JASA INSTALASI DAN SERVICE BURNER DI INDONESIA

JASA INSTALASI DAN SERVICE BURNER

Burner merupakan mesin penting buat proses pelaksanaan di berbagai pabrik industri di indonesia, dimana fungsi dasar dari burner adalah alat penghasil energi panas dari hasil pembekaran pencampuran bahan bakar gas/solar dengan angin yang di dukung oleh komponen dari pada burner, sperti kontrol box , pompa fuel, pemantik, sensor/Photocel, selonoid, Nozzle, motors electrik, dan komponen lain, adapun fungsi dari beberpa komponen burner akan kita jelaskan di artikel ini.

Jasa instalasi dan service burner

Kami perusahaan Indira  yang berlokasi di kawasan pergudangan laksana business park, kecamatan pakuhaji tangerang banten salah satu perushaan distributor boiler/burner industri juga menyedikan jasa instalasi burner, perbaikan burner, jasa service burner dan comissioning berner dengan mencakup semua merk, jenis, dan kapasitas burner yang ada, selain itu kami menyediakan komponen lengkap untuk maintenance burner serta memberi tenaga ahli (engineering burner/boiler) yang handal di bidangnya demi menjaga kualitas pekerjaan dan kenyamanan serta kepuasan pelanggan.

Beberapa Komponen Burner Industri dan Fungsinya

Burner industri terdiri dari berbagai komponen yang bekerja secara berurutan untuk menghasilkan pembakaran yang aman dan stabil. Setiap komponen memiliki fungsi berbeda, mulai dari mengatur urutan penyalaan, memasok bahan bakar, menghasilkan percikan api, hingga mendeteksi keberadaan flame.

Berikut beberapa komponen utama burner industri beserta fungsinya.

Control Box Burner

Control box burner merupakan pusat pengendali burner. Komponen ini mengatur proses start, operasi, dan penghentian burner secara otomatis.

Control box menjalankan beberapa fungsi, antara lain:

  • Menerima perintah start dari thermostat atau pressure switch
  • Menjalankan motor blower
  • Mengatur waktu pre-purge
  • Mengaktifkan ignition transformer
  • Membuka solenoid valve bahan bakar
  • Menerima sinyal dari flame sensor
  • Menghentikan burner apabila terjadi kegagalan flame
  • Mengaktifkan lockout ketika interlock tidak terpenuhi

Dengan demikian, control box tidak hanya bekerja sebagai tombol ON dan OFF. Komponen ini juga menjalankan urutan keselamatan sebelum serta selama proses pembakaran.

Fuel Pump

Fuel pump merupakan pompa bahan bakar yang umumnya digunakan pada oil burner berbahan bakar solar, kerosin, atau fuel oil.

Pompa ini berfungsi untuk:

  • Menghisap bahan bakar dari tangki
  • Mengalirkan bahan bakar menuju nozzle
  • Menghasilkan tekanan sesuai kebutuhan burner
  • Menjaga aliran bahan bakar tetap stabil
  • Mengembalikan kelebihan bahan bakar melalui return line

Tekanan fuel pump harus sesuai dengan kapasitas dan spesifikasi nozzle. Apabila tekanan terlalu rendah, atomisasi bahan bakar menjadi kurang halus. Akibatnya, burner dapat menghasilkan asap hitam atau mengalami kegagalan penyalaan.

Ignition Electrode

Ignition electrode atau elektroda pemantik berfungsi menghasilkan percikan api bertegangan tinggi. Percikan tersebut digunakan untuk menyalakan campuran bahan bakar dan udara di bagian combustion head.

Electrode memperoleh tegangan dari ignition transformer. Selanjutnya, percikan terbentuk di antara kedua ujung electrode.

Posisi serta jarak electrode harus mengikuti setting pabrikan. Jika posisinya tidak tepat, burner dapat mengalami:

  • Sulit menyala
  • Flame terlambat terbentuk
  • Percikan mengenai body burner
  • Ignition failure
  • Control box masuk ke kondisi lockout

Selain itu, ceramic insulator harus dijaga tetap bersih dan tidak retak.

