Jual Burner Riello Bahan Bakar oli bekas Heavy Oil

Perusahan fabrikasi boiler tokomesinku juga menyedikan burner riello bahan bakar residu atau oli bekas dengan type press T/N . berikut akan kami bahas mengenai burner heavy oil atau residu berikut sepesifikasi nya.
PRESS T / N series burner mencakup jarak tembak dari 320 hingga 5130 kW. Mereka telah dirancang dalam tiga versi untuk digunakan dalam instalasi komersial dan industri, untuk membakar viskositas minyak yang berbeda dari 7 hingga 60 E @ 50C. Pengoperasiannya tiga tahap, sehingga membuat pembakar ini cocok untuk instalasi yang memiliki persyaratan pemanasan yang bervariasi tetapi dapat diprediksi. Servomotor secara otomatis menyesuaikan peredam air dengan nilai pembukaan, bertekad untuk selalu mendapatkan konsumsi bahan bakar yang diperlukan. Setiap model PRESS T / N series tersedia dalam dua panjang kepala pembakaran yang berbeda (kepala pendek atau panjang) untuk dipilih berdasarkan persyaratan aplikasi spesifik. Preheater listrik telah dipasang untuk menjaga minyak pada suhu atomisasi yang benar pada output maksimum dan kit pemanas khusus disediakan secara terpisah untuk membakar minyak dengan viskositas tinggi.
Perawatan yang disederhanakan dicapai oleh sistem slide bar Riello yang dirancang, yang memungkinkan akses mudah ke semua komponen penting dari kepala pembakaran.
TECHNICAL DATA
Model | P 140 T/N | P 200 T/N | P 300 T/N | P 450 T/N | ||
| Burner operation mode | Three stage | |||||
| Modulating ratio at max. output | 2 : 1 | |||||
| Servo- motor | type | LKS 210 | LKS 300 | |||
| run time | s | 5 | 4 | |||
| Heat output | kW | 320/800¸1600 | 515/1140¸2280 | 626/1710¸3420 | 855/2560¸5130 | |
| Mcal/h | 275/688¸1376 | 443/980¸1961 | 538/1471¸2941 | 727/2202¸4412 | ||
| kg/h | 28/70¸140 | 45/100¸200 | 55/150¸300 | 75/224¸450 | ||
| Working temperature | °C min./max. | 0/40 | ||||
| Net calorific value | kWh/kg | 11.4 | ||||
| kcal/kg | 9800 | |||||
| MJ/kg | 41 | |||||
| Low viscosity version | mm2/s (cSt) | 50 @ 50°C | ||||
| Pump | type | E 7 | E 7 | TA 2 | TA 3 | |
| delivery | kg/h at 25 bar | 340 | 340 | 470 | 750 | |
| Medium viscosity version | mm2/s (cSt) | 200 @ 50°C (with heavy oil kit already installed in factory) | ||||
| Pump | type | E 7 | E 7 | TA 2 | TA 3 | |
| delivery | kg/h at 25 bar | 340 | 340 | 470 | 750 | |
High viscosity version (ECO models) | mm2/s (cSt) | 450 @ 50°C (separate 1400 rpm pump + heavy oil kit + pipes heating cable already installed installed in factory) | ||||
| Pump | type | TA 2 | TA 3 | TA 4 | TA 5 | |
| delivery | kg/h at 25 bar | 235 | 385 | 500 | 670 | |
| Atomised pressure | bar | 25 | ||||
| Fuel temperature | max. °C | 60 | ||||
| Fuel preheater | Yes | |||||
| Fan | type | Centrifugal – with forward curve blades | ||||
| Air temperature | max. °C | 60 | ||||
| Electrical supply | Ph/Hz/V | 3/50/230 (±10%) 3N/50/230-400 (±10%) | ||||
| Auxiliary electrical supply | Ph/Hz/V | 1/50/230 (±10%) | ||||
| Control box | type | RMO 88 | ||||
| Total electrical power | kW | 18,6 | 19,5 | 32 | 37 | |
| Auxiliary electrical power | kW | 1,6 | 1,5 | 2,9 | 2,4 | |
