thermal Oil Heater.

Perbedaan temperatur yang tidak normal dapat menunjukkan:

  • Debit aliran thermal oil terlalu kecil.
  • Fouling pada coil heater.
  • Penurunan efisiensi perpindahan panas.
  • Kapasitas burner tidak sesuai.
  • Kerusakan pompa sirkulasi.

Pemantauan ΔT secara rutin membantu menjaga efisiensi sistem dan mendeteksi gangguan lebih awal.

6. Pemeriksaan Kebocoran

Lakukan inspeksi visual terhadap seluruh jalur perpipaan untuk memastikan tidak terdapat kebocoran thermal oil pada:

  • Flange.
  • Valve.
  • Level Gauge.
  • Pressure Gauge.
  • Mechanical Seal pompa.
  • Gasket.
  • Sambungan pipa.
  • Expansion Tank.

Kebocoran thermal oil harus segera diperbaiki karena dapat menimbulkan risiko kebakaran serta menyebabkan penurunan level thermal oil dalam sistem.

7. Kondisi Pompa Sirkulasi

Pastikan pompa sirkulasi bekerja secara normal.

Periksa secara berkala:

  • Tekanan discharge pompa.
  • Tekanan suction pompa.
  • Suara bearing.
  • Temperatur motor.
  • Getaran pompa.
  • Kebocoran mechanical seal.
  • Arus listrik motor.

Pompa yang bekerja tidak normal akan mengurangi sirkulasi thermal oil sehingga dapat menyebabkan overheating pada coil heater.

Tujuan Pemantauan Operasi

Pemantauan selama pengoperasian bertujuan untuk:

  • Menjaga operasi Thermal Oil Heater tetap aman.
  • Mendeteksi gangguan sejak dini sebelum menjadi kerusakan besar.
  • Mengoptimalkan efisiensi perpindahan panas.
  • Mengurangi konsumsi bahan bakar.
  • Memperpanjang umur thermal oil dan peralatan.
  • Menghindari downtime produksi.
  • Menjamin keselamatan operator dan lingkungan kerja.

Dengan melakukan pemantauan secara konsisten serta mencatat seluruh parameter operasi dalam Log Sheet Harian, keandalan Thermal Oil Heater dapat dipertahankan, biaya perawatan dapat ditekan, dan umur pakai sistem menjadi lebih panjang.

DATA OPERASIONAL
4. Data berikut ini harus dibaca dan selalu diingat :
a. Temperature inlet dan outlet TOH
b. Tekanan Oli
c. Flow Oli
d. Level Oli pada expansion tank
e. Temperature gas buang

Pencegahan Kecelakaan Saat Pengoperasian Thermal Oil Heater

Keselamatan kerja merupakan prioritas utama dalam pengoperasian Thermal Oil Heater (TOH). Operator wajib mematuhi seluruh prosedur operasi, menggunakan alat pelindung diri (APD), serta memastikan seluruh sistem keselamatan berfungsi dengan baik sebelum dan selama unit beroperasi.

Kecelakaan kerja dapat dicegah melalui disiplin dalam menjalankan prosedur operasi, inspeksi berkala, serta pemeliharaan peralatan secara rutin.

Hal-hal yang Harus Diperhatikan Operator

1. Jangan Mengubah Pengaturan Safety Valve

Operator dilarang membuka segel (seal) atau mengubah setelan Safety Valve yang terpasang pada sistem Thermal Oil Heater.

Safety Valve merupakan perangkat keselamatan yang telah dikalibrasi sesuai tekanan desain sistem. Pengaturan ulang hanya boleh dilakukan oleh personel yang berwenang dan menggunakan peralatan kalibrasi yang sesuai.

2. Jangan Menonaktifkan Perangkat Keselamatan

Operator tidak diperbolehkan mengubah, melewati (bypass), atau menonaktifkan perangkat keselamatan seperti:

  • High Temperature Cut-Out
  • Low Oil Level Switch
  • Flow Switch
  • Pressure Switch
  • Burner Safety Control
  • Emergency Stop
  • Flame Failure Protection

Seluruh perangkat tersebut dirancang untuk melindungi sistem dari kondisi operasi yang berbahaya.

3. Jangan Mengoperasikan Unit Melebihi Batas Desain

Thermal Oil Heater harus dioperasikan sesuai spesifikasi yang ditetapkan oleh pabrikan.

Operator tidak diperbolehkan menjalankan sistem pada:

  • Temperatur thermal oil di atas batas maksimum yang direkomendasikan.
  • Tekanan operasi melebihi tekanan desain sistem.
  • Kapasitas pembakaran yang melebihi kemampuan coil heater.

Pengoperasian di luar batas desain dapat menyebabkan degradasi thermal oil, kerusakan coil, hingga meningkatkan risiko kebakaran.