Flame Sensor atau Photocell

Photocell burner merupakan sensor yang mendeteksi cahaya flame pada oil burner. Setelah flame terbentuk, photocell mengirimkan sinyal ke control box.

Apabila sinyal flame memenuhi batas yang ditentukan, control box mempertahankan solenoid valve dalam kondisi terbuka. Sebaliknya, jika flame tidak terbentuk atau padam saat burner beroperasi, control box akan menutup aliran bahan bakar dan mengaktifkan lockout.

Photocell yang kotor dapat menyebabkan sinyal flame menjadi lemah. Oleh karena itu, permukaan sensor harus dibersihkan secara berkala.

Pada gas burner, deteksi flame dapat menggunakan ionization probe atau UV flame detector, tergantung desain burner.

Solenoid Valve

Solenoid valve burner berfungsi membuka dan menutup aliran bahan bakar berdasarkan perintah dari control box.

Ketika burner mendapat izin untuk menyala, control box memberikan tegangan ke coil solenoid. Kemudian, valve terbuka dan bahan bakar mengalir menuju nozzle atau combustion head.

Apabila terjadi gangguan, suplai listrik ke solenoid dihentikan sehingga valve menutup secara otomatis. Gangguan tersebut dapat berupa:

  • Flame failure
  • Tekanan udara tidak mencukupi
  • Tekanan gas terlalu rendah
  • Tekanan gas terlalu tinggi
  • Temperatur atau tekanan boiler melewati batas
  • Emergency stop diaktifkan

Pada gas burner tertentu, digunakan dua safety shut-off valve secara seri untuk meningkatkan keamanan sistem bahan bakar.

Oil Nozzle

Oil nozzle berfungsi mengubah bahan bakar cair bertekanan menjadi butiran yang sangat halus atau kabut. Proses ini disebut atomisasi.

Nozzle tidak digunakan untuk menampung bahan bakar. Sebaliknya, fuel oil mengalir melewati lubang kecil di dalam nozzle dan keluar dalam bentuk pola semprotan tertentu.

Pemilihan nozzle harus mempertimbangkan:

  • Kapasitas dalam GPH atau kg/jam
  • Sudut semprotan
  • Pola semprotan
  • Tekanan fuel pump
  • Jenis bahan bakar
  • Bentuk combustion head
  • Ukuran ruang bakar

Nozzle yang tersumbat atau aus dapat menyebabkan flame tidak stabil, pembakaran tidak sempurna, konsumsi bahan bakar meningkat, serta munculnya asap hitam.

Motor Listrik

Motor listrik burner menggerakkan fan atau blower yang memasok udara pembakaran. Pada beberapa jenis oil burner, motor yang sama juga menggerakkan fuel pump melalui coupling.

Motor harus memiliki tegangan, daya, frekuensi, putaran, dan arah rotasi yang sesuai. Apabila arah putaran salah, blower tidak dapat menghasilkan tekanan udara yang dibutuhkan.

Pemeriksaan motor meliputi:

  • Arus dan tegangan
  • Arah putaran
  • Kondisi bearing
  • Temperatur motor
  • Kondisi coupling
  • Kebersihan fan
  • Overload protection
  • Tahanan isolasi winding

Blower Burner

Blower burner memasok udara ke combustion head. Udara tersebut kemudian bercampur dengan bahan bakar untuk menghasilkan pembakaran.

Jumlah udara diatur menggunakan air damper. Sementara itu, burner modulating dapat menggunakan servomotor untuk menyesuaikan posisi damper dengan kapasitas bahan bakar.

Udara terlalu sedikit dapat menyebabkan asap hitam dan kadar karbon monoksida meningkat. Sebaliknya, udara terlalu banyak dapat meningkatkan excess air sehingga lebih banyak panas terbuang melalui cerobong.