| Heaters electrical power | kW | 14 | 14 | 19,6 | 19,6 | |
| Protection level | IP | 40 | ||||
| Pump motor electrical power (*) | kW | 0,55 | 0,55 | 0,75 | 1,1 | |
| Rated pump motor current (*) | A | 3,1/1,8 | 3,1/1,8 | 3,7/2,1 | 4,7/2,7 | |
| Fan motor electrical power | kW | 3 | 4 | 7,5 | 15 | |
| Rated fan motor current | A | 13,5/8 | 16,4/9,5 | 30/17,5 | 50,2/29 | |
| Fan motor start up current | A | 86/51 | 83/48 | 195/113 | 301/174 | |
| Fan motor protection level | IP | 55 | ||||
| Ignition transformer | type | |||||
| V1 – V2 | 230 V – 2×6,5 kV | |||||
| I1 – I2 | 2 A – 35 mA | |||||
| Operation | Intermittent (at least one stop every 24 h) | |||||
| Sound pressure | dB (A) | 86,3 | 87 | 87,6 | 88,2 | |
| Sound power | W | — | ||||
| CO emission | mg/kWh | < 200 | ||||
| Grade of smoke indicator | N° Bacharach | < 10 | ||||
| CxHy emission | mg/kWh | — | ||||
| NOx emission | mg/kWh | < 620 | ||||
| Directive | 89/336 – 73/23 EEC | |||||
| Conforming to | EN 267 | |||||
| Certification | — | — | — | — | ||
Studi Kasus Sistem Fuel Oil, Preheater dan Atomisasi Burner
Pada heavy oil burner, sistem suplai bahan bakar tidak hanya berfungsi mengalirkan minyak menuju nozzle. Bahan bakar dengan viskositas tinggi membutuhkan filtrasi, pemanasan awal, pengaturan tekanan, dan kontrol temperatur agar dapat diatomisasi dengan baik.
Sistem ini menjadi sangat penting pada burner yang menggunakan heavy oil karena perubahan temperatur bahan bakar akan memengaruhi viskositas dan kualitas atomisasi.
1. Oil Valve Group
Burner dilengkapi oil valve group yang terdiri dari katup pengaman dan beberapa oil delivery valve yang dipasang secara seri.
Fungsi utama valve group adalah mengontrol aliran bahan bakar menuju nozzle serta menghentikan suplai oil ketika burner berada dalam kondisi shutdown atau safety lockout.
Konfigurasi tersebut membantu menjaga sistem fuel tetap aman selama:
- Start-up
- Ignition
- Low fire
- High fire
- Shutdown
- Safety trip
2. Oil Filter
Oil filter berfungsi menyaring kotoran dan partikel dari bahan bakar sebelum masuk ke sistem pembakaran.
Filter yang bersih sangat penting karena kotoran dapat menyebabkan:
- Nozzle tersumbat
- Spray pattern berubah
- Fuel pressure tidak stabil
- Pompa bekerja lebih berat
- Flame tidak stabil
- Pembakaran tidak sempurna
Pada sistem heavy oil, kondisi filter perlu diperiksa secara berkala karena kualitas bahan bakar sangat berpengaruh terhadap sistem fuel.
3. Heavy Oil Preheating System
Salah satu komponen penting pada sistem heavy oil adalah oil preheater.
Heavy oil memiliki viskositas yang lebih tinggi dibandingkan light oil. Oleh karena itu, bahan bakar perlu dipanaskan agar viskositasnya turun dan proses atomisasi di nozzle menjadi lebih baik.
Secara sederhana:
Oil Temperature meningkat → Viscosity menurun → Atomization lebih baik
Namun temperatur bahan bakar tidak boleh dinaikkan secara sembarangan. Setting harus mengikuti karakteristik fuel dan spesifikasi burner.
4. Thermostatic Control
Sistem dilengkapi thermostatic control yang mengatur operasi berdasarkan temperatur minyak dan kebutuhan burner.