4. Jangan Melakukan Modifikasi Tanpa Persetujuan

Setiap modifikasi terhadap Thermal Oil Heater, burner, panel kontrol, sistem perpipaan, maupun perangkat keselamatan harus memperoleh persetujuan dari produsen atau perusahaan teknik yang kompeten.

Modifikasi tanpa analisis teknis dapat mengurangi tingkat keselamatan dan membatalkan garansi peralatan.

5. Uji Perangkat Keselamatan Secara Berkala

Seluruh perangkat keselamatan harus diperiksa dan diuji secara berkala untuk memastikan berfungsi dengan baik.

Perangkat yang harus diuji antara lain:

  • Safety Valve (jika dipasang pada sistem).
  • High Temperature Cut-Out.
  • Low Level Switch.
  • Flow Switch.
  • Pressure Switch.
  • Burner Flame Safeguard.
  • Alarm System.
  • Emergency Stop.

Hasil pengujian harus didokumentasikan dalam log book inspeksi sebagai bagian dari program preventive maintenance.

6. Lakukan Perawatan dan Overhaul Secara Berkala

Thermal Oil Heater beserta seluruh komponen pendukung harus dirawat sesuai jadwal yang direkomendasikan.

Program pemeliharaan meliputi:

  • Pemeriksaan burner.
  • Pemeriksaan pompa sirkulasi.
  • Pemeriksaan expansion tank.
  • Analisis kualitas thermal oil.
  • Pemeriksaan sistem kontrol.
  • Pembersihan coil heater.
  • Pemeriksaan ducting dan cerobong.
  • Kalibrasi instrumen.

Apabila diperlukan pekerjaan overhaul, pelaksanaannya sebaiknya dilakukan oleh perusahaan yang memiliki kompetensi di bidang Thermal Oil Heater dengan mengikuti prosedur inspeksi dan standar keselamatan yang berlaku.

Tujuan Pencegahan Kecelakaan

Penerapan prosedur keselamatan dalam pengoperasian Thermal Oil Heater (TOH) bertujuan untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman, menjaga keandalan peralatan, serta menjamin kelangsungan proses produksi. Kepatuhan terhadap prosedur operasi dan pemeliharaan yang benar merupakan langkah utama dalam mencegah kecelakaan kerja, kerusakan peralatan, maupun kerugian akibat penghentian produksi.

Beberapa tujuan utama penerapan prosedur keselamatan meliputi:

  • Melindungi keselamatan operator, teknisi, dan seluruh personel yang berada di sekitar instalasi Thermal Oil Heater.
  • Mencegah terjadinya kebakaran, ledakan, kebocoran thermal oil, serta kegagalan sistem yang dapat membahayakan lingkungan kerja.
  • Menjaga Thermal Oil Heater, burner, pompa sirkulasi, expansion tank, sistem perpipaan, dan instrumen kontrol tetap beroperasi dalam kondisi optimal.
  • Memastikan seluruh perangkat keselamatan, seperti Safety Valve, High Temperature Cut-Out, Flow Switch, Low Level Switch, dan Emergency Stop, selalu berfungsi dengan baik.
  • Mengurangi risiko kerusakan akibat pengoperasian pada temperatur atau tekanan yang melebihi batas desain.
  • Mempertahankan efisiensi perpindahan panas sehingga konsumsi bahan bakar atau energi listrik tetap optimal.
  • Memperpanjang umur pakai thermal oil, coil heater, burner, pompa sirkulasi, serta komponen pendukung lainnya.
  • Mengurangi biaya perawatan, perbaikan, dan penggantian komponen akibat kerusakan yang dapat dicegah.
  • Meminimalkan risiko downtime produksi sehingga produktivitas perusahaan tetap terjaga.
  • Memastikan seluruh kegiatan operasi dan pemeliharaan memenuhi persyaratan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), standar industri, serta peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Selain itu, perusahaan disarankan menerapkan program preventive maintenance, inspeksi berkala, pengujian perangkat keselamatan, serta pelatihan operator secara rutin. Langkah-langkah tersebut akan membantu mendeteksi potensi gangguan sejak dini, sehingga tindakan perbaikan dapat dilakukan sebelum berkembang menjadi kerusakan yang lebih serius.

Dengan menerapkan prosedur keselamatan secara konsisten, didukung oleh operator yang kompeten dan program pemeliharaan yang terjadwal, Thermal Oil Heater dapat beroperasi secara aman, efisien, andal, dan berkelanjutan. Penerapan budaya keselamatan (safety culture) yang baik tidak hanya melindungi aset perusahaan, tetapi juga meningkatkan keandalan sistem, mengurangi biaya operasional, dan menjaga kelancaran proses produksi dalam jangka panjang.

PROSEDURE MEMATIKAN SISTEM THERMAL OIL
6. Operator harus memperhatikan hal-hal berikut ini saat mematikan/shutting down thermal oil heater :
a. Setelah mematikan burner, pompa sirkulasi harus tetap beroprasi sampai temperature Oli dibawah 100 °C.
b. Pendinginan diarahkan ke pompa sirkulasi, itu pun jika ada, dan tidak boleh terganggu sampai suhu pompa turun.
c. Direkomendasikan juga untuk menutup valve bahan bakar dan mengamankan suplai power/electrical jika pabrik berhenti produksi dalam jangka waktu yang lama.

