THERMAL OIL BOILER 600.000 KCAL- 1.000.000 KCAL
Thermal Oil boiler atau kita sebut thermal oil heater ia bekerja menghasilkan panas dari hasil pembakaran burner yang membakar pipa coil berisi minyak oli, panas yang di hasilkan kemudian di dorong menggunakan pompa transfer dengan kecepatan rpm di sesuaikan dengan total volume dan head yang akan di tempuh, selanjutnya oli panas di sirkulasikan ke suatu proses atau produksi menggunakan instalasi pipa yang memerlukan enegry panas dan di kembalikan lagi ke dalam sistem pembakaran thermal oil (sistem sirkulasi).
kami selaku perusahaan fabrikasi boiler indira mitra boiler juga mnyediakan thermal oil secara custom sperti Thermal Oil 600.000 Kcal-1.000.000 Kcal, boiler oil kapasitas ini banyak di minati oleh industri di indonesia dengan nilai kalori tersebut thermal oil ini bisa mengahsilkan panas hingga 350 drjat di atas suhu normal, dari desain thermal oil berbentuk silinder horizontal serta di lapisi dengan rockwool penahan panas dan almunium untuk isolasi luar body yang mengahsilkan bentuk ramping dan nyaman.

Lima Komponen Utama Sistem Thermal Oil
Agar temperatur thermal oil tetap stabil dan sistem dapat beroperasi dengan baik, diperlukan beberapa komponen yang bekerja sebagai satu kesatuan. Meskipun setiap instalasi memiliki kapasitas dan konfigurasi berbeda, prinsip dasarnya tetap sama.
Berikut lima komponen utama dalam sistem thermal oil heater.
1. Thermal Oil Heater
Thermal oil heater merupakan peralatan utama yang memindahkan panas hasil pembakaran atau energi listrik ke fluida thermal oil.
Pada tipe fired heater, thermal oil mengalir di dalam coil. Sementara itu, gas panas hasil pembakaran mengalir melalui bagian luar coil. Energi panas kemudian berpindah melalui dinding pipa menuju thermal oil.
Komponen thermal oil heater umumnya terdiri dari:
- Body atau casing
- Heating coil
- Combustion chamber
- Insulation
- Stainless-steel atau aluminium cladding
- Access door
- Flue-gas outlet
- Inlet dan outlet thermal oil
- Drain connection
- Instrument connection
Desain coil harus mempertimbangkan kapasitas panas, kecepatan aliran, tekanan, temperatur film, pressure drop, dan sifat thermal oil.
Apabila aliran thermal oil terlalu rendah, temperatur permukaan coil dapat meningkat. Kondisi tersebut dapat mempercepat kerusakan fluida, membentuk carbon deposit, dan menyebabkan overheating pada pipa.
2. Burner atau Sumber Panas
Burner menghasilkan energi panas melalui proses pembakaran bahan bakar. Jenis burner dipilih berdasarkan kapasitas heater dan bahan bakar yang tersedia.
Pilihan bahan bakarnya antara lain:
- Natural gas
- CNG
- LPG
- Solar
- Heavy fuel oil
- Waste oil yang telah diolah
- Dual fuel
Burner dapat bekerja dengan sistem:
- One-stage
- Two-stage
- Progressive two-stage
- Modulating
Untuk proses yang membutuhkan temperatur stabil, burner modulating lebih mudah mengikuti perubahan beban panas. Kapasitas burner akan naik atau turun berdasarkan sinyal dari temperature controller.
Burner dilengkapi beberapa komponen keselamatan, seperti control box, flame sensor, solenoid valve, pressure switch, ignition electrode, dan air pressure switch.
3. Circulation Pump
Circulation pump mengalirkan thermal oil dari heater menuju peralatan pengguna panas. Setelah melepaskan energi di heat exchanger, reactor, dryer, oven, atau tank coil, thermal oil kembali ke heater untuk dipanaskan ulang.
Pompa harus menghasilkan flow yang cukup agar kecepatan thermal oil di dalam coil tetap sesuai desain. Selain itu, pump head harus mampu mengatasi seluruh hambatan dalam sistem.
Hambatan tersebut berasal dari:
- Coil thermal oil heater
- Panjang dan diameter pipa
- Elbow serta fitting
- Valve
- Strainer
- Heat exchanger
- Perbedaan elevasi
- Viskositas thermal oil
Pemilihan pompa tidak boleh hanya didasarkan pada kapasitas heater. Perhitungan hydraulic diperlukan untuk menentukan flow rate, pump head, daya motor, dan nilai NPSH.