Ketika kondisi temperatur bahan bakar telah mencapai nilai yang diperlukan, sistem dapat memungkinkan suplai oil menuju nozzle.
Dengan demikian, burner tidak langsung mengoperasikan heavy oil pada kondisi temperatur yang belum sesuai.
5. Oil Delivery Valve dan Air Damper
Pada sistem burner, pembukaan oil delivery valve dikombinasikan dengan pengaturan udara pembakaran.
Katup bahan bakar bekerja bersama air damper yang dikendalikan oleh servomotor.
Tujuannya adalah menjaga keseimbangan antara:
Fuel Flow + Combustion Air
Jika fuel bertambah tetapi udara tidak disesuaikan, pembakaran dapat menjadi terlalu kaya bahan bakar.
Sebaliknya, jika udara terlalu banyak dibandingkan fuel, excess air meningkat dan heat loss melalui flue gas dapat bertambah.
6. Servomotor Air Damper
Servomotor mengendalikan posisi air damper sesuai dengan kondisi operasi burner.
Ketika kapasitas pembakaran berubah, posisi damper dapat disesuaikan untuk menyediakan jumlah udara yang diperlukan.
Hal ini sangat penting pada burner dengan operasi bertahap atau sistem kontrol kapasitas.
7. Pump Group
Pump group merupakan bagian utama dari sistem fuel supply.
Komponen utamanya meliputi:
- Oil pump
- Oil filter
- Pressure regulating valve
Pompa menghasilkan tekanan bahan bakar yang diperlukan agar oil dapat dikirim menuju nozzle.
Stabilitas tekanan pompa sangat berpengaruh terhadap kualitas atomisasi.
8. Oil Atomizing Pressure
Pada konfigurasi yang Anda berikan, tekanan atomisasi telah disetel di pabrik sekitar:
25 bar
Nilai tersebut dapat disesuaikan sesuai karakteristik bahan bakar dan kebutuhan burner.
Untuk heavy oil dengan viskositas lebih tinggi, konfigurasi tertentu dapat menggunakan tekanan hingga sekitar:
28 bar
Penyesuaian dilakukan melalui pressure regulator yang terdapat pada pump group.
Nilai tekanan aktual harus mengikuti datasheet dan instruction manual model burner yang digunakan. Jangan mengubah tekanan pompa hanya berdasarkan angka umum karena kebutuhan dapat berbeda menurut nozzle, fuel viscosity, kapasitas burner, dan temperatur oil.
9. Hubungan Tekanan dan Atomisasi
Tekanan bahan bakar memiliki hubungan langsung dengan proses atomisasi.
Secara sederhana:
Fuel Pressure → Nozzle → Atomization → Flame Quality
Tekanan yang tidak sesuai dapat menyebabkan perubahan pada:
- Spray pattern
- Droplet size
- Flame shape
- Ignition
- Combustion stability
- Fuel consumption
Karena itu, tekanan pompa harus diperiksa menggunakan pressure gauge pada saat commissioning.
10. Oil Preheater Unit
Oil preheater unit terdiri dari beberapa komponen penting, antara lain:
- Electrical heater
- Minimum oil temperature switch
- Maximum oil temperature switch
- Oil temperature regulator
Sistem tersebut menjaga temperatur bahan bakar agar berada pada kondisi yang sesuai sebelum oil dikirim menuju nozzle.
11. Electrical Oil Heater
Electrical heater digunakan untuk menaikkan temperatur heavy oil sebelum proses atomisasi.
Ketika temperatur oil masih rendah, viskositas dapat menjadi tinggi sehingga aliran dan atomisasi menjadi kurang optimal.
Dengan preheating:
Heavy Oil → Heating → Viscosity turun → Flow lebih baik → Atomization lebih baik
12. Minimum Oil Temperature Switch
Minimum oil temperature switch berfungsi memastikan temperatur bahan bakar telah mencapai kondisi minimum yang diperlukan.
Jika temperatur belum mencapai nilai yang sesuai, burner dapat menahan proses tertentu sampai kondisi fuel memenuhi persyaratan sistem.