PERAWATAN RUTIN
7. Untuk mempertahankan fungsi thermal oil agar tetap baik, point-point berikut ini harus diperhatikan :
a. Sampel oli thermal oil harus diawasi inspector, kemudian dibawa ke laboratorium untuk tujuan analisa rutinitas servis berkala. Hasil spesifikasi analisa di simpan dan dijadikan referensi user.
b. Buku catatan referensi data thermal oil harus disimpan baik-baik oleh orang yang bertanggung jawab untuk dijadikan catatan dengan dicantumkan tanggal.
c. Pemeriksaan berkala thermal oil heater harus dilakukan dengan alat bantu keselamatan dan dilakukan secara periodik.
d. Perangkat safety TOH harus diperiksa secara berkala :
1) Setingan safety valve (jika dipasang)
2) Alarm aliran terendah (Low Flow)
3) Alarm aliran tertinggi (Hi Flow)
4) Alarm maximal high temperature yang diizinkan
5) Sirkulasi pompa/burner interlock
6) Alarm low level pada expansion tank (jika dipasang)

7) Alarm gagal pembakaran
8) Alarm high temperature gas buang

KESALAHAN UMUM PADA PENGOPRASIAN THERMAL OIL HEATER
8. Over pressure/tekanan berlebih

Penyebab:
a. Penyumbatan di pipa
b. Valve utama kondisi tertutup
c. Kesalahan fungsi sirkulasi PRV (Pump Relieve Valve jika ada)

Perbaikan:
a. Periksa valve-valve dan pipa
b. Periksa reliefe valve
9. Laju aliran Oli rendah

Penyebab:
a. Filter kotor
b. Performa pompa mengalami penurunan
c. Valve suction (hisap) sengaja ditutup

Perbaikan:
a. Bersihkan filter
b. Periksa putaran pompa dan motornya
c. Check valve utama
10. Temperature oli tinggi

Penyebab:
a. Temperature control tidak berfungsi dengan baik

b. Flow rate/aliran Oli rendah
c. Kesalahan kalibrasi pada temperature controller

Perbaikan:
a. Check temperature control dan kalibrasikan dengan thermometer dengan akurat
b. Check pompa sirkulasi
11. Low level pada expansion tank

Penyebab:
a. Kerusakan pada level controller
b. Terjadi kebocoran pada sistem
Perbaikan:
a. Check level controller
b. Check kebocoran di keseluruhan sistem
12. Gagal penyalaan burner

Penyebab:
a. Filter tertutup atau ada air di bahan bakar
b. Pompa bahan bakar rusak
c. Kerusakan burner
d. Flame detector/photo cell rusak

Perbaikan:
a. Bersihkan semua filter dan keluarkan air dari sistem
b. Check sistem bahan bakar dan flame detector

13. Temperature gas buang tinggi
Penyebab:
a. Kebocoran di pipa coil
b. Ruang bakar kotor dan ada penyerapan bahan bakar
c. Kesalahan rasio bahan bakar dan udara (komposisi bahan bakar dan udara tidak tepat)
d. Filter udara tertutup

Perbaikan:
a. Bersihkan ruang bakar/chamber
b. Bersihkan filter udara
c. Periksa setiap kebocoran di pipa coil
14. Differensial Pressure tidak normal

Penyebab:
a. Penyebab utamanya adalah aliran yang lambat
b. Penyumbatan pada pipa tubing
c. Kerusakan unit Differential Pressure

Perbaikan:
a. Bersihkan filter
b. Periksa kecepatan pompa dan motor penggerak nya
c. Check valve utama
d. Bersihkan pipa tubing dari sumbatan
e. Periksa kinerja Differential Pressure
15. Kebisingan dan getaran pada jalur pemipaan

Penyebab:
a. Terdapat gas/udara atau air didalam sistem/pipa oli
b. Instalasi pipa Oli terlalu banyak berkelok

c. Ada air di dalam pipa sistem

Perbaikan:
a. Buang kandungan air di expansion tank
b. Chek ventilasi udara
c. Periksa seal pada pompa sirkulasi

16. Catatan :
a. Ketika thermal oil dimatikan karena kondisi abnormal ataupun karena sengaja dimatikan,maka pompa sirkulasi harus tetap dijalankan sekitar 15 menit atau lebih lama sesuaidengan yang di anjurkan oleh pembuat TOH. Semua kondisi kerusakan harus diperbaiki terlebih dahulu sebelum thermal oil hendak dinyalakan kembali.
b. Sebelum dilakukan perbaikan pada bagian/parts yang bertekanan, maka hal itu harus dilakukan di bawah pengawasan inspector boiler atau pabrik pembuat.
c. Ketika suhu oli telah diturunkan, bagian dari mesin dapat diisolasi dan dikosongkan sampai kering kemudian dibilas untuk mencegah pembentukan campuran yang dapat meledak. gas inert juga dapat dimasukkan ke bagian yang diperbaiki selama proses hotwork.