Untuk aplikasi kritis, sistem dapat menggunakan dua pompa:
- Satu circulation pump beroperasi
- Satu circulation pump menjadi standby
Apabila pompa utama mengalami gangguan, pompa standby dapat diaktifkan untuk menjaga sirkulasi.
4. Expansion Tank
Expansion tank menampung pertambahan volume thermal oil ketika temperatur meningkat. Volume thermal oil dapat berubah cukup besar dari kondisi dingin menuju temperatur operasi.
Selain menampung ekspansi, tangki ini berfungsi untuk:
- Menjaga volume thermal oil dalam sistem
- Membantu proses deaeration
- Mengeluarkan udara dan gas
- Menyediakan static head pada sisi suction pompa
- Menjadi titik pengisian thermal oil
- Menunjukkan perubahan level fluida
Expansion tank biasanya ditempatkan pada titik tertinggi sistem. Namun, tangki perlu dilindungi dari sirkulasi fluida panas yang berlebihan.
Kapasitas expansion tank harus dihitung berdasarkan:
- Total volume sistem
- Jenis thermal oil
- Koefisien ekspansi fluida
- Temperatur pengisian
- Temperatur operasi maksimum
- Minimum operating level
- Maximum operating level
- Ruang ekspansi yang dibutuhkan
Tangki yang terlalu kecil dapat menyebabkan overflow ketika thermal oil memuai. Sebaliknya, tangki yang terlalu besar membutuhkan ruang dan biaya lebih tinggi.
5. Sistem Kontrol dan Pengaman
Sistem kontrol dan pengaman mengatur operasi burner, circulation pump, temperatur, tekanan, serta aliran thermal oil.
Panel kontrol menerima sinyal dari berbagai sensor. Selanjutnya, controller menentukan apakah burner dapat menyala, meningkatkan kapasitas, menurunkan kapasitas, atau berhenti.
Instrumen yang umum digunakan meliputi:
- Temperature sensor pada outlet
- Temperature sensor pada inlet
- High-temperature limiter
- Pressure gauge
- Pressure switch
- Differential-pressure switch
- Flow switch
- Expansion tank level switch
- Flame detector
- Pump overload
- Emergency stop
Urutan dasar operasinya adalah:
- Operator mengaktifkan circulation pump.
- Flow switch memastikan thermal oil bersirkulasi.
- Control panel memeriksa seluruh interlock.
- Burner menerima izin untuk menyala.
- Thermal oil dipanaskan secara bertahap.
- Temperature controller mengatur kapasitas burner.
- Sistem mempertahankan temperatur sesuai set point.
- Burner berhenti jika terjadi low flow atau temperatur terlalu tinggi.
Burner tidak boleh menyala jika circulation pump belum beroperasi atau aliran thermal oil tidak mencukupi. Interlock tersebut penting untuk mencegah overheating pada coil.
Komponen Pendukung Sistem Thermal Oil
Selain lima komponen utama tersebut, instalasi thermal oil juga membutuhkan beberapa komponen pendukung:
- Sump tank
- Transfer pump
- Piping thermal oil
- Strainer
- Isolation valve
- Control valve
- Bypass line
- Drain dan vent
- Heat exchanger
- Stack atau cerobong
- Insulasi piping
- Nitrogen blanketing system
- Fire-safety system
Sump tank digunakan untuk menampung thermal oil saat sistem dikosongkan untuk maintenance. Sementara itu, transfer pump membantu proses pengisian atau pemindahan fluida.
Alur Kerja Sistem Thermal Oil
Secara umum, proses sirkulasi thermal oil berlangsung sebagai berikut:
Expansion Tank → Circulation Pump → Thermal Oil Heater → Peralatan Proses → Return Line → Circulation Pump
Circulation pump mengalirkan fluida menuju heater. Kemudian, burner memanaskan thermal oil yang mengalir di dalam coil.
Setelah mencapai temperatur tertentu, fluida panas bergerak menuju peralatan proses. Thermal oil melepaskan sebagian energinya, lalu kembali ke sisi suction pump untuk dipanaskan ulang.
Proses tersebut berlangsung secara terus-menerus selama sistem beroperasi.