Flexible Oil Hose

Flexible oil hose merupakan selang fleksibel yang menghubungkan pipa bahan bakar tetap dengan fuel pump pada burner. Komponen ini mempermudah burner ketika dibuka atau digeser saat pemeliharaan.

Flexible hose harus sesuai dengan:

  • Jenis bahan bakar
  • Tekanan kerja
  • Temperatur operasi
  • Ukuran sambungan
  • Panjang pemasangan
  • Standar serta rating produk

Selang tidak boleh terpelintir, tertekuk tajam, menyentuh permukaan panas, atau mengalami retak.

Untuk gas burner, gunakan flexible connector yang secara khusus memiliki rating dan persetujuan untuk layanan gas. Flexible oil hose biasa tidak boleh digunakan untuk menyalurkan gas.

Fuel Filter

Fuel filter menyaring kotoran, karat, kerak, air, dan partikel lain dari bahan bakar sebelum masuk ke fuel pump serta nozzle.

Filter membantu mencegah:

  • Penyumbatan nozzle
  • Kerusakan fuel pump
  • Penurunan tekanan bahan bakar
  • Flame tidak stabil
  • Kegagalan ignition
  • Burner lockout

Filter yang terlalu kotor dapat menghambat aliran bahan bakar. Oleh sebab itu, element filter harus dibersihkan atau diganti sesuai kondisi dan jadwal pemeliharaan.

Untuk sistem gas, komponen penyaring disebut gas filter. Filter tersebut dipasang pada gas train sebelum regulator atau safety shut-off valve sesuai desain sistem.

Kesimpulan

Control box, fuel pump, ignition electrode, photocell, solenoid valve, nozzle, motor, blower, flexible hose, dan fuel filter merupakan komponen penting pada burner industri.

Seluruh komponen tersebut harus bekerja dalam urutan yang benar. Apabila salah satu komponen mengalami gangguan, burner dapat sulit menyala, menghasilkan pembakaran tidak sempurna, atau masuk ke kondisi lockout.

Oleh karena itu, pemeriksaan burner sebaiknya dilakukan secara menyeluruh. Jangan langsung mengganti control box sebelum kondisi bahan bakar, udara, ignition, flame sensor, dan interlock diperiksa.

Catatan keselamatan: Jangan menekan tombol reset secara berulang ketika burner mengalami lockout. Bahan bakar yang tidak terbakar dapat terkumpul di ruang bakar dan meningkatkan risiko ledakan saat proses ignition berikutnya.

JASA SERVICE BURNER

Panduan Tindakan awal troubleshooting pada burner

Burner mengalami trobel bahkan berhenti bekerja, berikut beberapa hal yang harus diperiksa sebelum membuka unit:

• Jika unit Anda memiliki sakelar daya terpisah, periksa apakah itu dalam posisi “on”. Ini mungkin tampak sangat sederhana, tetapi sering kali terabaikan.
• Periksa apakah ada pemutus arus yang jatuh dan / atau sekring putus. Jika sekring putus atau pemutus sirkuit putus saat unit menyala, matikan dan hubungi profesional.
• Jika ada tombol reset, tunggu setengah jam untuk memastikan motor sudah dingin sebelum menekannya. Ulangi ini tiga kali jika perlu. (Tombol RESET harus ditandai dengan jelas dan berada di dekat rumah motor.)
• Periksa pengaturan termostat. Naikkan 5 derajat untuk melihat apakah unit menyala.
• Periksa pasokan bahan bakar. Jika Anda memiliki tungku gas, pastikan katup gas terbuka dan lampu pilot menyala. Jika Anda memiliki tungku minyak, periksa level oli.