 

BAB 3 PROSEDUR KESELAMATAN SAAT PENGOPERASIAN DAN PEMELIHARAAN THERMAL OIL HEATER

Pengoperasian Thermal Oil Heater (TOH) harus dilakukan sesuai prosedur keselamatan kerja untuk melindungi personel, menjaga keandalan peralatan, serta mencegah terjadinya kebakaran maupun kerusakan sistem.

3.1 Tangki Ekspansi (Expansion Tank)

Thermal Oil Heater harus dilengkapi dengan Expansion Tank yang memiliki kapasitas sesuai dengan volume thermal oil di dalam sistem. Tangki ekspansi berfungsi menampung pemuaian thermal oil akibat kenaikan temperatur selama operasi.

Expansion Tank harus dilengkapi dengan:

  • Level Glass (Sight Glass)
  • Level Indicator
  • Low Level Switch
  • Vent Pipe
  • Overflow Pipe

Operator harus memastikan bahwa level thermal oil selalu berada pada batas aman sebelum unit dioperasikan.

3.2 Ruang Thermal Oil Heater

Thermal Oil Heater beserta seluruh instrumen kontrol, panel listrik, dan sistem pembakaran sebaiknya ditempatkan pada ruang khusus yang memiliki ventilasi memadai, pencahayaan yang cukup, serta akses yang mudah untuk kegiatan inspeksi dan pemeliharaan.

Area instalasi harus bebas dari bahan mudah terbakar dan memenuhi persyaratan keselamatan kerja yang berlaku.

3.3 Valve Inlet dan Outlet

Valve inlet maupun outlet thermal oil harus dipasang pada posisi yang mudah dijangkau dan dapat dipantau dari luar unit.

Penempatan valve yang baik akan memudahkan operator melakukan isolasi sistem apabila terjadi keadaan darurat maupun saat pelaksanaan pekerjaan pemeliharaan.

3.4 Flange Tidak Boleh Diisolasi

Seluruh sambungan flange pada jalur thermal oil tidak disarankan ditutup sepenuhnya oleh material isolasi.

Hal ini bertujuan agar kebocoran thermal oil dapat segera diketahui melalui inspeksi visual sehingga risiko kebakaran dapat diminimalkan.

3.5 Spesifikasi Thermal Oil

Setiap thermal oil yang digunakan harus memiliki Technical Data Sheet (TDS) dan Material Safety Data Sheet (MSDS/SDS) dari pemasok.

Dokumen tersebut harus memuat informasi mengenai:

  • Maximum Bulk Temperature
  • Maximum Film Temperature
  • Flash Point
  • Fire Point
  • Auto Ignition Temperature
  • Viskositas
  • Density
  • Specific Heat
  • Rekomendasi masa pakai

3.6 Temperatur Operasi

Temperatur operasi Thermal Oil Heater tidak boleh melebihi batas maksimum yang direkomendasikan oleh produsen thermal oil.

Operasi pada temperatur yang terlalu tinggi dapat menyebabkan:

  • Oksidasi thermal oil
  • Thermal cracking
  • Pembentukan sludge
  • Penurunan flash point
  • Penurunan efisiensi perpindahan panas
  • Kerusakan coil heater

3.7 Ventilasi Expansion Tank

Ventilasi pada Expansion Tank harus dilengkapi Flame Arrestor (penahan api) untuk mencegah rambatan api ke dalam tangki.

Selain itu, ventilasi harus selalu bersih dari debu, cat, maupun kotoran agar sirkulasi udara tetap berjalan dengan baik.

3.8 Rambu Keselamatan

Seluruh area Thermal Oil Heater harus dilengkapi dengan:

  • Rambu Bahaya Panas
  • Rambu Dilarang Merokok
  • Rambu Bahan Mudah Terbakar
  • Petunjuk Pengoperasian Darurat
  • Jalur Evakuasi

Rambu harus ditempatkan pada lokasi yang mudah terlihat oleh operator.

3.9 Pengoperasian Sesuai SOP

Thermal Oil Heater hanya boleh dioperasikan oleh operator yang telah mendapatkan pelatihan.

Setiap proses start-up, operasi normal, shutdown, maupun keadaan darurat harus mengikuti Standard Operating Procedure (SOP) yang telah ditetapkan perusahaan.

3.10 Pengelolaan Thermal Oil Bekas

Thermal oil yang telah mengalami degradasi atau tidak memenuhi spesifikasi operasi tidak boleh digunakan kembali.

Pembuangan thermal oil bekas harus mengikuti peraturan lingkungan hidup yang berlaku dan dilakukan melalui perusahaan pengelola limbah berizin.