Kesimpulan
Lima komponen utama sistem thermal oil terdiri dari:
- Thermal oil heater
- Burner atau sumber panas
- Circulation pump
- Expansion tank
- Sistem kontrol dan pengaman
Kelima komponen tersebut harus dirancang sebagai satu sistem. Heater yang memiliki kapasitas besar tidak dapat bekerja dengan aman tanpa flow pompa yang mencukupi. Demikian pula, burner tidak boleh beroperasi tanpa interlock aliran, pengaman temperatur, dan expansion tank yang sesuai.
Catatan teknis: Kapasitas heater, burner, circulation pump, expansion tank, diameter piping, serta sistem keselamatan harus ditentukan berdasarkan perhitungan engineering dan data proses aktual.
Thermal oil heater produksi PT Indira Mitra Boiler tersedia dalam konfigurasi horizontal maupun vertikal. Tipe horizontal memiliki ketinggian relatif rendah sehingga sesuai untuk ruangan dengan batas tinggi tertentu. Sementara itu, tipe vertikal mempunyai kebutuhan area lantai yang lebih kecil.
Unit dapat disuplai lengkap dengan:
- Body thermal oil heater
- Coil pemanas
- Burner
- Circulation pump skid
- Expansion tank
- Sump tank
- Instrumentasi
- Sistem pengaman
- Panel kontrol
- Insulasi dan stainless-steel cladding
- Stack atau cerobong
- Dokumen teknis
- Sertifikat sesuai kebutuhan dan ruang lingkup pengadaan
Konfigurasi serta kapasitas setiap komponen disesuaikan dengan temperatur proses, jenis thermal oil, kebutuhan panas, bahan bakar, dan kondisi instalasi.
Thermal Oil Heater 1.000.000 Kcal/Jam
Spesifikasi Thermal Oil Heater
| Parameter | Spesifikasi |
|---|---|
| Kapasitas termal | 600.000–1.000.000 kcal/jam |
| Perkiraan kapasitas dalam kW | 698–1.163 kW |
| Efisiensi pada beban 100% | ±88% |
| Temperatur maksimum thermal fluid | 350°C |
| Pressure drop sisi thermal oil | ±1,3 bar |
| Maksimum ΔT outlet dan inlet | 30°C |
| Volume thermal oil dalam heater | 700–1.200 liter |
| Berat kosong heater | ±1,85–2,50 ton |
| Konsumsi light oil pada beban 100% | ±60–100 kg/jam |
| Konsumsi natural gas pada beban 100% | ±75–150 Nm³/jam |
| Flow rate circulation pump | 40–60 m³/jam |
| Pump head | 40–80 meter |
| Total daya listrik terpasang | 7,5–30 kW |
| Flange inlet dan outlet thermal oil | 2½–4 inci, PN16 |
| Flange drain thermal oil | ½–1 inci, PN16 |
| Diesel oil inlet | 1 inci, PN16 |
| Liquid fuel inlet burner | ±½ inci, sesuai desain |
| Kapasitas expansion tank | 400–1.000 liter |
| Kapasitas sump tank | 400–1.000 liter |
| Panel kontrol | Schneider atau setara, IP66 |
| Diameter stack | Ø350–380 mm |
| Tinggi stack | ±6–9 meter |
Spesifikasi tersebut mencakup beberapa pilihan kapasitas dalam rentang 600.000 sampai 1.000.000 kcal/jam. Oleh karena itu, angka minimum dan maksimum bukan selalu spesifikasi satu unit yang sama.
Konversi Kapasitas Thermal Oil Heater
Konversi kapasitas dari kcal/jam menjadi kW menggunakan perhitungan:
1 kW≈860 kcal/jam
Dengan demikian:
600.000÷860≈698 kW
Sementara itu:
1.000.000÷860≈1.163 kW
Jadi, rentang kapasitas keluaran thermal oil heater tersebut setara dengan sekitar 698–1.163 kW.
Burner harus dipilih berdasarkan input panas yang dibutuhkan, bukan hanya kapasitas output thermal oil heater. Apabila efisiensi desain sekitar 88%, kebutuhan input burner dapat diperkirakan sebagai berikut:
| Kapasitas Output | Perkiraan Input Burner pada Efisiensi 88% |
|---|---|
| 600.000 kcal/jam | ±681.800 kcal/jam atau 793 kW |
| 800.000 kcal/jam | ±909.100 kcal/jam atau 1.057 kW |
| 1.000.000 kcal/jam | ±1.136.400 kcal/jam atau 1.322 kW |
Burner sebaiknya memiliki kapasitas yang mencakup kebutuhan minimum dan maksimum sistem. Untuk proses dengan perubahan beban, tipe two-stage atau modulating dapat membantu menjaga temperatur thermal oil lebih stabil.