Service perbaikan Burner Oil & Gas

• Periksa semua kontrol keamanan burner
• Bersihkan rakitan nosel dan ganti nosel
• Bersihkan atau ganti filter bahan bakar dan atau saringan
• Bersihkan dan sesuaikan sistem pengapian
• Bersihkan keseluruhan Body Burner
• Periksa dan vakum pipa asap ke cerobong asap
• Periksa dan alat pemanas vakum sesuai kebutuhan
• Lumasi semua motor dan rakitan bantalan
• Periksa semua kabel secara visual
• Periksa komponen/ Part Burner
• Bersihkan dan periksa jalur pemasukan udara pembakaran
• Setting dan perbaikan seluruh komponen
• Atau Hubungi tenaga ahli dan serhakan pada teknisi mahir bidangnya/ perusahaan penyedian jasa seting/service burner.

Berikut artikel terkait mengenai jasa instalasi dan service burner, mudah2an hartikel bisa bermanfaat dan membantu anda, atau jika ada hal yang ingin di tanyakan atau kebutuhan kunjungan teknisi ahli bisa hubungi kontak marketing kami di bawah ini.

Beberapa Komponen Burner Industri dan Fungsinya

Burner industri terdiri dari komponen mekanis, elektris, dan sistem keselamatan yang bekerja berdasarkan urutan operasi tertentu. Setiap komponen harus berfungsi dengan baik agar proses penyalaan, pembentukan api, pengaturan kapasitas, serta penghentian burner berlangsung aman.

Berikut beberapa komponen utama pada burner industri.

Control Box Burner

Control box burner merupakan pusat pengendali urutan operasi burner. Komponen ini menerima sinyal permintaan panas dari thermostat, pressure switch, temperature controller, atau PLC.

Selanjutnya, control box menjalankan urutan kerja seperti:

  1. Memeriksa kondisi interlock.
  2. Menjalankan motor blower.
  3. Melakukan proses pre-purge.
  4. Mengaktifkan ignition transformer.
  5. Membuka solenoid valve bahan bakar.
  6. Memeriksa keberadaan flame.
  7. Mempertahankan burner dalam kondisi operasi.
  8. Menghentikan suplai bahan bakar jika terjadi gangguan.

Jika api tidak terbentuk dalam waktu aman atau hilang saat burner beroperasi, control box akan menutup solenoid valve dan masuk ke kondisi lockout.

Fuel Pump

Fuel pump digunakan pada oil burner untuk mengalirkan bahan bakar dari tangki menuju nozzle. Pompa juga menghasilkan tekanan yang dibutuhkan agar bahan bakar dapat diatomisasi dengan baik.

Fungsi fuel pump meliputi:

  • Menghisap bahan bakar dari tangki
  • Menghasilkan tekanan menuju nozzle
  • Menjaga aliran bahan bakar tetap stabil
  • Mengembalikan kelebihan bahan bakar melalui return line
  • Mendukung pengaturan kapasitas burner

Tekanan pompa harus disesuaikan dengan nozzle dan kapasitas burner. Tekanan terlalu rendah dapat menghasilkan pengabutan yang kasar. Sebaliknya, tekanan terlalu tinggi dapat meningkatkan kapasitas bahan bakar dan mengubah karakter flame.

Ignition Electrode

Ignition electrode atau elektroda pemantik menghasilkan loncatan bunga api bertegangan tinggi. Percikan tersebut menyalakan campuran bahan bakar dan udara di combustion head.

Jarak antarujung electrode, posisi terhadap nozzle, serta jarak dari diffuser harus mengikuti setting pabrikan. Posisi yang tidak tepat dapat menyebabkan:

  • Burner sulit menyala
  • Percikan api mengenai body
  • Flame terlambat terbentuk
  • Control box mengalami lockout
  • Ujung electrode cepat rusak

Electrode bekerja bersama ignition transformer atau electronic igniter sebagai sumber tegangan tinggi.

Flame Sensor atau Photocell

Photocell burner mendeteksi keberadaan flame pada oil burner. Sensor membaca intensitas cahaya api dan mengirimkan sinyal ke control box.

Apabila flame terbentuk dengan benar, control box mempertahankan solenoid valve dalam kondisi terbuka. Namun, jika flame tidak terbentuk atau padam saat burner beroperasi, control box menghentikan suplai bahan bakar.