BAB 4 PENCEGAHAN DAN PENANGANAN KEBAKARAN PADA THERMAL OIL HEATER

Karena thermal oil merupakan fluida yang dapat terbakar, sistem Thermal Oil Heater memerlukan perhatian khusus terhadap aspek keselamatan dan pencegahan kebakaran.

4.1 Karakteristik Bahan Bakar

Bahan bakar cair memiliki tingkat penguapan yang berbeda-beda. Semakin rendah flash point, semakin mudah bahan bakar menghasilkan uap yang dapat bercampur dengan udara membentuk campuran mudah terbakar.

Apabila campuran tersebut terkena sumber penyalaan, dapat terjadi kebakaran bahkan ledakan.

Oleh karena itu, sistem pembakaran harus selalu dijaga agar bekerja dengan sempurna.

4.2 Potensi Kebakaran Thermal Oil Heater

Dibandingkan sistem boiler uap, Thermal Oil Heater memiliki potensi kebakaran yang lebih tinggi karena media penghantar panas berupa thermal oil merupakan cairan yang mudah terbakar apabila mengalami kebocoran dan terkena sumber panas.

Namun demikian, dengan desain yang benar, sistem proteksi yang lengkap, serta program preventive maintenance yang baik, risiko tersebut dapat dikendalikan.

4.3 Degradasi Thermal Oil

Thermal oil yang mengalami temperatur berlebihan akan mengalami thermal cracking, yaitu putusnya rantai molekul akibat panas.

Akibatnya akan terbentuk:

  • Sludge
  • Endapan karbon
  • Gas hasil degradasi
  • Penurunan Flash Point
  • Penurunan kualitas thermal oil

Kondisi tersebut meningkatkan risiko kebakaran dan menurunkan efisiensi sistem.

4.4 Temperatur Operasi yang Aman

Temperatur operasi Thermal Oil Heater harus selalu berada di bawah batas maksimum yang direkomendasikan oleh produsen thermal oil.

Operator tidak disarankan menaikkan temperatur melebihi spesifikasi meskipun sistem masih mampu beroperasi, karena dapat mempercepat degradasi thermal oil dan meningkatkan risiko kegagalan peralatan.

4.5 Kebocoran Thermal Oil

Kebocoran thermal oil dapat terjadi pada:

  • Flange
  • Valve
  • Gasket
  • Mechanical Seal
  • Pipa
  • Coil Heater

Apabila thermal oil panas bocor ke atmosfer dan mengenai permukaan yang bersuhu tinggi, maka dapat terjadi kebakaran.

Risiko akan semakin besar apabila kebocoran terjadi di dalam ruang bakar (furnace) atau ruang boiler dengan ventilasi yang kurang baik.

Oleh karena itu, inspeksi kebocoran harus dilakukan secara berkala.

4.6 Kerusakan Coil Heater

Beberapa faktor yang dapat menyebabkan kerusakan coil heater antara lain:

  • Penumpukan jelaga (soot) pada permukaan luar coil.
  • Penumpukan karbon (coke) di dalam coil.
  • Pembakaran yang tidak sempurna.
  • Sirkulasi thermal oil yang kurang baik.
  • Start-up terlalu cepat sehingga coil menerima panas tinggi saat masih dingin.
  • Overheating akibat kegagalan kontrol temperatur.

Kerusakan coil dapat menyebabkan kebocoran thermal oil, penurunan efisiensi, hingga penghentian operasi.

BAB 4 PENCEGAHAN KEBAKARAN, PEMADAMAN KEBAKARAN, DAN PERALATAN PEMADAM

4.7 Pencegahan Kebakaran

Pencegahan kebakaran merupakan langkah utama dalam pengoperasian Thermal Oil Heater maupun Steam Boiler. Sebagian besar kebakaran dapat dicegah melalui inspeksi rutin, pengoperasian yang benar, dan pemeliharaan yang terjadwal.

4.7.1 Tangki Penyimpanan Bahan Bakar

Tangki penyimpanan bahan bakar cair harus diperiksa secara berkala untuk memastikan tidak terjadi kebocoran maupun kontaminasi.

Beberapa tindakan pencegahan yang harus dilakukan meliputi:

  • Membersihkan tumpahan bahan bakar atau cairan lain di sekitar tangki dan jalur pipa.
  • Memastikan ventilasi tangki bekerja dengan baik.
  • Mencegah terbentuknya campuran uap bahan bakar dan udara dalam konsentrasi yang mudah terbakar.
  • Memeriksa kondisi valve, flange, dan sambungan pipa secara berkala.
  • Menjauhkan sumber api terbuka dari area penyimpanan bahan bakar.

4.7.2 Ventilasi dan Peralatan Darurat

Ruang Thermal Oil Heater harus memiliki ventilasi yang memadai, terutama apabila menggunakan bahan bakar gas seperti LPG, LNG, atau Natural Gas.