Konfigurasi Horizontal dan Vertikal
Thermal Oil Heater Horizontal
Tipe horizontal mempunyai posisi coil dan body memanjang secara mendatar. Konfigurasi ini dapat dipilih jika ruang instalasi memiliki area lantai yang cukup, tetapi terdapat batas tinggi bangunan.
Beberapa pertimbangannya meliputi:
- Ketinggian unit lebih rendah
- Akses bagian depan dan belakang relatif mudah
- Membutuhkan area lantai lebih panjang
- Layout burner dan stack dapat disesuaikan
- Maintenance coil mengikuti desain access door
Thermal Oil Heater Vertikal
Tipe vertikal menggunakan body dan coil dalam posisi tegak. Desain ini sesuai untuk pabrik yang mempunyai area lantai terbatas.
Beberapa kelebihannya adalah:
- Footprint lebih kecil
- Layout instalasi lebih kompak
- Dapat ditempatkan pada ruang terbatas
- Posisi burner dapat disesuaikan dengan desain
- Jalur thermal oil lebih mudah diatur pada layout tertentu
Pemilihan horizontal atau vertikal tidak hanya berdasarkan luas ruangan. Akses maintenance, posisi stack, fondasi, tinggi bangunan, jalur piping, dan lokasi expansion tank juga perlu diperhitungkan.
Coil Thermal Oil Heater
Coil merupakan bagian utama yang menerima panas dari hasil pembakaran. Thermal oil bersirkulasi di dalam coil, sedangkan gas panas dari burner mengalir melalui jalur perpindahan panas di sisi luarnya.
Desain coil harus mempertimbangkan:
- Kapasitas panas
- Kecepatan aliran thermal oil
- Pressure drop
- Temperatur film
- Material pipa
- Ketebalan pipa
- Corrosion allowance
- Thermal expansion
- Tekanan desain
- Temperatur desain
- Jumlah pass
- Kemudahan inspeksi
Aliran thermal oil harus tetap tersedia selama burner beroperasi. Jika sirkulasi berhenti, temperatur film pada dinding coil dapat meningkat dengan cepat. Kondisi tersebut dapat mempercepat degradasi oli, membentuk carbon deposit, dan merusak coil.
Circulation Pump
Circulation pump mengalirkan thermal oil dari heater menuju peralatan proses, kemudian mengembalikannya ke heater. Untuk rentang kapasitas ini, flow rate awal dapat berada sekitar 40–60 m³/jam dengan head sekitar 40–80 meter.
Namun, kapasitas pompa final harus dihitung berdasarkan:
- Total panjang pipa
- Diameter pipa
- Jumlah elbow dan valve
- Pressure drop heater
- Pressure drop heat exchanger
- Viskositas thermal oil
- Temperatur start-up
- Flow minimum coil
- Elevasi dan layout sistem
Thermal oil memiliki viskositas lebih tinggi saat dingin. Oleh sebab itu, kemampuan motor dan pompa saat cold start harus dianalisis agar motor tidak mengalami overload.
Sistem dapat menggunakan satu pompa operasi dan satu pompa standby untuk aplikasi yang membutuhkan keandalan tinggi.
Expansion Tank
Expansion tank menampung pertambahan volume thermal oil ketika temperatur meningkat. Tangki ini juga membantu proses deaeration, venting, dan pengaturan volume sistem.
Kapasitas awal expansion tank berada pada rentang 400–1.000 liter. Meskipun demikian, ukuran final harus dihitung berdasarkan:
- Total volume thermal oil dalam sistem
- Koefisien ekspansi oli
- Temperatur pengisian
- Temperatur operasi maksimum
- Minimum operating level
- Maximum operating level
- Ruang ekspansi yang dibutuhkan
- Sistem nitrogen blanketing jika digunakan
Expansion tank biasanya ditempatkan pada titik tinggi sistem. Lokasinya perlu diatur agar temperatur oli di dalam tangki tetap berada dalam batas aman dan tidak menerima sirkulasi panas berlebihan.
Sump Tank
Sump tank digunakan untuk menampung thermal oil ketika sistem dikosongkan saat maintenance atau keadaan tertentu. Kapasitasnya dapat berada pada rentang 400–1.000 liter, sesuai volume yang perlu ditampung.