Photocell yang kotor dapat menghasilkan sinyal lemah. Selain itu, posisi sensor yang tidak tepat dapat membuat control box gagal mendeteksi api meskipun pembakaran telah terjadi.

Gas burner dapat menggunakan sistem deteksi lain, seperti ionization probe atau UV flame detector, sesuai desainnya.

Solenoid Valve

Solenoid valve berfungsi membuka dan menutup aliran bahan bakar berdasarkan perintah dari control box. Ketika burner belum mendapat izin menyala, solenoid valve harus berada dalam kondisi tertutup.

Pada saat ignition sequence berlangsung, control box memberikan tegangan ke coil sehingga valve terbuka. Apabila terjadi flame failure, low-air pressure, high-temperature trip, atau gangguan lainnya, suplai listrik dihentikan dan valve kembali menutup.

Gas burner berkapasitas tertentu dapat menggunakan dua safety shut-off valve secara seri. Sistem tersebut juga dapat dilengkapi valve proving atau leakage control.

Oil Nozzle

Oil nozzle tidak berfungsi sebagai tempat penyimpanan bahan bakar. Komponen ini mengubah fuel oil bertekanan menjadi butiran halus atau kabut sebelum masuk ke ruang pembakaran.

Nozzle ditentukan berdasarkan:

  • Kapasitas dalam GPH atau kg/jam
  • Sudut semprotan
  • Pola semprotan
  • Tekanan pompa
  • Viskositas bahan bakar
  • Bentuk combustion head
  • Dimensi ruang bakar

Nozzle yang tersumbat atau aus dapat menghasilkan flame tidak stabil, asap hitam, pembakaran tidak sempurna, dan konsumsi bahan bakar lebih tinggi.

Motor Listrik

Motor listrik burner menggerakkan fan atau blower untuk memasok udara pembakaran. Pada beberapa oil burner, motor juga menggerakkan fuel pump melalui coupling.

Motor harus memiliki daya, putaran, tegangan, frekuensi, serta arah rotasi yang sesuai. Jika arah putaran salah, blower tidak akan menghasilkan tekanan udara yang dibutuhkan.

Pemeriksaan motor mencakup:

  • Tegangan dan arus
  • Kondisi bearing
  • Arah putaran
  • Temperatur motor
  • Kebersihan fan
  • Kondisi coupling
  • Overload protection
  • Nilai tahanan isolasi

Blower dan Fan

Blower memasok udara yang dibutuhkan untuk proses pembakaran. Jumlah udara diatur melalui air damper atau servomotor agar sesuai dengan jumlah bahan bakar.

Udara terlalu sedikit dapat menghasilkan:

  • Asap hitam
  • Nilai CO tinggi
  • Pembakaran tidak sempurna
  • Deposit pada ruang bakar

Sebaliknya, udara terlalu banyak meningkatkan excess air dan membuang lebih banyak panas melalui cerobong.

Flexible Oil Hose

Flexible oil hose menghubungkan jalur bahan bakar tetap dengan oil pump pada burner. Selang fleksibel membantu saat burner dibuka atau digeser untuk pemeliharaan.

Flexible hose harus sesuai dengan:

  • Jenis bahan bakar
  • Tekanan kerja
  • Temperatur
  • Ukuran koneksi
  • Panjang yang dibutuhkan
  • Standar produk

Selang tidak boleh terpelintir, tertekuk tajam, bergesekan dengan permukaan panas, atau mengalami retak. Untuk jalur gas, gunakan flexible connector yang memang memiliki rating dan persetujuan khusus untuk layanan gas. Flexible oil hose biasa tidak boleh digunakan untuk gas.

Fuel Filter

Fuel filter menyaring karat, kotoran, kerak, dan partikel dari bahan bakar sebelum masuk ke fuel pump serta nozzle. Komponen ini membantu melindungi pompa dan mencegah penyumbatan nozzle.

Filter yang terlalu kotor dapat menghambat aliran bahan bakar. Akibatnya, tekanan pompa turun dan flame menjadi tidak stabil.