Selain itu, beberapa peralatan keselamatan harus tersedia, antara lain:

  • APAR sesuai klasifikasi bahaya.
  • Kotak berisi pasir kering.
  • Alarm kebakaran.
  • Emergency Shut Off Valve.
  • Emergency Stop Switch.

Apabila terdeteksi kebocoran bahan bakar, segera:

  • Hentikan suplai bahan bakar.
  • Matikan burner.
  • Isolasi area.
  • Hindari menyalakan atau mematikan peralatan listrik yang dapat memicu percikan.

4.7.3 Penanganan Limbah Thermal Oil

Limbah thermal oil maupun oli bekas dapat terbakar apabila terkena sumber panas atau percikan api.

Oleh karena itu:

  • Simpan limbah thermal oil di dalam drum logam yang tertutup rapat.
  • Jangan menggunakan wadah plastik yang tidak sesuai.
  • Segera kirim limbah kepada pengelola limbah B3 yang memiliki izin resmi.
  • Jangan membuang thermal oil ke saluran air maupun lingkungan.

4.7.4 Housekeeping

Kebersihan area kerja merupakan salah satu langkah paling efektif untuk mencegah kebakaran.

Operator harus:

  • Membersihkan tumpahan thermal oil.
  • Membersihkan jelaga di sekitar burner.
  • Membersihkan ruang boiler dari material mudah terbakar.
  • Menjaga area instalasi tetap rapi.

Sebagian besar kecelakaan maupun ledakan bukan disebabkan oleh kerusakan alat, melainkan karena kurangnya disiplin terhadap prosedur keselamatan.

4.8 Pemadaman Kebakaran

Apabila terjadi kebakaran pada ruang Thermal Oil Heater maupun Boiler, operator harus tetap tenang dan mengikuti prosedur keadaan darurat.

Langkah-langkah Darurat

  1. Aktifkan alarm kebakaran.
  2. Hubungi tim tanggap darurat atau pemadam kebakaran.
  3. Matikan burner.
  4. Tutup Emergency Fuel Shut Off Valve.
  5. Tutup damper udara pembakaran apabila memungkinkan.
  6. Putuskan suplai listrik sesuai prosedur apabila kondisi memungkinkan dan aman.
  7. Gunakan APAR yang sesuai dengan klasifikasi kebakaran.
  8. Evakuasi personel apabila api tidak dapat dikendalikan.

4.9 Kebakaran Thermal Oil

Thermal oil merupakan cairan yang mudah terbakar apabila mencapai temperatur di atas flash point dan terkena sumber penyalaan.

Apabila terjadi kebakaran thermal oil:

  • Hentikan suplai bahan bakar ke burner.
  • Tutup valve thermal oil apabila diperlukan.
  • Gunakan APAR Foam (AFFF) atau Dry Chemical Powder (DCP) sesuai prosedur perusahaan.
  • Pasir kering dapat digunakan untuk membatasi penyebaran tumpahan thermal oil pada area kecil.

Catatan Keselamatan:

Penggunaan air secara langsung pada kebakaran thermal oil tidak dianjurkan karena dapat menyebabkan penyebaran minyak yang terbakar. Apabila digunakan dalam kondisi tertentu, air hanya dipakai untuk mendinginkan peralatan atau struktur di sekitar kebakaran, bukan diarahkan langsung ke permukaan minyak yang terbakar, kecuali mengikuti prosedur pemadaman yang telah ditetapkan oleh petugas pemadam kebakaran.

Ruang boiler sebaiknya dilengkapi minimal satu unit APAR Foam kapasitas 9 liter atau sesuai hasil analisis risiko dan peraturan K3 yang berlaku.

4.10 Kebakaran Listrik

Apabila kebakaran melibatkan panel listrik, motor, kabel, atau peralatan bertegangan:

  • Putuskan sumber listrik apabila aman dilakukan.
  • Gunakan APAR CO₂ atau Dry Chemical Powder (DCP).
  • Jangan menggunakan air atau busa pada instalasi listrik yang masih bertegangan.

4.11 Peralatan Pemadam Kebakaran

Ruang Thermal Oil Heater harus dilengkapi dengan APAR yang sesuai dengan jenis bahaya yang mungkin terjadi.

APAR Foam (AFFF)

APAR Foam digunakan untuk kebakaran:

  • Thermal Oil
  • Solar
  • Minyak pelumas
  • Oli hidrolik
  • Bahan bakar cair lainnya

Foam bekerja dengan membentuk lapisan di atas permukaan cairan sehingga memutus kontak antara bahan bakar dan oksigen.

Tidak digunakan untuk:

  • Kebakaran instalasi listrik bertegangan.

APAR Dry Chemical Powder (DCP)

Dry Chemical Powder merupakan APAR yang paling umum digunakan pada industri.

Dapat digunakan untuk:

  • Kebakaran kelas A
  • Kebakaran kelas B
  • Kebakaran kelas C (listrik)

Keunggulan:

  • Tidak menghantarkan listrik.
  • Tidak korosif.
  • Efektif memutus reaksi pembakaran.