Untuk sistem yang besar, sump tank harus dihitung agar mampu menerima volume drain yang direncanakan. Tangki dapat dilengkapi:
- Level indicator
- Vent
- Drain valve
- Transfer pump
- Manhole
- Temperature indicator
- Strainer
- Connection menuju thermal oil system
Panel Kontrol Thermal Oil Heater
kontrol menggunakan komponen Schneider atau merek setara dengan enclosure hingga IP66 sesuai kondisi pemasangan.
dapat mengendalikan:
- Burner
- Circulation pump
- Standby pump
- Temperature controller
- Pressure switch
- Differential-pressure switch
- Flow switch
- Expansion tank level
- Alarm suhu tinggi
- Emergency stop
- Interlock proses
- Indikator operasi
Sistem interlock harus memastikan burner tidak dapat menyala apabila aliran thermal oil belum tersedia.
Beberapa proteksi yang dapat diterapkan antara lain:
- Low-flow trip
- High outlet temperature trip
- High film temperature trip
- Low expansion tank level
- Circulation pump overload
- Burner flame failure
- High pressure
- Emergency stop
- Power failure alarm
Konsumsi Bahan Bakar
Konsumsi bahan bakar dipengaruhi oleh kapasitas aktual, nilai kalor bahan bakar, efisiensi heater, temperatur gas buang, excess air, serta kondisi coil.
Light Oil
Perkiraan konsumsi light oil berada pada rentang sekitar 60–100 kg/jam pada beban maksimum masing-masing model.
Angka aktual harus dihitung menggunakan nilai kalor bahan bakar:
Konsumsi bahan bakar=Nilai kalor×EfisiensiKebutuhan panas
Natural Gas
Perkiraan konsumsi natural gas berada pada rentang 75–150 Nm³/jam. Perbedaan nilai kalor gas dari pemasok dapat memengaruhi konsumsi aktual.
Sebelum memilih gas train dan burner, dibutuhkan data:
- Komposisi gas
- Lower heating value
- Tekanan gas tersedia
- Minimum dan maksimum pressure
- Kapasitas flow
- Temperatur gas
- Kebutuhan regulator
- Ukuran gas train
Stack atau Cerobong
Stack mengalirkan gas hasil pembakaran menuju atmosfer. Rentang diameter awal sekitar Ø350–380 mm, sedangkan tinggi cerobong sekitar 6–9 meter.
Ukuran final stack perlu ditentukan berdasarkan:
- Kapasitas burner
- Volume gas buang
- Temperatur gas buang
- Draft requirement
- Pressure drop
- Ketinggian bangunan
- Kondisi lingkungan
- Ketentuan emisi setempat
Stack dapat dilengkapi inspection door, drain, sampling point, support, dan rain cap sesuai desain.
Aplikasi Thermal Oil Heater
Thermal oil heater digunakan ketika proses membutuhkan temperatur tinggi tanpa tekanan kerja setinggi sistem steam pada temperatur yang sama. Sistem ini dapat mendistribusikan panas menuju heat exchanger, reactor, tank coil, dryer, oven, press, atau peralatan proses lain.
Industri Farmasi
Dalam industri farmasi, thermal oil dapat digunakan untuk memanaskan reactor, dryer, mixing tank, dan peralatan proses lain. Pemilihan heat-transfer fluid harus mempertimbangkan temperatur, kebersihan, serta persyaratan proses.
Industri Plastik dan Karet
Thermal oil heater dapat memasok panas untuk:
- Hot press
- Extruder
- Moulding machine
- Rubber mixing
- Laminating
- Reactor
- Drying system
Kontrol temperatur yang stabil membantu menjaga kualitas produk plastik dan karet.
Industri Tekstil dan Laundry
Pada industri tekstil, thermal oil digunakan untuk stenter, dryer, calendar, printing, dan mesin finishing. Sementara itu, aplikasi laundry industri dapat menggunakan thermal oil untuk dryer atau heat exchanger tertentu.
Industri Makanan dan Minuman
Thermal oil dapat digunakan untuk fryer, oven, roaster, mixing tank, cooking vessel, dan indirect heating system.
Untuk aplikasi makanan, heat exchanger harus dirancang agar thermal oil tidak bersentuhan langsung dengan produk. Pemilihan food-grade thermal fluid dapat diperlukan sesuai analisis risiko.