Filter harus dipilih berdasarkan:

  • Jenis bahan bakar
  • Kapasitas aliran
  • Ukuran mesh atau tingkat filtrasi
  • Tekanan kerja
  • Ukuran sambungan
  • Kemudahan pembersihan

Pada sistem heavy oil, filter juga harus sesuai dengan viskositas dan temperatur bahan bakar.

Air Pressure Switch

Air pressure switch memastikan blower menghasilkan tekanan udara yang cukup sebelum bahan bakar dibuka. Apabila tekanan udara tidak tercapai, control box tidak melanjutkan ignition sequence.

Komponen ini menjadi bagian penting dari sistem interlock karena pembukaan bahan bakar tanpa udara yang memadai dapat menghasilkan pembakaran tidak sempurna atau penumpukan bahan bakar.

Gas Pressure Switch

Pada gas burner, pressure switch digunakan untuk memantau tekanan gas. Sistem dapat mempunyai:

  • Minimum gas pressure switch
  • Maximum gas pressure switch
  • Valve proving pressure switch

Apabila tekanan gas berada di luar rentang aman, control box mencegah burner menyala atau menghentikan operasi.

Air Damper dan Servomotor

Air damper mengatur jumlah udara yang masuk ke burner. Pada burner modulating, servomotor menggerakkan air damper berdasarkan kebutuhan panas.

Sistem linkage atau electronic cam mengatur perbandingan bahan bakar dan udara pada setiap posisi beban. Setting yang tepat membantu menghasilkan pembakaran stabil dari low-fire hingga high-fire.

Urutan Kerja Komponen Burner

Secara umum, burner bekerja melalui urutan berikut:

  1. Thermostat atau pressure switch memberikan permintaan panas.
  2. Control box memeriksa seluruh interlock.
  3. Motor blower mulai berputar.
  4. Air pressure switch memastikan tekanan udara tersedia.
  5. Burner menjalankan pre-purge untuk membersihkan ruang bakar.
  6. Ignition transformer mengaktifkan electrode.
  7. Solenoid valve membuka aliran bahan bakar.
  8. Nozzle menyemprotkan bahan bakar pada oil burner.
  9. Percikan electrode menyalakan campuran bahan bakar dan udara.
  10. Photocell atau flame sensor mendeteksi api.
  11. Control box mempertahankan burner dalam kondisi operasi.
  12. Kapasitas burner diatur sesuai beban.
  13. Ketika set point tercapai, solenoid valve menutup.
  14. Burner berhenti atau menjalankan post-purge sesuai desain.

Jika salah satu interlock tidak terpenuhi, burner tidak boleh melanjutkan proses penyalaan.

Studi Kasus Burner Industri Sering Lockout

Sebuah pabrik makanan menggunakan oil burner two-stage pada steam boiler. Dalam beberapa minggu terakhir, burner sering mengalami lockout ketika melakukan penyalaan awal.

Operator biasanya menekan tombol reset sehingga burner dapat mencoba menyala kembali. Namun, gangguan kembali terjadi setelah beberapa kali start. Kondisi tersebut mulai mengganggu suplai steam untuk proses produksi.

Gejala yang Ditemukan

Beberapa gejala yang dicatat operator adalah:

  • Motor blower dapat berputar normal.
  • Pre-purge berlangsung sampai selesai.
  • Percikan ignition terdengar.
  • Flame sempat terbentuk lalu padam.
  • Control box masuk ke kondisi lockout.
  • Asap hitam muncul ketika burner berhasil menyala.
  • Tekanan fuel pump tidak stabil.
  • Photocell terlihat kotor.
  • Filter bahan bakar belum lama dibersihkan.

Berdasarkan urutan tersebut, teknisi melakukan pemeriksaan secara sistematis tanpa langsung mengganti control box.

Pemeriksaan Control Box

Control box diperiksa untuk mengetahui tahap ketika lockout terjadi. Indikator menunjukkan bahwa gangguan muncul setelah solenoid valve membuka dan flame seharusnya terbentuk.