Cara penggunaan mengikuti metode PASS:

  • Pull → Tarik pin pengaman.
  • Aim → Arahkan nozzle ke pangkal api.
  • Squeeze → Tekan tuas.
  • Sweep → Ayunkan semprotan ke kanan dan kiri hingga api padam.

APAR Karbon Dioksida (CO₂)

APAR CO₂ digunakan terutama untuk:

  • Panel listrik.
  • Motor listrik.
  • MCC.
  • Panel kontrol.
  • Peralatan elektronik.

Keunggulan:

  • Tidak meninggalkan residu.
  • Tidak merusak peralatan elektronik.
  • Tidak menghantarkan listrik.

4.12 Kode Warna APAR

Jenis APARWarna IdentifikasiPenggunaan
Air (Water)MerahMaterial padat (Kelas A)
Foam (AFFF)KremCairan mudah terbakar (Kelas B)
CO₂HitamPeralatan listrik
Dry Chemical PowderBiruKelas A, B, dan C

Catatan: Di beberapa negara, warna tabung APAR dapat berbeda mengikuti standar lokal (misalnya EN3 atau NFPA). Oleh karena itu, selalu mengacu pada label jenis media pemadam yang tertera pada tabung, bukan hanya warna tabungnya.

4.13 Api Serapan (Chimney Fire / Soot Fire)

Api serapan adalah kebakaran yang terjadi akibat penumpukan jelaga, karbon, dan sisa bahan bakar yang tidak terbakar sempurna pada ducting, ruang gas buang, atau cerobong asap. Penumpukan ini dapat menyala ketika terkena temperatur gas buang yang tinggi dan berpotensi merusak ducting, cerobong, serta insulasi.

Penanganan Api Serapan

Apabila terjadi api serapan:

  1. Hentikan suplai bahan bakar ke burner.
  2. Matikan burner sesuai prosedur darurat.
  3. Tutup damper udara pembakaran untuk mengurangi suplai oksigen.
  4. Pantau temperatur ducting dan cerobong.
  5. Gunakan media pemadam sesuai SOP dan lakukan pendinginan pada struktur di sekitar area kebakaran bila diperlukan.
  6. Setelah api padam, lakukan inspeksi menyeluruh terhadap burner, ducting, cerobong, coil heater, dan sistem kontrol sebelum unit dioperasikan kembali.

Pencegahan Api Serapan

  • Bersihkan jelaga pada ducting dan cerobong secara berkala.
  • Lakukan burner tuning untuk mendapatkan rasio udara dan bahan bakar yang optimal.
  • Gunakan bahan bakar sesuai spesifikasi.
  • Pantau temperatur gas buang (stack temperature). Kenaikan yang tidak normal dapat menjadi indikasi penumpukan jelaga atau karbon.
  • Terapkan program preventive maintenance secara terjadwal untuk menjaga efisiensi pembakaran dan mencegah terjadinya api serapan.

Cara Mencegah Api Serapan

Pencegahan merupakan langkah terbaik untuk menghindari terjadinya api serapan. Beberapa tindakan yang direkomendasikan antara lain:

  • Lakukan pembersihan ducting dan cerobong secara berkala untuk menghilangkan penumpukan jelaga dan karbon.
  • Jadwalkan preventive maintenance sesuai jam operasi Thermal Oil Heater atau Boiler.
  • Lakukan tuning burner secara berkala agar perbandingan udara dan bahan bakar (air-fuel ratio) tetap optimal.
  • Gunakan bahan bakar dengan kualitas yang sesuai spesifikasi burner.
  • Bersihkan nozzle burner serta lakukan pemeriksaan flame sensor dan sistem pembakaran secara rutin.
  • Periksa temperatur gas buang (stack temperature). Kenaikan temperatur yang tidak normal dapat menjadi indikasi adanya penumpukan jelaga pada coil atau ducting.
  • Catat hasil inspeksi dan maintenance dalam log book sebagai dasar evaluasi kondisi sistem.

Dampak Api Serapan

Apabila tidak segera ditangani, api serapan dapat menyebabkan:

  • Kerusakan pada ducting dan cerobong.
  • Kerusakan insulasi akibat panas berlebih.
  • Penurunan efisiensi Thermal Oil Heater atau Boiler.
  • Konsumsi bahan bakar meningkat.
  • Risiko kebakaran yang lebih besar pada area instalasi.
  • Downtime produksi dan biaya perbaikan yang tinggi.

KETENTUAN ALAT PEMADAM KEBAKARAN
25. User paling tidak harus menyediakan masing -masing jenis pemadam, diantaranya :
a. 2 tabung/ 9 liter busa pemadam oli.
b. 1 pemadam elektrik (powder atau karbon dioksida).