Industri Minyak dan Gas
Dalam pengolahan minyak dan gas, thermal oil dapat digunakan untuk:
- Tank heating
- Crude oil heating
- Fuel oil heating
- Heat exchanger
- Separator
- Process heater
- Pipeline heating
Material dan sistem pengaman harus disesuaikan dengan area berbahaya serta karakter fluida proses.
Industri Kayu
Thermal oil heater digunakan untuk hot press, plywood production, veneer dryer, wood dryer, dan laminating process. Sistem ini mampu memasok temperatur yang stabil untuk menjaga kualitas hasil produksi.
Industri Kertas
Aplikasi pada industri kertas meliputi:
- Paper dryer
- Roll heating
- Coating machine
- Hot press
- Glue preparation
- Heat exchanger
Gedung, Hotel, dan Rumah Sakit
Thermal oil dapat digunakan pada sistem pemanasan tidak langsung, laundry, hot-water heat exchanger, dan proses tertentu. Namun, kebutuhan dan kelayakannya harus dibandingkan dengan steam atau hot water boiler.
Industri Marine dan Kapal
Pada kapal, thermal oil heater dapat digunakan untuk:
- Fuel oil heating
- Cargo heating
- Tank heating
- Heater untuk purifier
- Heat exchanger
- Proses pemanasan marine lainnya
Desain marine harus mempertimbangkan klasifikasi kapal, gerakan kapal, ruang mesin, ventilasi, fire safety, dan ketentuan class society.
Industri Logam dan Bahan Bangunan
Thermal oil digunakan pada proses seperti:
- Oven dan furnace tidak langsung
- Metal finishing
- Asphalt heating
- Bitumen tank
- Laminating
- Drying system
- Preheating material
Kesimpulan
Thermal oil heater 600.000–1.000.000 kcal/jam dapat diproduksi dalam konfigurasi horizontal maupun vertikal. Unit dapat dilengkapi burner, circulation pump, expansion tank, sump tank, panel kontrol, sistem pengaman, insulasi, cladding, dan stack.
Spesifikasi final harus ditentukan berdasarkan kebutuhan panas proses, temperatur, jenis thermal oil, pressure drop, layout piping, bahan bakar, dan pola operasi. Circulation pump, expansion tank, burner, serta diameter pipa tidak boleh dipilih hanya berdasarkan kapasitas heater.
5 Keuntungan Thermal Oil Heater untuk Industri
Thermal oil heater digunakan untuk menyediakan panas pada temperatur tinggi melalui sirkulasi fluida pemindah panas. Sistem ini banyak diterapkan pada reactor, oven, dryer, hot press, tank heating, heat exchanger, serta berbagai proses industri.
Dibandingkan dengan steam boiler, thermal oil heater mempunyai karakteristik operasi yang berbeda. Berikut lima keuntungan yang dapat dipertimbangkan sebelum memilih sistem pemanas industri.
1. Desain Sistem Relatif Sederhana
Sistem steam boiler biasanya membutuhkan beberapa peralatan pendukung. Sebagai contoh, instalasi dapat dilengkapi deaerator, feed water tank, water softener, chemical dosing, blowdown tank, condensate return, steam trap, dan peralatan pengolahan air.
Sebaliknya, sistem thermal oil umumnya menggunakan rangkaian utama yang lebih ringkas, yaitu:
- Thermal oil heater
- Circulation pump
- Expansion tank
- Sump tank
- Burner
- Piping dan valve
- Instrumentasi
- Panel kontrol
- Heat exchanger atau peralatan pengguna panas
Selain itu, thermal oil dapat menghasilkan temperatur tinggi tanpa tekanan saturasi setinggi steam pada temperatur yang sama. Oleh karena itu, sistem ini dapat bekerja pada tekanan yang relatif lebih rendah.
Walaupun konstruksinya lebih sederhana, thermal oil heater tetap membutuhkan sistem keselamatan yang lengkap. Flow switch, differential-pressure switch, temperature controller, expansion tank, emergency stop, serta interlock burner harus dipasang sesuai desain.
2. Dapat Mengurangi Kehilangan Energi
Sistem thermal oil tidak menggunakan steam trap dan tidak memerlukan blowdown rutin seperti steam boiler. Dengan demikian, kehilangan panas yang berasal dari blowdown, flash steam, dan steam trap dapat dikurangi.