Hal ini menunjukkan bahwa motor serta proses pre-purge telah berjalan. Oleh karena itu, pemeriksaan dilanjutkan pada fuel supply, ignition electrode, nozzle, dan photocell.

Control box tidak langsung dinyatakan rusak karena lockout merupakan fungsi keselamatan yang dapat dipicu oleh gangguan komponen lain.

Pemeriksaan Fuel Filter

Fuel filter dibuka setelah jalur bahan bakar diisolasi. Di dalam filter ditemukan endapan dan partikel dari tangki penyimpanan solar.

Kotoran tersebut membatasi aliran menuju fuel pump. Akibatnya, tekanan pompa turun saat solenoid valve membuka.

Filter kemudian dibersihkan dan element yang sudah rusak diganti. Tangki bahan bakar juga diperiksa untuk mengetahui keberadaan air serta sedimentasi.

Pemeriksaan Fuel Pump

Tekanan fuel pump diukur menggunakan pressure gauge. Hasil awal menunjukkan tekanan berfluktuasi dan belum mencapai nilai yang dibutuhkan nozzle.

Setelah filter dibersihkan, tekanan mulai meningkat. Namun, teknisi tetap memeriksa:

  • Kondisi coupling
  • Regulating valve
  • Suction line
  • Return line
  • Kebocoran udara
  • Flexible hose
  • Rotasi motor

Salah satu flexible hose ditemukan mulai retak dan memungkinkan udara masuk ke sisi suction. Selang tersebut kemudian diganti menggunakan hose dengan rating yang sesuai.

Pemeriksaan Oil Nozzle

Oil nozzle dilepas dan ditemukan deposit pada lubang semprotan. Kondisi tersebut menyebabkan pola semprotan tidak merata dan ukuran droplet menjadi lebih besar.

Nozzle tidak dibersihkan menggunakan kawat karena tindakan tersebut dapat merusak orifice. Teknisi menggantinya menggunakan nozzle baru dengan kapasitas, spray angle, dan spray pattern yang sama.

Penggunaan nozzle berbeda dapat mengubah kapasitas burner dan bentuk flame. Oleh sebab itu, kode nozzle lama diverifikasi sebelum penggantian.

Pemeriksaan Ignition Electrode

Jarak serta posisi ignition electrode diperiksa menggunakan ukuran setting burner. Salah satu ujung electrode berada terlalu dekat dengan diffuser.

Kondisi tersebut membuat percikan tidak muncul pada posisi campuran bahan bakar dan udara yang ideal. Teknisi kemudian mengatur kembali:

  • Jarak antar-electrode
  • Jarak electrode terhadap nozzle
  • Posisi terhadap diffuser
  • Kondisi ceramic insulator
  • Kabel tegangan tinggi

Setelah setting diperbaiki, percikan terlihat lebih kuat dan stabil.

Pemeriksaan Photocell

Permukaan photocell tertutup debu serta residu pembakaran. Akibatnya, intensitas cahaya flame yang diterima sensor menjadi lemah.

Photocell dibersihkan menggunakan kain lembut. Selanjutnya, posisi pemasangannya diperiksa agar sensor memiliki pandangan langsung menuju flame tanpa terkena cahaya luar.

Sinyal flame kemudian diukur sesuai metode pada manual control box. Hasil pengukuran menunjukkan peningkatan setelah sensor dibersihkan.

Pemeriksaan Solenoid Valve

Solenoid valve diperiksa untuk memastikan coil menerima tegangan dan valve dapat membuka dengan baik. Teknisi juga memeriksa kemungkinan kebocoran internal serta kondisi valve seat.

Tidak ditemukan gangguan besar pada solenoid valve. Meskipun demikian, terminal listrik dikencangkan dan kondisi cable insulation diperiksa.

Pengaturan Udara Pembakaran

Setelah masalah fuel supply dan ignition selesai, burner dapat menyala. Namun, warna asap masih terlihat gelap.