26. Operator, pengawas dan pekerja yang bekerja disekitar boiler/thermal oil heater harus melakukan latihan kebakaran setidaknya 1 kali setiap 3 bulan. Latihannya meliputi :
a. Mengidentifikasi jenis api.
b. Mengidentifikasi jenis pemadam yang digunakan.
c. Prosedur lain yang harus diikuti.
27. Prosedur penanggulangan kebakaran harus di temple di luar ruangan boiler/thermal oil.
28. Buka catatan latihan kebakaran yang didalamnya dicatat nama, tanda tangan orang yang berpartisipasi dan tanggal latihan kebakaran harus disimpan diruang boiler/thermal oil untuk pemeriksaan.

Studi Kasus Thermal Oil Heater Elektrik 40 kW untuk Tangki Crude Palm Oil (CPO)

Latar Belakang

Sebuah pabrik kelapa sawit memiliki tangki penyimpanan Crude Palm Oil (CPO) berkapasitas 5 ton. CPO disimpan pada suhu sekitar 30°C, sedangkan suhu operasi yang diinginkan adalah 100°C agar viskositas minyak menurun dan proses pemompaan menjadi lebih mudah.

Karena lokasi instalasi memiliki pasokan listrik yang memadai dan tidak tersedia jaringan gas, dipilih Thermal Oil Heater Elektrik 40 kW sebagai sumber panas.

Data Perhitungan

ParameterNilai
Kapasitas CPO5.000 kg
Suhu awal30°C
Suhu akhir100°C
Kenaikan suhu70°C
Kalor jenis CPO0,5 kcal/kg°C

Menghitung Kebutuhan Energi

Energi panas dihitung menggunakan rumus:

Q = m × Cp × ΔT

Keterangan:

  • Q = Energi panas (kcal)
  • m = Massa CPO (kg)
  • Cp = Kalor jenis CPO (kcal/kg°C)
  • ΔT = Kenaikan suhu (°C)

Perhitungan:

Q = 5.000 × 0,5 × 70

Q = 175.000 kcal

Artinya, diperlukan sekitar 175.000 kcal untuk memanaskan 5 ton CPO dari 30°C menjadi 100°C.

Kapasitas Thermal Oil Heater Elektrik

Thermal Oil Heater Elektrik 40 kW memiliki kapasitas panas:

40 × 860

= 34.400 kcal/jam

Dengan efisiensi sistem sekitar 90%:

34.400 × 90%

= 30.960 kcal/jam

Estimasi Waktu Pemanasan

Waktu pemanasan dihitung dengan membagi kebutuhan energi terhadap kapasitas panas efektif.

175.000 ÷ 30.960

5,65 jam

Jadi, Thermal Oil Heater Elektrik 40 kW memerlukan waktu sekitar 5–6 jam untuk memanaskan 5 ton CPO hingga mencapai suhu 100°C, tergantung kualitas isolasi tangki, temperatur lingkungan, dan kehilangan panas selama proses berlangsung.

Komponen Sistem

Sistem Thermal Oil Heater Elektrik terdiri dari:

  • Thermal Oil Heater Elektrik 40 kW
  • Electric Heating Element
  • Pompa Sirkulasi Thermal Oil
  • Expansion Tank
  • Panel Kontrol Otomatis
  • Digital Temperature Controller (PID)
  • High Limit Thermostat
  • PT100 Temperature Sensor
  • Pipa Thermal Oil
  • Jacket atau Heating Coil pada tangki CPO

Keunggulan Menggunakan Thermal Oil Heater Elektrik

  • Tidak memerlukan burner maupun cerobong asap.
  • Operasi lebih bersih tanpa emisi hasil pembakaran.
  • Temperatur lebih stabil dengan kontrol PID.
  • Biaya perawatan lebih rendah dibanding burner gas atau solar.
  • Sangat cocok untuk kapasitas kecil hingga menengah.
  • Tingkat kebisingan rendah.
  • Instalasi lebih sederhana karena tidak memerlukan sistem bahan bakar.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil perhitungan, Thermal Oil Heater Elektrik 40 kW merupakan pilihan yang sesuai untuk memanaskan 5 ton Crude Palm Oil (CPO) dari 30°C menjadi 100°C dengan estimasi waktu pemanasan sekitar 5–6 jam. Sistem ini memberikan pemanasan yang stabil, aman, dan efisien, terutama pada industri yang memiliki pasokan listrik memadai dan mengutamakan proses yang bersih tanpa emisi pembakaran.

 

Workshop
Kawasan Pergudangan Laksana Business Park, Jalan Laksana 6 Blok F 09, Desa laksana Kec. Pakuhaji, Kab. Tangerang, Banten- 15570

PT Indira Mitra Boiler
Ratman Bejo
☎️081388666204

My Website
https://indira.co.id

PT Indira Mitra Boiler


https://hargaboiler.co.id

HERO IMB

Email: info@indira.co.id
Email: idmratman@gmail.com

https://www.youtube.com/@Ratman_Bejo/videos

Scroll to Top