Selain itu, thermal oil bersirkulasi dalam sistem tertutup. Fluida panas yang kembali dari proses masih membawa energi dan dipanaskan kembali di dalam heater.
Beberapa faktor yang mendukung efisiensi sistem antara lain:
- Tidak ada kehilangan condensate pada operasi normal
- Tidak membutuhkan continuous blowdown
- Tidak menggunakan steam trap
- Temperatur proses dapat dikontrol dengan stabil
- Sistem return membawa thermal oil kembali menuju heater
- Insulasi piping dapat mengurangi kehilangan panas
- Burner modulating dapat mengikuti perubahan beban
Namun, efisiensi aktual tetap dipengaruhi oleh desain heater, temperatur gas buang, excess air, kondisi coil, insulasi, burner setting, dan pola operasi. Oleh sebab itu, combustion tuning dan pemeriksaan rutin tetap diperlukan.
3. Pemeliharaan Relatif Lebih Praktis
Steam boiler menggunakan air sebagai media pemindah panas. Karena itu, kualitas air harus dikendalikan untuk mencegah korosi, kerak, dan deposit pada tube.
Sistem steam dapat membutuhkan:
- Water softener
- Chemical treatment
- Pemeriksaan kualitas feed water
- Blowdown
- Pembersihan kerak
- Pemeriksaan steam trap
- Perawatan condensate return
Sementara itu, thermal oil tidak menimbulkan kerak mineral seperti air. Fluida juga dapat membantu melumasi bagian tertentu pada circulation pump.
Meskipun demikian, thermal oil tetap mengalami penurunan kualitas akibat temperatur tinggi, oksidasi, dan kontaminasi. Oleh sebab itu, pemeliharaan sistem harus mencakup:
- Pengambilan sampel thermal oil
- Analisis viscosity
- Pemeriksaan flash point
- Pemeriksaan acidity
- Pemeriksaan carbon residue
- Pembersihan strainer
- Pemeriksaan circulation pump
- Pemeriksaan kebocoran
- Pemeriksaan expansion tank
- Pemeriksaan coil dan burner
Dengan pengoperasian yang benar, interval pemeliharaan dapat direncanakan secara teratur. Selain itu, jumlah komponen seperti steam trap dan water-treatment equipment juga dapat dikurangi.
4. Beroperasi pada Tekanan Relatif Rendah
Pada sistem steam, temperatur meningkat seiring kenaikan tekanan saturasi. Sebagai contoh, untuk memperoleh steam bertemperatur tinggi, boiler harus beroperasi pada tekanan yang lebih tinggi.
Sebaliknya, thermal oil dapat mencapai temperatur proses sekitar 200–350°C dengan tekanan sistem yang terutama dibutuhkan untuk sirkulasi fluida. Oleh karena itu, tekanan operasinya dapat lebih rendah dibandingkan sistem steam yang bekerja pada temperatur serupa.
Kondisi tersebut memberikan beberapa keuntungan:
- Beban tekanan pada sistem dapat lebih rendah
- Risiko akibat tekanan tinggi dapat dikurangi
- Piping tidak bergantung pada tekanan saturasi steam
- Tidak terjadi water hammer akibat condensate
- Tidak terdapat risiko pembekuan air pada sistem berbasis minyak
- Temperatur proses dapat dikontrol tanpa peningkatan tekanan yang besar
Namun, thermal oil bukan sistem tanpa risiko. Fluida panas dapat terbakar apabila mengalami kebocoran dan bersentuhan dengan sumber api atau permukaan yang sangat panas.
Oleh sebab itu, sistem tetap membutuhkan:
- Proteksi low-flow
- High-temperature trip
- Expansion tank yang benar
- Drain dan vent yang aman
- Insulasi permukaan panas
- Fire detection
- Emergency shutdown
- Pemeriksaan kebocoran
- Ventilasi ruang heater
Dengan kata lain, thermal oil heater dapat menawarkan tekanan kerja yang lebih rendah, tetapi keselamatan tetap bergantung pada desain, pemasangan, dan pengoperasian yang benar.
5. Fleksibel untuk Berbagai Proses
Tersedia berbagai jenis heat-transfer fluid untuk kebutuhan temperatur dan proses yang berbeda. Pilihannya mencakup mineral oil, synthetic thermal fluid, food-grade oil, serta campuran water-glycol untuk temperatur lebih rendah.