Air damper kemudian disetel dan pembakaran diuji menggunakan combustion analyzer. Pengaturan dilakukan berdasarkan nilai O₂, CO, CO₂, temperatur gas buang, draft, dan smoke number.

Teknisi tidak hanya mengandalkan warna flame karena bentuk serta warna api dapat dipengaruhi oleh desain combustion head dan ruang bakar.

Hasil Setelah Perbaikan

Setelah filter dibersihkan, flexible hose diganti, nozzle diperbarui, electrode disetel, dan photocell dibersihkan, burner berhasil melakukan start berulang kali tanpa lockout.

Hasil perbaikan meliputi:

  • Tekanan bahan bakar menjadi stabil.
  • Nozzle menghasilkan atomisasi lebih baik.
  • Percikan ignition berada pada posisi yang tepat.
  • Photocell dapat mendeteksi flame.
  • Control box tidak lagi mengalami lockout berulang.
  • Asap hitam berkurang setelah air damper disetel.
  • Burner dapat berpindah dari low-fire ke high-fire dengan stabil.
  • Suplai steam untuk proses kembali normal.

Penyebab Utama Gangguan

Berdasarkan pemeriksaan, lockout tidak disebabkan oleh satu komponen saja. Beberapa masalah terjadi secara bersamaan:

  1. Fuel filter tersumbat.
  2. Flexible hose mengalami retak.
  3. Tekanan fuel pump tidak stabil.
  4. Oil nozzle kotor.
  5. Posisi ignition electrode berubah.
  6. Photocell tertutup residu.
  7. Air damper belum disetel dengan baik.

Kasus tersebut menunjukkan bahwa mengganti control box belum tentu menyelesaikan masalah. Control box justru menjalankan fungsi keselamatannya dengan menghentikan burner ketika flame tidak stabil.

Tindakan Pencegahan

Untuk mencegah gangguan yang sama, pabrik menerapkan beberapa tindakan:

  • Membersihkan fuel filter secara berkala.
  • Memeriksa tekanan fuel pump.
  • Memeriksa flexible hose dari retak dan kebocoran.
  • Mengganti nozzle berdasarkan kondisi dan jam operasi.
  • Membersihkan photocell.
  • Memeriksa posisi ignition electrode.
  • Menguji solenoid valve.
  • Membersihkan blower dan combustion head.
  • Memeriksa air pressure switch.
  • Melakukan combustion tuning.
  • Mencatat kode lockout.
  • Menghindari reset burner secara berulang tanpa pemeriksaan.

Kesimpulan Studi Kasus

Komponen burner industri bekerja dalam satu urutan yang dikendalikan oleh control box. Gangguan pada filter, fuel pump, nozzle, electrode, photocell, solenoid valve, motor, atau air pressure switch dapat menyebabkan burner gagal menyala.

Pada studi kasus ini, lockout terjadi karena kombinasi aliran bahan bakar yang terganggu, atomisasi kurang baik, posisi electrode tidak tepat, dan sinyal photocell lemah. Setelah seluruh komponen diperiksa serta disetel, burner dapat kembali beroperasi dengan stabil.

Catatan keselamatan: Jangan menekan tombol reset berulang kali ketika burner mengalami lockout. Bahan bakar yang tidak terbakar dapat terkumpul di ruang bakar dan menimbulkan risiko ledakan saat ignition berikutnya. Pemeriksaan burner harus dilakukan oleh teknisi yang kompeten sesuai manual produsen.

Workshop
Kawasan Pergudangan Laksana Business Park, Jalan Laksana 6 Blok F 09, Desa laksana Kec. Pakuhaji, Kab. Tangerang, Banten- 15570

PT Indira Mitra Boiler
Ratman Bejo
☎️081388666204

My Website
https://indira.co.id

PT Indira Mitra Boiler


https://hargaboiler.co.id

HERO IMB

Email: info@indira.co.id
Email: idmratman@gmail.com

https://www.youtube.com/@Ratman_Bejo/videos

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top