Fungsi ini penting untuk mencegah burner melakukan pembakaran ketika heavy oil masih terlalu kental.
13. Maximum Oil Temperature Switch
Selain batas minimum, terdapat maximum oil temperature switch sebagai perlindungan terhadap temperatur bahan bakar yang terlalu tinggi.
Sistem ini membantu mencegah oil mengalami kondisi temperatur di luar batas operasi yang ditentukan.
Dengan demikian, sistem preheating bekerja dalam rentang temperatur yang dikontrol.
14. Oil Temperature Regulator
Oil temperature regulator digunakan untuk mengontrol temperatur bahan bakar selama proses preheating.
Pengaturan temperatur harus disesuaikan dengan:
- Fuel viscosity
- Fuel type
- Burner specification
- Nozzle requirement
- Fuel pressure
Burner Mengalami Flame Tidak Stabil
Misalnya sebuah heavy oil burner mengalami gejala:
Flame tidak stabil, asap meningkat dan burner beberapa kali mengalami flame failure.
Pemeriksaan dapat dilakukan secara sistematis.
Pemeriksaan 1 – Oil Temperature
Periksa temperatur oil sebelum nozzle.
Jika temperatur terlalu rendah, heavy oil dapat memiliki viskositas tinggi.
2 – Oil Filter
Periksa apakah filter tersumbat.
Filter yang kotor dapat menyebabkan fuel flow dan pressure tidak stabil.
3 – Pump Pressure
Periksa tekanan atomisasi.
Bandingkan dengan nilai yang ditentukan dalam manual burner.
4 – Nozzle
Periksa:
- Nozzle condition
- Spray pattern
- Nozzle cleanliness
- Nozzle specification
5 – Combustion Air
Periksa:
- Fan
- Air damper
- Servomotor
- Airflow
6 – Combustion Analysis
Lakukan pengukuran:
- O₂
- CO₂
- CO
- Smoke
- Flue gas temperature
Dengan pemeriksaan tersebut, teknisi dapat membedakan apakah masalah berasal dari fuel system, atomization, combustion air, atau kondisi boiler.
Heavy Oil Terlalu Dingin: Dampak terhadap Atomisasi dan Pembakaran
Pada sistem heavy oil burner, temperatur bahan bakar sebelum masuk ke nozzle merupakan salah satu parameter penting. Heavy oil memiliki viskositas yang relatif tinggi sehingga membutuhkan temperatur yang sesuai agar dapat mengalir dan diatomisasi dengan baik.
Apabila temperatur heavy oil terlalu rendah, viskositas bahan bakar dapat meningkat. Kondisi tersebut dapat memengaruhi aliran fuel, proses atomisasi nozzle, kestabilan flame, dan kualitas pembakaran.
Dampak Heavy Oil dengan Temperatur Terlalu Rendah
Heavy oil dengan temperatur rendah dapat menyebabkan beberapa kondisi berikut:
- Viskositas bahan bakar meningkat.
- Aliran bahan bakar menjadi kurang optimal.
- Proses atomisasi pada nozzle menurun.
- Ukuran droplet bahan bakar dapat menjadi lebih besar.
- Flame menjadi kurang stabil.
- Pencampuran fuel dan udara pembakaran menjadi kurang optimal.
- Pembakaran dapat menjadi tidak sempurna.
- Smoke atau emisi pembakaran dapat meningkat.
Gejala yang Perlu Diperhatikan
Beberapa gejala yang dapat muncul pada heavy oil burner antara lain:
- Burner sulit melakukan ignition.
- Flame tidak stabil.
- Spray pattern nozzle tidak optimal.
- Smoke meningkat.
- Pembakaran kurang sempurna.
- Fuel pressure tidak stabil.
- Nozzle lebih mudah mengalami fouling.
- Burner mengalami flame failure.
Komponen yang Perlu Diperiksa
Jika temperatur heavy oil sebelum nozzle terlalu rendah, pemeriksaan dapat dimulai dari beberapa komponen berikut.