Pemilihan fluida harus mempertimbangkan:
- Temperatur operasi minimum
- Temperatur operasi maksimum
- Film temperature
- Viscosity
- Flash point
- Fire point
- Pour point
- Stabilitas oksidasi
- Kompatibilitas material
- Persyaratan proses
Sebagai contoh, food-grade thermal oil dapat dipertimbangkan pada industri makanan apabila terdapat risiko kontak tidak langsung dengan produk. Sementara itu, synthetic fluid dapat dipilih untuk aplikasi dengan rentang temperatur tertentu.
Selain pilihan fluida, thermal oil heater juga tersedia dalam berbagai konfigurasi:
- Tipe horizontal
- Tipe vertikal
- Gas-fired
- Light-oil-fired
- Heavy-oil-fired
- Dual-fuel
- Electric thermal oil heater
- Tipe skid-mounted
- Sistem single pump atau duty-standby pump
Fleksibilitas tersebut memudahkan sistem untuk digunakan pada berbagai industri, seperti makanan, kimia, tekstil, karet, plastik, kayu, kertas, marine, minyak, gas, dan pengolahan logam.
Perbandingan HTO dan Steam Boiler
| Parameter | Thermal Oil Heater | Steam Boiler |
|---|---|---|
| Media pemindah panas | Thermal oil | Air dan steam |
| Temperatur tinggi | Dapat dicapai pada tekanan relatif rendah | Membutuhkan peningkatan tekanan steam |
| Water treatment | Tidak seperti sistem boiler air | Umumnya diperlukan |
| Blowdown | Tidak dilakukan seperti steam boiler | Diperlukan |
| Steam trap | Tidak diperlukan | Diperlukan pada jaringan steam |
| Condensate return | Tidak digunakan | Umumnya digunakan |
| Risiko water hammer | Tidak berasal dari condensate steam | Dapat terjadi |
| Kontrol temperatur | Stabil untuk banyak proses | Baik, tergantung desain |
| Analisis fluida | Thermal oil perlu diuji berkala | Kualitas air perlu diuji berkala |
| Risiko utama | Kebocoran dan kebakaran fluida panas | Tekanan, steam, low-water, dan water hammer |
| Aplikasi | Indirect process heating | Process steam dan direct/indirect heating |
Apakah Thermal Oil Selalu Lebih Baik?
Thermal oil heater tidak selalu menjadi pilihan terbaik untuk seluruh proses. Steam boiler tetap lebih sesuai jika pabrik membutuhkan steam untuk kontak langsung, sterilization, humidification, cleaning, turbine, atau proses yang memerlukan latent heat.
Sebaliknya, thermal oil dapat lebih tepat untuk proses yang membutuhkan:
- Temperatur tinggi
- Tekanan relatif rendah
- Kontrol temperatur stabil
- Sistem pemanasan tidak langsung
- Tidak memerlukan steam
- Distribusi panas menuju beberapa heat exchanger
- Operasi tanpa steam trap dan condensate return
Oleh karena itu, pemilihan harus didasarkan pada kebutuhan proses, temperatur, kapasitas, pola beban, investasi, biaya bahan bakar, dan biaya pemeliharaan.
Kesimpulan
Lima keuntungan utama thermal oil heater adalah desain yang relatif sederhana, potensi kehilangan energi yang lebih rendah, pemeliharaan lebih praktis, kemampuan bekerja pada temperatur tinggi dengan tekanan relatif rendah, serta fleksibilitas untuk berbagai proses.
Meskipun demikian, setiap keuntungan hanya dapat diperoleh apabila sistem dirancang dan dioperasikan dengan benar. Pemilihan circulation pump, expansion tank, thermal fluid, burner, piping, instrumentasi, serta sistem keselamatan harus mengikuti perhitungan engineering.
Selain itu, pemeriksaan thermal oil dan combustion tuning perlu dilakukan secara berkala. Dengan cara tersebut, thermal oil heater dapat menghasilkan pemanasan yang stabil, efisien, dan aman untuk kebutuhan industri.
Info Kontak Kami :
Workshop
Kawasan Pergudangan Laksana Business Park, Jalan Laksana 6 Blok F 09, Desa laksana Kec. Pakuhaji, Kab. Tangerang, Banten- 15570
PT Indira Mitra Boiler
Ratman Bejo
☎️081388666204
My Website
https://indira.co.id
https://hargaboiler.co.id
Email: info@indira.co.id
Email: idmratman@gmail.com
https://www.youtube.com/@Ratman_Bejo/videos