Oil Preheater
Periksa apakah oil preheater mampu menaikkan temperatur fuel sesuai kebutuhan burner.
Temperature Regulator
Periksa pengaturan dan respons oil temperature regulator untuk memastikan temperatur bahan bakar berada pada kondisi yang sesuai.
Minimum Temperature Switch
Pastikan minimum oil temperature switch berfungsi dengan baik dan sesuai dengan setting yang ditentukan.
Oil Filter
Periksa kondisi filter. Filter yang kotor dapat menghambat aliran bahan bakar dan menyebabkan suplai fuel ke pump tidak optimal.
Fuel Piping
Periksa jalur fuel dari tank menuju burner. Pastikan tidak terdapat penyumbatan, kebocoran, atau kondisi instalasi yang menyebabkan penurunan temperatur bahan bakar secara berlebihan.
Fuel Pump
Periksa suction dan tekanan fuel pump. Viskositas fuel yang terlalu tinggi dapat memengaruhi kinerja pompa.
Nozzle
Periksa kondisi nozzle, termasuk kebersihan, ukuran, dan spray pattern.
Pentingnya Oil Preheater pada Heavy Oil Burner
Oil preheater berfungsi menjaga temperatur heavy oil agar berada pada kondisi yang sesuai untuk proses atomisasi.
Tujuannya bukan sekadar membuat fuel menjadi panas, tetapi mendapatkan viskositas yang sesuai dengan kebutuhan sistem pembakaran.
Temperatur fuel harus disesuaikan dengan jenis heavy oil, karakteristik nozzle, tekanan atomisasi, kapasitas burner, dan rekomendasi pabrikan.
Tekanan Pompa Tidak Sesuai
Misalnya tekanan pump tidak mencapai nilai yang diperlukan.
Beberapa kemungkinan penyebab:
- Oil filter tersumbat
- Fuel supply tidak mencukupi
- Pump mengalami wear
- Pressure regulator bermasalah
- Fuel terlalu kental
- Suction line mengalami hambatan
- Terdapat udara pada fuel line
Karena itu, penggantian pump tidak boleh langsung dilakukan sebelum sistem fuel diperiksa secara keseluruhan.
Mengapa Preheater Penting pada Heavy Oil Burner?
Pada light oil burner, sistem preheating biasanya tidak menjadi faktor utama seperti pada heavy oil.
Pada heavy oil burner, fuel temperature menjadi bagian penting dari combustion system.
Tujuannya bukan sekadar membuat bahan bakar panas, tetapi mendapatkan viscosity yang sesuai untuk nozzle dan atomization.
Karena itu, pengaturan preheater harus mempertimbangkan hubungan:
Fuel Type → Temperature → Viscosity → Pressure → Atomization → Combustion
Kesimpulan Studi Kasus
Sistem oil valve group, oil filter, high-pressure pump, pressure regulator, oil preheater, temperature switch, dan temperature regulator merupakan bagian penting dari heavy oil burner.
Pada konfigurasi yang diberikan, tekanan atomisasi berada pada sekitar 25 bar dan dapat disesuaikan pada konfigurasi tertentu hingga sekitar 28 bar untuk fuel dengan viskositas lebih tinggi. Namun, nilai aktual harus selalu mengacu pada spesifikasi model burner dan fuel yang digunakan.
Keberhasilan pembakaran heavy oil tidak hanya ditentukan oleh burner capacity. Faktor seperti oil temperature, fuel viscosity, pump pressure, nozzle condition, combustion air, dan boiler condition harus berada dalam kondisi yang sesuai.
Dengan commissioning dan combustion adjustment yang benar, sistem fuel dapat menghasilkan atomisasi yang lebih stabil, flame yang lebih baik, dan pembakaran yang lebih optimal.
PT Indira Mitra Boiler
Office: (021) 352 95874
WhatsApp: +62 813-8866-6204 (Ratman Bejo)
www.indiramitraboiler.co.id
www.burner.co.id
info@indira.co.id
idmratman@gmail.com
Workshop: Tangerang – Indonesia
https://www.youtube.com/@Bejoburnerindonesia
